Menjadi Pahlawan di Era Digital ?

278
Menjadi Pahlawan di Era Digital ?
Photo by Pim Chu on Unsplash

Seorang pahlawan adalah mereka yang pantang mundur apapun rintangannya, melawan dengan gagah berani demi membela kebenaran atau suatu hal yang begitu berarti baginya. Adapun hal berarti tersebut, bisa jadi sebuah negara, agama, kelompok, maupun antar rukun tetangga.

Bicara tentang pahlawan, pada tanggal 10 November 1945 adalah momen bersejarah bagi bangsa ini karena pada saat itu terjadi pertempuran di Surabaya antara pasukan kemerdekaan Indonesia melawan tentara Inggris. Ketika itu, pertempuran terjadi selama 3 minggu berturut-berturut sehingga dinamai Pertempuran Surabaya. Banyak pengorbanan yang telah terjadi oleh pasukan kemerdekaan Indonesia untuk melindungi Surabaya. Banyak orang tewas dalam pertempuran itu, terutama dari pasukan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 pula Indonesia masih belum sepenuhnya berdiri sendiri. Karena, meskipun tentara Jepang telah kalah, tentara Inggris datang ke Jakarta dan berhenti di Surabaya pada tanggal 25 September 1945 guna melucuti para tentara Jepang dan memulangkan para tawanan sebelumnya serta menyerahkan Indonesia kepada pemerintahan Belanda.

Hal ini tentunya memicu kemarahan warga Surabaya. Karena, mereka merasa bahwa Belanda telah menyepelekan kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih. Sehingga pada tanggal 27 Oktober 1945 di Hotel Yamato, Surabaya, warga Surabaya yang bernama Hariyono dan Koesno Wibowo naik ke atas hotel dan merobek bendera Belanda hingga tersisa warna merah dan putih, yang melambangkan bendera Indonesia.

Mengetahui situasi yang mulai ricuh dan tidak kondusif kian berjalannya waktu, Mayor Jenderal Robert Mansergh mewakili A.W.S. Mallaby, mengeluarkan tuntutan yang menyatakan bahwa semua pemimpin dan orang Indonesia bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya pada tempat yang ditentukan dan meminta agar rakyat Indonesia menyerah dengan mengangkat tangan ke atas dengan batas pukul 06.00 pada 10 November 1945. Dari peringatan tersebut, terjadilah pertempuran yang berlangsung selama 3 minggu lamanya dengan kerugian berat.

Namun, saat ini tentunya perang seperti itu tidak akan terjadi kembali. Karena, pada era digital ini Indonesia telah merdeka berkat perjuangan para pahlawan terdahulu. Maka kini, tugas kitalah agar menjadi pahlawan pada era digital dan masa pandemi dan mengenal siapa saja yang telah menjadi pahlawannya.

Baca juga: Resolusi Jihad; Santri dan Pahlawan

Lalu apa sih sebenarnya arti pahlawan buat kita? Sekadar orang yang mengorbankan nyawanya demi membela negara melawan penjajah kah? Sekedar orang yang berjasa bagi hidup kita kah? Atau… yang lainnya. Jika ya, mungkin kita perlu menyesuaikannya dengan definisi pahlawan masa kini.

Pahlawan di era digital seperti sekarang ini bukan hanya sekadar orang yang membela negara untuk merebut kemerdekaan. Lebih dari itu, arti pahlwan masa kini, jauh lebih luas.

Pasalnya, bagi generasi masa kini permasalahan yang dihadapi itu jauh lebih luas. Musuh bukan lagi sekedar berupa ancaman yang mengganggu kedaulatan, tetapi juga permasalahan-permasalahan lain yang mencakup hampir semua aspek kehidupan – lingkungan hidup, sosial, tenaga kerja, seni, teknologi, dan sebagainya. Dan semua ini menuntut adanya satu tindakan ataupun perbuatan untuk mengatasinya. Nah, tidakkah mereka ini juga bisa disebut sebagai pahlawan?

Generasi Milenial dan Alpha yang lahir pada tahun 1990-2005 memiliki rasa zaman berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi sekarang punya tantangan dalam lanskap ke-Indonesiaan, kebhinekaan hingga menjaga relasi budaya di negeri ini. Potensi konflik yang besar, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan radikalisme-intoleransi sangat nyata.

Menjadi Pahlawan di Era Digital

Dalam sebuah kolom di detik, Munawar Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengungkapkan bahwa untuk menjadi pahlawan digital di era saat ini, generasi muda harus siap bekerja keras, inovatif, dan konsisten dengan gagasannya. Sifat seperti ini diakuinya akan mampu membuka pintu bagi masa depan diri dan komunitas. Ia juga mengatakan, mereka yang bekerja keras, superkreatif, serta tahan banting untuk mewujudkan ide-ide cemerlangnya akan mencipta sejarah.

Nah, di era digital ini, dengan pengguna internet yang demikian luas, baik secara geografis maupun batasan umur, Indonesia bukannya tidak mungkin untuk menjadi raksasa di bidang ekonomi digital. Apalagi dengan begitu banyaknya startup saat ini. Mereka (startup) ini digadang menjadi pahlawan era digital.

Dalam empat tahun terakhir, jumlah startup karya anak bangsa meningkat sangat drastis. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir bahkan mengatakan, tahun ini jumlah startup nasional mencapai 956 perusahaan dan menargetkan lebih banyak lagi perusahaan rintisan lainnya yakni 1.000 lebih startup. Padahal dalam catatan, pada  2014-2015 jumlahnya hanya 52 perusahaan rintisan saja. Pertumbuhan meningkat 1.830 persen.

Pertumbuhan startup ini pun menjadi tulang punggung kesuksesan ekonomi digital Indonesia. Saat ini, Gojek bersama Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak tumbuh sebagai perusahaan-perusahaan dengan visi dan wajah generasi milenial negeri ini.

Mengutip pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika dahulu, Rudiantara, saat ini total valuasi empat startup Indonesia yang telah menjadi unicorn (startup yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar) sudah melewati total market cap dari empat operator seluler di luar Telkomsel.

Pahlawan-pahlawan milenial haruslah tampil untuk menjadikan bangsa Indonesia tidak sebagai pasar digital, namun sebagai pemain aktif dalam kontestasi digital masa kini. Lalu apa uang sudah kamu berikan kepada bangsa ini di Era digital untuk meneruskan perjuangan pahlawan dizaman sebelum kemerdekaan?

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)