Menilik Desa Pancasila di Jember

586
Desa Pancasila
Source: Fakta Jember

 Bersama Dalam Perbedaan

Tulisan yang berangkat dari kisah di sebuah desa ini terinspirasi dari sebuah video di Youtube yang saya tonton beberapa saat yang lalu. Video dari saluran “Jeda Nulis” yang digawangi oleh Habib Ja’far, seorang habib muda yang lantang menyuarakan keberagaman ini memang sering saya tonton videonya.

Beliau adalah salah satu tokoh yang selalu menyuarakan indahnya hidup dalam perbedaan. Saya pernah juga membuat sebuah artikel berdasarkan video beliau, saat itu saya mengangkat  tema musik adalah media dakwah yang efektif.

Pada suatu Ketika Habib Ja’far ini sedang pulang kampung ke Bondowoso untuk mengikuti prosesi wisuda daring bersama orang tuanya. Tidak jauh dari kampung halamannya tersebut, ada sebuah desa bernama Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember. Jatim, berjarak sekitar 70 Km atau dua jam berkendara dari Bondowoso.

Desa ini popular dengan sebutan Desa Pancasila. Disebut Desa Pancasila, karena di desa ini toleransi dan gotong royong antar umat beragama sangat kental terasa dan merupakan keseharian masyarakatnya. Hal ini dikuatkan juga oleh Bapak Soib, yang menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) di desa ini.

Artikel lain tentang Pancasila, lihat Laku Pancasila Dalam Pendidikan

Tauladan Hidup Berdampingan

Beliau menjelaskan bahwa semua agama hidup berdampingan dengan damai tanpa ada konflik sejak dahulu kala. Pak Sekdes ini menjelaskan bahwa di Desa Sukoreno ini tidak ada orang yang mempermasalahkan siapa beragama apa, itu adalah ranah pribadi masing-masing, yang penting di luar urusan agama, mereka selalu bekerja sama dengan baik.

Di desa yang berpenduduk 2688 KK ini hidup rukun dengan tiga macam agama, yaitu Islam, Hindu dan Katolik, serta satu aliran kepercayaan, yaitu Penghayat Sapta Darma (Persada) yang didirikan sekitar tahun 1960. Jumlah muslim sekitar 2400-an KK, Hindu sekitar 125-an KK, dan Katolik sekitar 65-an KK dan sisanya adalah penganut aliran kepercayaan tadi.

Ada sebuah gang/Lorong yang bernama Gang Dua, dan di gang tersebut terdapat lima Musala, dua Pure dan satu Gereja. Jumlah ini disesuaikan dengan kebutuhan dan mengacu pada komposisi warga yang tinggal gang tersebut.

Menurut pengakuan salah satu warga, awalnya di Desa Sukoreno, Hindu adalah agama mayoritas. Seiring berjalannya waktu dan asimilasi pun tidak terhindarkan sehingga jadilah desa Sukoreno menjadi seperti sekarang ini.

Dalam satu rumah terdapat bermacam agama pun bukan hal yang aneh di desa ini. Ada satu keluarga di desa ini, sang ayah beragama Hindu dengan istri yang beragama Katolik, Lalu anak-anaknya ada yang beragama Islam dan ada juga yang beragama Katolik.

Di saat sang ayah meninggal dunia, di rumah tersebut dilakukan semacam doa dari tiga agama tersebut. Jadi dalam sehari ada tiga kali acara keagamaan karena meninggalnya sang kepala keluarga. Pemandangan yang hampir mustahil terjadi di tempat lain.

Cerminan Toleransi

Lain lagi pengalaman seorang wanita bernama Emanuela Rina yang berasal dari keluarga Katolik. Dia memiliki seorang adik bernama Lusia Retna puspita Ningsih yang menikah dengan seorang ustaz di desa tersebut dan menjadi mualaf masuk ke agama Islam.

Sikap orang tuanya sangat biasa dan bisa menerima keputusan anaknya tersebut dengan baik. Hanya dinasihati kalau sudah pindah ke agama Islam, jangan membenci Katolik, karena pada dasarnya agama itu mengajarkan kebaikan. Di sini terlihat jelas bahwa yang dicari adalah persamaannya dan bukan perbedaannya.

Dari hasil wawancara Habib Ja’far dengan banyak masyarakat di desa ini, terlihat jelas bahwa perpindahan agama dari satu agama ke agama yang lain sering terjadi dan itu sama sekali bukan suatu yang harus diributkan atau dipermasalahkan. Keluarga Ibu Emanuela tadi contohnya, kakeknya dulu ternyata adalah aktivis Muhammadiyah di Desa Sukoreno.

Ada sebuah sekolah dasar di sana bernama Sekolah Dasar Katolik Santo Yusuf yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Walaupun ini sekolah Katolik, ternyata, siswanya berasal dari berbagai macam agama, bahkan siswa yang beraga Islam adalah mayoritas siswa di sekolah ini.

Kokoh dalam Keberagaman

Mereka bisa belajar bersama untuk ilmu umum dan untuk ilmu agama, sekolah ini menyediakan guru agama berdasarkan agama para siswanya. Ini menjadikan mereka kokoh dalam keberagamaan dan toleran dalam keberagaman. Jadi sejak sekolah dasar mereka sudah diajarkan hal seperti ini, maka tidak heran toleransi menjadi jiwa di desa ini.

Pak Sekdes yang mengakui sejak dia kecil tidak pernah ada satu kasus pun terjadi yang disebabkan oleh perbedaan agama di desa ini, dikarenakan tokoh-tokoh agama di desa ini benar-benar saling menghargai dan menghormati di bawah binaan desa.

Kerja sama dalam kebaikan, meski tidak sama dalam agama menjadi identitas utama yang dibanggakan seluruh warga desa ini. Dalam soal agama, mereka masing-masing. Pernah di suatu malam Jumat Habib Ja’far menceritakan bahwa dia melihat orang tua dan anak-anak muslin salat dan mengaji bersama di tempat ibadahnya.

Lalu Pak Sunyoto yang merupakan penganut aliran kepercayaan Persada pun baru kembali dari sanggar, tempat para penganut aliran ini melakukan ritual sujud bersama, saat ditemui.

Intinya mereka melakukan segala hal bersama dalam kebaikan, saling bekerja sama satu dengan lainnya. Misalnya mereka bekerja sama dalam pembuatan infra struktur desanya membangun penerangan jalan.

Hal tersebut murni dilakukan oleh seluruh warga tanpa bantuan dari pemerintah daerah. Tidak peduli agamanya apa, mereka bekerja sama mewujudkan pembangunan penerangan jalan tersebut. Saat ini 90% penerangan jalan sudah terbangun.

Merayakan Perbedaan

Dalam hal perayaan hari besar agama pun mereka saling mendukung. Bapak Ibenius yang beragama Katolik menjelaskan pada perayaan Natal yang lalu, para pemuda Ansor dan pemuda Hindu melakukan penjagaan selama perayaan Natal tersebut berlangsung. Demikian juga pada hari raya keagamaan agama Islam dan Hindu, mereka saling menjaga.

Senada dengan Bapak Ibenius, Bapak Misno HDS. yang beragama Hindu menjelaskan pada saat menyambut perayaan Nyepi, akan diadakan pawai Ogoh-Ogoh, yaitu pawai mengarak semacam patung besar yang menyeramkan dengan maksud menyingkirkan sifat-sifat buruk manusia. Mereka yang membuat patung dan mengarak patung tersebut bukan hanya orang Hindu, tapi juga dibantu oleh orang Katolik dan juga Islam.

Toleransi di desa ini membuat kedamaian dan kehangatan begitu terasa. Semua rumah tokoh agama yang di datangi oleh Habib Ja’far semua menyambut dengan penuh kehangatan dan suguhan aneka macam kudapan selalu disajikan. Saat pulang pun tak lupa oleh-oleh disertakan sebagai rasa syukur sudah didatangi tamu.

Desa ini memberikan nuansa tersendiri dan membuat rindu. Habib Ja’far berpesan, jika Anda mampir ke bagian Timur dari Jawa Timur ini, jangan lupa mampir ke desa ini. Ada Indonesia kecil di sana. Nilai Pancasila dan Bineka Tunggal Ika hidup baik di desa ini. Cinta yang juga merupakan ajaran dari semua agama benar-benar hidup di tengah masyarakatnya.

Racikan Persatuan

Apa resep dari desa ini sehingga semua keindahan dan kehangatan bisa benar-banar terasa di desa ini? Toleransi umat beragama juga demikian kental bisa dirasakan oleh siapa saja yang datang ke desa ini. Pak Sekdes menjelaskan bahwa semua ini bisa terjadi, tidak lepas dari peran pemerintah desa yang melakukan pembinaan terhadap tokoh-tokoh agama di desa ini untuk menjaga keberagaman ini.

Kepala desa selalu membangun komunikasi antar umat beragama dengan baik. Forum komunikasi sudah dibuat sebelum terjadinya konflik, sehingga sampai hari ini tidak pernah terjadi konflik yang tidak diinginkan oleh semua pihak tersebut.

Di desa ini sudah terbiasa saling hormat-menghormati antar umat beragama dilakukan. Saat perayaan hari raya Idulfitri misalnya, maka para tetangga yang nonmuslim akan mendatangi rumah tetangganya yang muslim untuk mengucapkan selamat.

Sebaliknya pada perayaan Natal atau Nyepi, maka umat yang tidak merayakan akan mendatangi tetangganya yang merayakan untuk mengucapkan selamat. Pada akhirnya toleransi bisa disimpulkan datang dari hati yang tulus yang penuh rahmat untuk saling mencintai sebagai sesama warga desa, apa pun agamanya.

Dalam Agama Islam juga diajarkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Mencintai bukan hanya kepada sesama muslim, tapi kepada siapa pun, tidak peduli agamanya dan kepercayaannya apa. Islam memerintahkan berbuat baik kepada siapa saja dan berlomba-lomba dalam kebaikan, urusan agama itu masing-masing, karena tidak ada paksaan dalam agama.

Ukhuwah Insaniyyah

Sebagai orang Indonesia, kita dididik oleh pendiri bangsa ini bahwa Indonesia itu Bineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda, tapi tetap satu juga. Kalaupun ada orang Indonesia yang bukan saudara seagama, tapi tetap saudara sebangsa dan setanah air. Islam mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara, yang dikenal dengan Ukhuwah Islamiyah.

Selain itu Islam juga mengajarkan kalau bukan saudara seagama, maka orang lain itu adalah saudaramu sebangsa setanah air yang dikenal dengan Ukhuwah Watoniah. Terakhir, kalaupun dia buka saudaramu seagama dan setanah air, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan atau dikenal dengan Ukhuwah Insaniah.

Desa ini patut dijadikan contoh bagaimana Bineka Tunggal Ika diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu belajar bagaimana bertoleransi dari warga desa ini. Indonesia kecil yang berdasarkan Pancasila dan Bineka Tunggal Ika nyata terasa dalam denyut nadi kehidupan warga di Desa Sukoreno ini. Semoga desa-desa lain di Indonesia bisa seperti desa ini, ke desa mana pun kita datang, maka aroma Bineka Tunggal Ika bisa kita rasakan.

Penulis: Hajime Yudhistira