Mengenal yang Spiritual tanpa Mengabaikan Akal

268
spiritual
Photo by Touann Gatouillat Vergos on Unsplash

“Spiritualisme kritis adalah penghargaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.”

Kalimat di atas seketika memberi jeda untuk membuka ruang dialog antara logika masa kini dan realitas yang pernah saya alami dengan cukup ganjil di masa silam. Judul bukunya “Simple Miracles: Doa dan Arwah” karya Utami.

spiritual
Cover Buku Simple Miracles

Keyakinan kerap hadir bersamaan setelah keraguan. Terlebih lagi ketika kita ragu untuk menyikapi sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh pancaindra. Keyakinan pada agama, adat leluhur, ritus kebudayaan atau bahkan sesuatu yang ganjil dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya hal-hal demikian memunculkan pertanyaan yang mencari kepastian tentang kebenaran atau setidaknya bisa dicerna oleh akal.

Dua Kisah Tak Masuk Akal

Rasanya berat meski kita selalu punya hak untuk bertanya-tanya tentang keyakinan tentang kepercayaan. Saya akan mencoba bercerita dengan menghadirkan konteks buku ini lewat peristiwa kecil yang pernah saya alami sendiri. Cerita masa lalu yang masih menyimpan pertanyaan dalam benak: tak masuk di akal namun terjadi untuk diamini.

Dulu saya dengan seorang kolega mengurus cukup banyak burung di pesantren. Sampai suatu pagi, seorang kolega salah memberi pur makanan untuk burung cerukcuk. Pur berwarna hijau yang seharusnya disediakan. Keesokannya burung itu mati di dalam sangkar.

Baca juga: Syeikh Abdul Hamid Kudus Pakar Ilmu Arudh wa Qawafi

Kami tentu saja mesti merunduk mendapat omelan barang sesaat dari pengasuh pondok, lantas membuang burung itu ke kali. Namun sialnya, esok pagi saat kami hendak memberi makan burung kembali, burung cerukcuk itu sudah terbang berkeliling kandang lagi.

Pernah juga suatu pagi saya kehilangan gawai selepas bangun tidur di pesantren. Sore harinya saya diajak ke rumah pengasuh pondok, kemudian ia bertanya,

“Zen bawa cahrger ga?”

“Wah, hapenya aja ilang, kang.” Saya membalas.

“Lho, kapan?”

“Tadi pagi, kang.”

“Yah, coba aja tadi chargernya dibawa, nanti ketemu hapenya.”

Saya hanya bisa nyeringis, dan sedikit bersesal diri sebab tak membawa charger sore itu. Namun menjelang maghrib, selepas pengasuh pondok mandi, ia membawa sebuah sabun muka dan melempar seraya berujar,

“Ini sabun berat banget. Coba dibuka, barangkali isinya hape.”

“Enggih, kang.” Jawab saya tak percaya, sembari menangkap kemasan sabun muka yang masih tertutup rapat.

Pengasuh masuk kamar. Saya mencari gunting dan memotong kemasan sabun muka. Setelah dibuka, apa yang ada dalam kemasan, ternyata bukanlah gumpalan sabun seperti perkiraan saya semula. Apa yang ada di dalamnya, tak lain justru gawai saya sendiri.

Dua kisah di atas yang sampai kini kerap menimbulkan pertanyaan untuk bagaimana semestinya, kita atau setidaknya diri saya pribadi bersikap pada hal-hal spiritual.

Tentang Buku Simple Miracles: Doa dan Arwah

Lewat bukunya, Ayu Utami berusaha membangun keyakinan dan keraguan itu tumbuh pada hal yang spiritual secara bersamaan. Ia menghidupkan teks dan pertanyaan dengan pelan lewat cerita hidupnya sendiri secara empiris.

Masa kecilnya, ia hidup bersama keluarga yang memiliki dua pendekatan berbeda pada keyakinan spiritual. Ayahnya cenderung menggunakan pendekatan kekuasaan sementara ibunya lebih terbuka dengan pendekatan win-win solution, meski dalam beberapa waktu bersikap berbeda pada spiritual yang lain selain Tuhan.

Periode bagaimana ia menumbuhkan kesadaran rupanya akan lebih mudah seperti bagaimama memahami sejarah pemikiran Eropa dengan memgacu pengalamanya sendiri. Kita tahu terdapat tiga periode utama corak spiritual pemikiran eropa, yaitu : religiusitas, sekularisme dan pasca sekularisme.

Pada era beragama awal, hukum agama dipakai untuk memenjarakan nalar. Nalar Kritis dianggap mengancam agama. Keadaan berbalik di tahap berikutnya, pada era sekuler nalar memusuhi agama yang dulu memenjarakan mereka.

Pada tahap pasca sekularisme, masing-masing menyadari sifatnya dan bisa bernegosiasi. Menurutnya Spiritulitas menyerupai yang femenin. Ia memerlukan keterbukaan. Puncaknya pada keterbukaan terhadap yang tak bisa diketahui. Sementara Nalar menyerupai yang maskulin. Ia membutuhkan kekakuan dan kepastian.

Namun pintu pertama dalam spiritualisme kritis adalah terbuka. Sikap bersedia menerima. Setelah itu desakan jatuh pada sikap menguji. Sikap menguji tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan penolakan semata-mata. Sikap terbuka tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan menutup diri. Tapi sikap menganggungkan ketidaktahuan adalah kebodohan yang berbahaya. (Hal 57)

Apa yang tidak bisa kita saksikan lewat indera barangkali itu adalah batas dari jangkauan kemampuan kita. Sebab sesuatu yang tidak kita alami secara empiris bukan berarti tidak ada secara logis. Definisi indera mansia adalah batas untuk dirinya sendiri, namun bukan berarti hal di luar batas itu tidak ada sama sekali.

Doa kemudian menjadi tangga yang bisa medium dari keterbatasan yang tak bisa diverfikasi lewat indera kita sendiri. Pada situasi ini kita mungkin bisa jujur dan terbuka pada ketidaktahuan. Pada kondisi ini pun kita tetap bisa melakukan sesuatu yang indah pada apa yang menjadi batas. Jawabanya hadir lewat doa. Ya, jika dalil dan hukum tak bisa ditarik, bukan berarti seni dan cintak tak boleh tumbuh. (Hal 70)

Pada akhirnya keterbukaan kita pada yang spiritual memang berisiko. Kita menjadi rentan diombang-ambingkan atau dimanipulasi pada hal yang memang tak bisa diverfikasi. Sebagian orang akhirnya pergi menutup diri untuk tidak memercayainya sama sekali. Sayangnya, sikap tertutup akan menutup diri pada hal yang tak terduga, spiritaulitas dan kreativitas. (Hal 170)

Bersikap terbuka menjadi pilihan yang bisa diambil dengan tetap merawat nalar kritis. Setidaknya langkah yang bisa diambil adalah dengan melihat reputasi penyampai informasi. Bila belum cukup, kita juga bisa melihat konsistensi logis pada informasi yang disampaikan dengan data lain yang kita miliki.

Ayu Utami juga cukup percaya, tidak semua pengetahuan memang bisa dijangkau dengan akal atau rasio. Pengalamanya yang membenci kejawaan dari hingar bingar musik ayahnya, membuatnya mendalami pengetahuan kejawaan setelahnya.

Bahwa ada pengetahuan yang berbasis bukan semata “ya” dan “tidak”, atau selalu diturunkan secara dogmatis, namun juga ada pengetahuan yang melibatkan dan mengasah rasa. Indonesia menjadi satu dari bangsa yang menyimpan kedalaman perihal pengetahuan rasa itu sendiri.

Penulis: Ali Nur Alizen