Menjadi Pintar Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Terorisme

632
https://www.goodnewsfromindonesia.id

oleh: Rizka Nurul Amanah
(Content Manager Ruang Ngobrol)

Teroris memang menjadi sosok menakutkan. Mereka yang terlibat dalam jaringan atau pernah bergabung terhadap kelompok teror dengan mudah akan menyandang status teroris. Tak jarang juga kita mendengar bahwa mereka adalah kumpulan orang bodoh, orang jahat, orang yang pemikirannya salah atau bahkan korban cuci otak.

Tapi, tahukah kamu bahwa mereka jadi teroris karena salah gaul? Kisah ini dialami oleh seorang perempuan umur 21 tahun yang pernah menjadi bagian kelompok teror negara islam Irak dan Suriah atau ISIS, sebut saja Nur. Karena itu, ia tak bisa lulus dari sekolah menengah atas dan baru menyelesaikan paket C tahun lalu.

Padahal Nur pernah menjadi murid berprestasi. Sepanjang ia bersekolah, nilai Ujian Nur tak pernah kurang dari 70. Sejak SD, ia terbiasa mengikuti berbagai les private mulai dari les renang, les mata pelajaran hingga les piano.

Namun pada tahun 2014 lalu, ia menemukan cerita tentang ISIS di halaman facebook. Rasa penasaran membawanya mencari tahu kelompok yang berpusat di Raqqa, Suriah tersebut. Ia menemukan kampanye kehidupan di wilayah ISIS yang damai, hukum islam yang ditegakan dan jaminan sosial yang baik. Nur yang kesepian itu membayangkan bahwa mungkin ia tak akan lagi sendiri kalau ada di wilayah yang seperti zaman Nabi. Belum lagi menurutnya, Indonesia terlalu banyak masalah seperti yang dilihatnya di berita-berita televisi.

Nur merengek kepada orang tuanya agar mereka bisa pindah ke wilayah ISIS begitu ayahnya pulang kantor. Ayahnya tak menghiraukannya, begitupula dengan ibunya. Ia kemudian mengajak kakaknya dan mendapat respon yang sama. Nur tak menyerah, ia mendekati pamannya yang baru saja hijrah. Pamannya setuju dengan apa yang disampaikan Nur. Mereka berdua sepakat merayu ibu dan ayah Nur untuk melancarkan keinginan mereka.

Sekian kali Nur meminta, ayahnya sebagai penentu keputusan tak juga bergeming. Nur pergi dari rumah sambil meninggalkan sebuah surat. Ia mengatakan bahwa ia akan berusaha sendiri pergi ke Suriah. Apalagi menurutnya, seorang anak umur 12 tahun sudah berhasil pergi ke Suriah sendirian, ia malu. Melihat anaknya yang keras kepala, ayah Nur kemudian berkata, “Oke, Ayah akan cuti. Kita kesana, tapi kalau gak sesuai, kita pulang lagi ya.” Ujar ayahnya.

Mereka memboyong 26 orang ke Turki untuk kemudian menyebrang ke perbatasan Suriah pada April 2017.Uang tak sedikit dibawa sebagai perbekalah mengingat posisi ayah Nur yang bukan orang sembarangan. Keluarga itu juga berhasil menjual rumah mereka yang lain.

Selama 4 bulan lebih di wilayah ISIS saja, Nur mendapatkan kebohongan atas kampanye ISIS. Nur ingin pulang, tapi ia tak sanggup mengatakannya karena rasa bersalah membawa keluarganya sampai Suriah. Belum lagi 8 orang telah dideportasi ketika di Turki dan laki-laki semua dipenjara ISIS. Satu tahun menunggu, Nur akhirnya pulang ke Indonesia atas bantuan pemerintah.

Terjebaknya Nur dan keluarga dalam jeratan ISIS bukan karena ia bodoh atau pintar. Namun ia hanya salah gaul dan bertemu dengan orang yang tidak semestinya. Selain itu, pendidikan sering kali mendikte, bukan mendorong ke kebiasaan inklusif, terbuka dan pentingnya tabayyun. Ini yang kemudian Nur lewatkan sehingga ia percaya sepenuhnya terhadap kampanye-kampanye ISIS.

Faktor lainnya adalah karena kepintaran Nur tidak beriringan dengan bonding yang baik dalam kelurga Nur. Kakak Nur pernah bersekolah di Malaysia sehingga baru bertemu ketika liburan tiba. Ayah Nur merupakan pimpinan di sebuah lembaga negara di daerah. Sedangkan ibunya memiliki sekolah PAUD yang membuatnya jarang bertemu dengan anak-anaknya sebelum petang. Adik Nur pun masih terlalu kecil untuk mendengar keluh kesah dan kebosanannya mengingat umur yang terpaut 8 tahun jauhnya.

“Terorisme bukanlah permasalah intelegensia seseorang. Namun justru lebih kepada masalah sosial masyarakat yang berdampak kepada perubahan perilaku dan pemikiran. Kita bisa melakukan pencegahan dini dengan sangat mudah yaitu melalui memperkuat hubungan sosial antar individu. Selain itu, kebiasaan penerapan pemikiran inklusif juga sangat penting agar lebih terbuka menghadapi orang yang berbeda sehingga tidak mudah terhasut provokasi dan ujaran kebencian”.