Menikah Muda lantas Putus Kuliah, Apakah Salah?

329
menikah
Photo by Євгенія Височина on Unsplash

Menikah dan putus kuliah? Mungkin ada banyak orang yang menyayangkan keputusanku ini. Tapi,beberapa yang mengerti tetap mendukungku tanpa perlu alasan. Bukankah setiap manusia memiliki pengalamannya sendiri?

Setelah nikah kan kuliah tetap bisa dilanjut? Kenapa gak nunggu lulus dulu baru nikah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah sering aku dengar sampai rasanya bosan. Untuk menjelaskan panjang lebar rasanya percuma, karena pasti setiap orang punya pendapat masing-masing. Dimana mayoritas orang berfikir kuliah adalah satu-satunya jalan menuju sukses.

Baca juga: Tahapan Membaca Hingga Menjadi Pembaca yang Baik

Aku sama sekali tidak keberatan dengan pendapat mereka. Mereka memiliki pandangan pribadi dan begitu juga aku. Biarlah, aku cuma menjalani kehidupan yang aku pilih dan yang membuat aku senang. Sebelum ada rencana menikah, ibu bapakku, calon suamiku, bahkan teman-temanku sama sekali tidak ada yang memaksaku untuk berhenti atau melanjutkan kuliah setelah menikah.

Tentu saja, aku mendapatkan banyak sekali saran dari beberapa orang. Tapi tidak aku telan mentah-mentah, melainkan aku serap untuk jadi bahan pertimbangan. Aku pikir, ini kehidupanku, aku yang akan menjalani hidupku, resiko atau konsekuensi dibaliknya aku sendiri lah yang akan menanggungnya. Bulatlah keputusanku untuk diajak menikah.

Kenapa begitu mudah diajak menikah? Sekali lagi, ini adalah pengalaman pribadiku. Pernah tidak, bertemu dengan orang yang membuat kamu ngerasa yakin banget sama dia? Pernah gak, bertemu orang yang bikin kamu berpikir setiap liat tingkah lakunya “gila, baik banget!”? Itulah yang aku rasa. Kalau kamu belum pernah ngerasain ya, ya kamu tidak akan tahu. Itulah yang aku rasa, menemukan laki-laki yang menurutku begitu baik. Aku sadar 100% tidak ada manusia sempurna, dia pasti juga memiliki kekurangan yang tidak aku suka. Tapi, aku percaya dia laki-laki yang lebih dari baik. Toh aku juga sudah mengenalnya sejak kecil, dia dan aku tinggal di Desa yang sama.

Setelah itu, rasanya semua jalan dipermudah. Keluarga kami langsung setuju tanpa syarat atau pertanyaan apapun. Dari mulai lamaran sampai menentukan tanggal pernikahan, sama sekali tidak ada halangan. Bahkan setelah acara pertunangan, keluargaku nampak senang sekali. Aku baru tahu kalau Bapakku dulunya hendak menjodohkan aku dengan dia. Rupanya,Bapakku sudah memperhatikan dia sejak lama. Tentu, alasan itu membuatku semakin yakin!

Aku merasa, salah satu keputusan besar dalam hidupku ini, bukanlah keputusan yang ku buat tanpa berpikir,melainkan keputusan yang matang dan dukungan dari orang-orang tercinta. Meskipun banyak yang meremehkan, biarlah, sama sekali bukan urusanku! Aku berfokus pada orang-orang yang mendukungku.

Pertanyaan lain yang tidak kalah sering ditanyakan adalah: kenapa memutuskan untuk putus kuliah? Sejujurnya, jauh sebelum ini, sejak SMA, aku merasa sudah jenuh dengan yang namanya sekolah. Bahkan, setelah lulus, aku minta ke Bapak untuk tidak lanjut kuliah. Respon dia? Dia menyerahkan semua keputusan hidupku pada diriku sendiri. Aku sangat bersyukur punya orang tua yang tidak pernah mengekang anaknya, membiarkan anak-anaknya memilih jalan hidupnya sendiri tapi tetap dibawah pengawasan mereka, itu menjadi pelajaran untukku ketika menjadi orang tua nanti.

Tapi, aku belum berfikir apa yang ingin aku lakukan setelah lulus. Aku juga tidak mau menjadi pengangguran di rumah. Akhirnya, aku berusaha mendaftar di beberapa universitas hingga diterima di salah satunya. Tapi setelah dijalani makin lama aku makin sadar, keputusanku ini, lebih banyak membuatku tidak nyaman.

Rasanya setiap apa yang aku lakukan adalah paksaan, bukan dari orang lain, melainkan dari diriku sendiri. Aku merasa aku memaksa diriku sendiri untuk berkuliah. Untuk mengikuti standar kehidupan mayoritas masyarakatku yang menganggap kuliah adalah satu-satunya jalan untuk sukses.

Mungkin karena niat awalnya sudah salah maka beberapa hal juga menjadikanku tidak nyaman. Aku bertanya-tanya, jurusanku keguruan, apa aku benar-benar ingin menjadi guru? Apakah hal tersebut membuat aku senang dan nyaman? Apa ini benar-benar tujuan hidupku? Ketika sedang menjalani perkuliahan, aku selalu banyak berpikir.

Akhirnya, aku sering merasa capek sendiri. Pasti akan ada banyak yang bilang, ya namanya juga kuliah pasti capek lah, bukan cuma kamu doang! Biarlah, berpikirlah sesuka hatimu, kamu hanya tidak mengerti. Padahal bukankah setiap perasaan manusia adalah valid?

Yang perlu kamu tahu, aku tidak pernah bercita-cita untuk menikah muda, tapi aku juga tidak bercita-cita untuk menjadi wanita karir. Aku memutuskan menikah muda,bukan karena campaign menikah untuk menghindari zina, atau nyinyiran nyinyiran lainnya. Satu-satunya alasanku menikah adalah karena aku merasa sudah menemukan orang yang tepat.

Sejak masa SMA, aku sudah membayangkan masa depanku, dan memutuskan jika suatu saat aku menikah dan memiliki anak, aku ingin selalu di rumah, menemani, merawat dan mendidik anak-anaku. Aku ingin mereka selalu dipenuhi kasih sayang dariku. Aku merasa keputusanku semakin matang, memutuskan untuk berhenti kuliah dan pamit kepada teman-teman. Sempat terharu, mereka mengucapkan aneka kalimat dukungan dan semangat.

Lalu,apa yang terjadi setelahnya? Apakah aku menyesali keputusanku? Tidak, justru aku bahagia telah mengambil keputusan ini. Aku bisa bersama dengan orang yang aku ingin, menciptakan kebahagiaan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku juga tidak menyesal memutuskan putus kuliah, justru aku merasa menemukan kenyamananku. Aku bisa mengeksplor lebih banyak hal yang belum sempat aku pelajari sebelumnya.

Dengan banyak waktu senggang,aku bisa belajar menjahit dari youtube, belajar seni henna, belajar memasak, dan menjadi lebih dekat dengan tetangga-tetanggaku! Aku merasa lebih hidup setiap harinya, menjadi diriku yang baru. Aku juga merasa bangga dengan diriku sendiri, bisa memilih dan tidak menghiraukan banyak kata-kata dari orang lain. Walau kadang-kadang, aku juga rindu dengan teman-teman, suamiku tidak segan mengizinkanku main sesekali, bahkan terkadang dia tak sungkan ketika aku minta diantar.

“Orang tuamu bagaimana? Apakah mereka menentang keputusan kamu?” Sama sekali tidak, aku selalu melihat mata kebahagiaan mereka semenjak aku menikah. Aku juga tidak merasa jauh dari mereka, karena suamiku masih di satu kampung, dan aku masih tinggal dirumah orang tuaku. Kehidupan berjalan seperti biasanya, bahkan hampir tidak ada bedanya. Satu yang berbeda, rumah kami bertambah satu anggota baru yang bikin makin ramai!

“Menikah? Emang udah sukses bisa bahagiain orang tua?” Hehe, kadang merasa lucu kalau dengar pertanyaan ini. Bagiku, sukses bukan hanya tentang harta, dan membahagiakan orang tua juga bukan cuma dengan harta. Lebih dari itu, orang tua akan lebih senang melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang berbakti dan berbudi baik. Kalau kamu tidak setuju,ya tidak apa-apa. Masalah uang? Setelah menikah, alhamdulillah setidaknya aku bisa memberi se-perak kepada orang tuaku dengan dibantu suamiku,hehe. Baktiku kepada orang tua, kini dibantu suamiku.

Akhirnya, aku cuma ingin bilang. Kita punya pendapat boleh, merasa pendapat kita benar tentu boleh, tapi jangan sesekali memaksakan pendapatmu ke orang lain, konyol sekali jika bersikap begitu. Cukuplah diterapkan untuk dirimu sendiri.

Hargailah, setiap orang punya pilihan dalam hidupnya. Yang menurutmu baik, belum tentu menurut orang lain baik. Kuliah, bukan satu-satunya jalan untuk sukses. Jika dengan kuliah bisa mendekatkan kamu dengan tujuan hidupmu, maka jalanilah. Tapi jangan sesekali merendahkan mereka yang mengambil keputusan lain, karena pasti mereka juga punya alasan kuat dibaliknya.

Dan, aku memohon sekali, jangan pernah meremehkan orang yang memutuskan menikah di usia muda, karena aku yakin memutuskan menikah bukanlah keputusan mudah, dan perlu banyak pertimbangan.

Aku tidak bilang bahwa hidupku ini adalah contoh baik. Aku sama sekali tidak meminta siapapun mengikuti jalan hidupku. Tapi bukankah setiap orang memiliki alasan akan tindakannya? Bukankah semua orang memiliki pengalaman khasnya?

Dan itu perlu didengar, bukan hanya dikritisi, diremehkan atau bahkan dihujat. Karena aku percaya, pilihan hidup setiap orang itu baik. Aku hanya  ingin kita saling menghargai dengan pilihan kita masing-masing. Hidup damai itu indah bukan?

Tulisan ini Pernah dimuat di Buntu Literasi
Penulis: Euis Risnawati