Menjadi Fresh Graduate yang Bersahaja di Tengah Pandemi

363
graduate
Gambar oleh Chantellen dari Pixabay

Sudah lebih dari 365 hari pandemi covid-19 yang tak berkesudahan ini membersamai kehidupan kita sehari-hari. Dan sudah lebih dari satu tahun pula kita menjalankan kehidupan ini dengan pola kebiasaan baru yang dilakukan dengan membatasi pertemuan tatap muka, selain itu pandemi covid-19 ini juga mengganggu kestabilan perekonomian di negeri kita sehingga banyak sekali pihak yang terkendala akibat keadaan yang tidak stabil ini, salah satunya adalah para fresh graduate.

Baca juga: Seni Jalaluddin Rumi Menggapai Cinta Ilahi – Part 3

Lulus dari dunia perkuliahan dan mencari pekerjaan adalah cara berfikir yang mungkin tampak sederhana bagi kalangan mahasiswa-mahasiswa semester akhir. Akan tetapi fakta yang terjadi dilapangan tak seindah angan-angan yang mereka impikan ketika sedang berusaha menyelesaikan tugas akhir. Karena faktanya, kondisi yang sedang kita alami saat ini berbanding terbalik.

Dikutip dari tribunnews.com, Kementerian Ketenagakerjaan menyebut bahwa 29,4 juta orang terdampak pandemi Covid 19. Jumlah itu termasuk mereka yang terkena PHK, dirumahkan tanpa upah hingga pengurangan jam kerja dan upah. Angka ini bisa saja akan terus bertambah akibat penyelesaian untuk menyudahi pandemi ini belum menemukan titik terang.

Sedangkan keadaan justru berbanding terbalik dari segi pelamar kerja. Jumlah mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan justru meningkat dibanding masa-masa sebelumnya. Menurut Country Manager JobStreet Indonesia dikutip dari Liputan6.com, Jumlah lamaran per lowongan kerja meningkat drastic hingga 89 persen selama pandemi covid 19.

Dua persfektif diatas merupakan sesuatu yang mau tidak mau harus dihadapi oleh mereka yang baru saja menyelesaikan studinya di bangku kuliah S1. Lulus dengan predikat cumlaude ataupun mempunyai IPK tinggi bukan sebuah jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Karena biasanya perusahaan-perusaan lebih membutuhkan mereka yang berpengalaman.

Apalagi saingan yang mereka hadapi bukan hanya antar sesama fresh graduate saja, melaikan mereka-mereka yang terdampak oleh pandemi covid 19 yang harus berjuang demi kebutuhan hidup sehari-harinya tercapai. Hal ini dapat menyebabkan kualifikasi pelamar kerja semakin sulit seiring dengan permohonan lamaran kerja yang semakin tinggi.

Selain itu faktor eksternal seperti tekanan dari keluarga, tetangga sekitar dan orang-orang terdekat tidak bisa dihiraukan begitu saja. Ekspektasi tinggi baik disadari ataupun tidak justru menyebabkan depresi dan tekanan berlebih yang sangat mengganggu psikis para fresh graduate yang menjadi harapan bagi orang tua mereka.

Inilah yang pada akhirnya mengharuskan para fresh graduate dituntut untuk memiliki skill individu yang lebih tinggi dan mau berinovasi agar bisa bersaing dimasa-masa sulit ini. Faktor non akademik dan pengalaman yang luas selama menjalani masa-masa indah sebagai seorang mahasiswa seperti berorganisasi, bekerja, berpartisipasi dalam perlombaan dan lain sebagainya.

Namun lagi-lagi kita berbicara soal pandemi covid 19, bukan bermaksud untuk menakut-nakuti tapi segalanya bisa terjadi. Bergantung pada keberuntungan? Kenapa tidak.

Bersahaja Sebagai Seorang Fresh Graduate

Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Mai’dah ayat 77 yang berbunyi:

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ.

Artinya: Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah Allah SWT kepada kita sekalian untuk tidak bersikap berlebihan dalam keadaan apapun termasuk bekerja. bekerja juga merupakan suatu ibadah yang apabila dijalankan dengan tulus dan bersungguh-sungguh maka akan terhitung sebagai jihad serta akan mendapatkan ridha dari Allah SWT.

Faktor berlebih-lebihan inilah yang sebenarnya menjadi permasalahan utama yang harus dihadapi oleh para fresh graduate. Karena seringkali mereka mencari pekerjaan tidak berdasarkan faktor pendukung yang ada melaikan hanya mengikuti trend yang terjadi di masa kini. Semisal memaksakan diri untuk menjadi konten kreator padahal minat dan bakat mereka bukan disana.

Kunci utama yang harus disadari pertama kali dalam menentukan masa depan bagi para fresh graduate adalah memahami potensi diri serta mengerti tentang peluang yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Selain mengandalkan Ijazah yang didapat dari kampus, keinginan untuk mau keluar dari zona nyaman juga harus dilatih terus menerus.

Jangan ragu untuk mencoba sesuatu dan jangan pernah dengarkan cibiran maupun godaan yang didapat. Membiasakan diri untuk fokus dan tidak berlebih-lebihan dalam menghabiskan uang serta lebih bijak dalam memanajemen waktu agar segala sesuatu menjadi efisien dan bisa dimanfaatkan sebagai peluang yang berharga. Serta biaasakanlah untuk menjalani hidup secara sederhana.

Kalau semua bisa dijalankan dengan baik, bukan tidak mungkin hasil yang akan didapatkan di masa depan melebihi ekspektasi yang ingin digapai. Tantangan, ujian dan cobaan pasti akan dihadapi oleh siapapun dan bagaimanapun, karena hal itu tidak akan pernah bisa dihindari oleh setiap manusia apapun itu.

Namun yakinkanlah pada diri sendiri bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian dan cobaan melebihi batas kemampuan seorang hambanya. Dan apabila sudah berhasil melalui itu, insyaallah ridha Allah akan membantu usaha dan perjuangan para fresh graduate menjalani kehidupan yang berat ini. Wallahu a’lam bis showab.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid
(Alumni Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)