Menikmati Ramadan di Madinah

882
Photo by Yasmine Arfaoui on Unsplash

Oleh: Mus’ab Buenae, M.Psi
(Mahasiswa Universitas Islam Madinah/Alumni Mahasiswa Thailand di Indonesia)

Bulan suci Ramadan merupakan bulan ibadah bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Kita mengetahui pentingnya bulan  suci ramadan ini, di mana umat Islam menunggu kedatangannya. Mereka akan mengganti gaya hidupnya untuk lebih fokus beribadah, terkadang berbeda pada bulan yang lain. Sebelum datangnya Ramadan semua telah  mempersiapkan diri, jiwa, dan beberapa kebutuhan selama menjalankan ibadah puasa. Umat Islam merasa gembira, bersukur berjumpa dengan bulan Ramadhan. Namun pada Ramadan kali ini, ada yang berbeda dengan Ramadan sebelumnya.  Justru kegembiraan datang bersama kekhawatiran dan kewaspadaan terhadapat penyebaran wabah Covid-19, termasuk di Madinah.

Kalau boleh jujur, sebagian kita abai tentang kebersihan bahkan banyak manusia yang merusak lingkungan. Sering kali melakukan hal-hal yang dilarang agama. Seakan ada yang kurang pas cara kita belajar menjaga  kualitas keimanan kita. Situasu ini jadi kesempatan penting bagi manusia, muhasabah diri,  merenungkan perbuatan selama ini, sehingga batas sabar dan syukur berorientasi pada ridlanya Allah. Bonus di depan mata dengan cara menyambut dan menikmati ramadan untuk berbuat yang terbaik. Physical distancing memberi kita kesempatan lebih banyak memeliki waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah. Tadarus Al-qur’an, berzikir, bersedekah, serta berbagai kebaikan.

Ramadan di tengah wabah covid-19 akan terasa sepi, begitu juga di tanah suci Makkah dan Madinah. Saat ini, wabah virus covid-19 telah tersebar luas di Arab Saudi, kota yang paling banyak menimpa wabah covid-19  yaitu dua tanah haram Makkah dan Madinah. Seluruh Arab Saudi sudah tercapai lebih dari 24.000 orang yang terpapar (1/5/2020), melihat kondisi sekarang ada kemungkinan bertambah. Kehidupan sehari-hari telah berubah, masyarakat mulai tinggal di rumah untuk mencegah wabah tersebut.

Pada hari selasa (17/3/2020) pemerintah Arab Saudi memutuskan menutup masjid untuk tidak sholat berjammah di dua masjid yaitu masjid Nabawi dan masjid haram Makkah. “Assholatu fi buyutikum” adalah kalimat yang ditambah pada saat azan berkumandang yang berarti  “sholatlah di rumah kalian”. Sholat tarawih di kedua masjid tersebut hanya untuk petugas dan takmir masjid. Hal terebut membuat suasana Madinah dan Makkah terasa sepi dan sunyi. Biasanya masyarakat datang sholat tarawih berjamaah dan beraktivitas di masjid.

Bagi mahasiswa asing harus dikarantina dalam area kampus, Jum’at (3/4) pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menerapkan lockdown 24 jam bagi warga untuk kota Madinah dan Makkah. Hanya boleh keluar selama beberapa jam saja untuk membeli barang kebutuhan di area tempat tinggal. Sementara, pihak kampus memutuskan melarang mahasiswa keluar dari area kampus karena khawatir akan terpapar penyakit. Alhamdulilah  kampus sudah menyediakan bahan makanan dan beberapa kebutuhan mahasiswa selama di kampus.

Kementerian pendidikan Arab Saudi memerintahkan lembaga pendidikan untuk menjalankan aktivitas pembelajaran dan ujian akhir semester via online. Seluruh mahasiswa disarankan tinggal di kamar serta melakukan aktivitas pembajaran secara langsung dengan dosen lewat aplikasi khusus. Setelah ujian akhir selesai biasanya mahasiswa mulai mempersiapkan untuk pulang kenegaranya. Namun karena Arab Saudi menerapakan lockdown semua tertunda kepulangannya. Insyaallah tanpa mudik lebaran kali ini. Mahasiswa bisa pulang jika terdapat kabar dari kedutaan masing-masing negara.

Ramadan kali ini telah berubah dari sebelumnya, meskipun tidak dapat menjalankan ibadah sesuai keinginan namun mencegah menyebaran wabah  Covid-19 lebih penting tetaplah beribadah di rumah dan jaga kebersihan. Rasulullah S.A.W bersabda:

“الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى”

“Sabar itu terdapat pada hentakan pertama ”

(Riwayat Bukhari)

Maka hendaklah kita banyak bersabar ketika menimpa suatu musibah ini, semoga ramadaan segera ditukar kembali oleh sang Pencipta dengan melimpahnya rahmat. Allah telah berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu berfirman “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu”

(Surat Al-Ghaafir:60)

Maka banyaklah kita memohon ampunan serta memohon agar wabah covid-19 segera berlalu, InsyaAllah Allah sayang kita semuanya.

Doa Rasulullah agar terhindar dari wabah penyakit seperti Covid-19

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ

Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal barashi, wal junūni, wal judzāmi, wa sayyi’il asqāmi.

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”

Kami mencoba menikmatinya, tersisa beberapa mahasiswa asal Thailand yang terisolasi di Kampus. Saling menguatkan meski rindu tak tertahan. Rindu akan kembali normal semua kehidupan. Selain belajar untuk persiapan ujian secara online, memasak bersama jadi andalan mengusir kejenuhan selama di Kampus. Maklum, kami semua suka memasak. apalagi rempah kiriman dari Thailand masih cukup untuk mengobati lidah dan hati kami jika rindu keluarga. Benar-benar suasana yang tak terduga. Menjalani kehidupan dengan protokol isolasi. Semoga cepat berlalu, hikmah dan kenikmatan segera melimpah ruah.

Demikianlah cerita beberapa waktu lalu yang sempat saya bagikan, semoga bermanfaat. Sampai saat ini, saya serta beberapa teman mahasiswa Thailand masih berada di Madinah. Kangen kampung, rindu Thailand rindu Indonesia. Tapi kerinduan itu terobati dengan rasa rindu atas ridhanya Allah. Semoga puasa kita benar-benar menghantarkan kita pada kebersihan hati. Mudik di kampung keberkahan. Kapan -kapan jika bertemu di Madinah atau berkunjung ke Phatani, Thailand, akan saya ajak memasak. Setidaknya traktir biryani, disajikan diatas gelaran plastik wrap. Beli empat porsi dimakan berlima. Salam dari Madinah.

(Barokallahu fiikum)