Menguak Peran Musik dalam Proses Pembelajaran

340
musik
Photo by Paige Cody on Unsplash

Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada teman saya yang merupakan guru musik di salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta. “Mas, menurutmu kenapa harus ada pelajaran musik di sekolah?” Dia menjawab, “simpel mas, buat hiburan” (sambil diiringi gelak tawa). Awalnya saya agak heran dengan jawaban dia namun aku tahan rasa heran ku tersebut sambil mencerna jawaban tersebut lebih dalam lagi.

Sering kita jumpai anak-anak frustasi bahkan stress ketika belajar, hal ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya adalah padatnya materi yang harus segera diselesaikan sehingga menuntut mereka untuk fokus dalam waktu yang cukup lama. Keadaan ini menyedot sebagian besar tenaganya sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk bersantai dan bermain.

Bahkan, banyaknya tugas yang harus diselesaikan tersebut membuat anak menjadi depresi  bahkan sampai bunuh diri, sebagaimana yang dialami oleh MI (16) salah satu siswa di Desa Bilalang, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (Tribun News.com/7/4/2021)

Ini menjadi ironi dunia pendidikan, niat hati ingin memaksimalkan proses pembelajaran namun apa daya banyak korban yang berjatuhan, mulai dari frustasi, depresi hingga bunuh diri, ini yang harus segera dicarikan solusinya, supaya proses pembelajaran berlangsung dengan suka cita.

Baca juga: Belajar dari Tokoh Dinda dalam Film “Kisah untuk Geri”

Pembelajaran yang ideal

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.

Kolaborasi antara otak kiri dan kanan dalam pembelajaran juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Apabila siswa hanya menggunakan otak kiri saja dalam belajar, ia akan cepat bosan dan merasa tertekan sehingga sulit memahami pelajaran.

Sebaliknya apabila hanya menggunakan otak kanan saja dalam belajar, siswa memang merasa rileks, namun sedikit sekali ilmu yang di dapat. Oleh karena itu salah satu cara agar belajar lebih efektif yaitu dengan menyeimbangkan penggunaan otak kanan dan kiri.

Hal ini senada dengan pendapat Yunsirno (2010:42), yang mengatakan bahwa “Untuk menyeimbangkan kecenderungan dominasi otak kiri, perlu dimasukkan musik, seni, estetika, atau hal lain yang berhubungan dengan otak kanan dalam pengalaman belajar dan kehidupan anak.

Musik Sebagai Solusi

Jamak ditemui, musik sudah mulai diajarkan di berbagai sekolah, mulai dari sebatas ekstrakurikuler hingga masuk dalam muatan lokal. Sekolah yang memasukan musik ke dalam muatan lokal biasanya mempunyai kurikulum dan silabus tersendiri yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Itu artinya, setiap pekan siswa belajar musik di sekolahnya dengan bimbingan guru musiknya.

Meskipun demikian, musik mempunyai kontroversi yang terkadang menjadi problem disebagian orang yaitu dari sisi keharaman dan kebolehan musik itu sendiri. Mengenai hal ini sebagain ulama ada yang mengharamkan dan adapula yang membolehkan. Namun, terlepas dari kontroversi tersebut ia tetap memiliki manfaat yang tidak bisa diabaikan dalam proses pembelajaran.

Ketika bayi masih dalam kandungan misalnya, banyak peneliti mengatakan bahwa memperdengarkan musik jazz dapat meningkatkan kecerdasan anak ketika lahir, begitu juga dengan janin yang diperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Begitu juga saat pembelajaran, hadirnya musik dapat memberikan rasa rileks dan konsentrasi. Hal ini seirama dengan sebuah penelitian yang menemukan ada pengaruh yang cukup kuat dari musik latar yang diperdengarkan terhadap konsentrasi belajar siswa. (Ellfira, 2015).

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang mengkolaborasikan antara otak kiri dan kanan, oleh karena itu belajar musik akan membuat semakin kreatif. Mengapa? Karena dengan bermain musik, otak kanan akan semakin terasah sehingga kreativitas akan terus berkembang.

Dengan demikian benarlah ucapan teman saya di atas, bahwa musik adalah buat hiburan karena dengan bermusik tidak hanya otak kita yang terhibur namun batin kita juga terhibur. Ketika kita belajar dalam suasana hati yang senang, tenang, damai maka dengan mudah kita akan memahami pelajaran.

Mengingat manfaat musik yang begitu besar dalam pembelajaran, seharusnya ia bisa menjadi solusi atas problem saat ini. Namun sayang, banyak yang belum memaksimalkan potensi musik dalam proses pembelajaran.

Berharap dengan adanya pelajaran musik, proses belajar akan lebih menyenangkan dan tidak ada lagi siswa yang frustasi dalam belajar. Semoga!!

Penulis: Abdul Aziz
(Guru SD Islam Al Azhar 8 Kembangan)