Pagi ini, Pak Gede Jaya sudah berpakaian rapi, lengkap dengan baju seragam sekolahnya. Sambil bercermin, Pak Gede menyisir rambut tipisnya yang hitam berkilau.

Setelah selesai menyisir, ia kemudian berangkat menuju sekolah tempatnya mengajar. Dengan motor astrea grand, ia melaju menuju sekolah.

Sebuah SD negeri di salah satu sudut Pulau Bali.

Sesampainya di gerbang sekolah, tak seorang siswa pun terlihat.

Tak ada lagi siswa yang mencakupkan kedua telapak tangan di dada sambil mengucapkan “om suastiastu, Pak Guru.

Selamat pagi Pak Guru,” seperti biasanya.

Yang ia temui hanya beberapa orang guru yang sudah hadir lebih dahulu dan seorang petugas kebersihan sekolah.

Tak ada lagi riuh rendah suara siswa bercanda dan suara para ketua kelas meminta teman-temannya yang piket untuk segera membersihkan ruang kelas dan halaman.

Tak juga ia jumpai siswa bergerombol untuk mengerjakan PR yang belum sempat terselesaikan semalam.

Semua terasa berbeda bagi Pak Gede.

Setelah memarkirkan motornya di tempat yang teduh, Pak Gede berjalan menuju ruang guru.

Sambil ngobrol  dengan guru yang lain, Ia membuka laptop dan menyiapkan handphone  untuk kegiatan pembelajaran hari ini.

Beberapa buku ia keluarkan dari meja kecil yang terbuat dari kayu jati itu.

Dibukanya beberapa halaman buku, kemudian ia foto beberapa halaman dan dikirmkannya ke grup wa kelas.

Isi pesannya dalam gambar “Selamat pagi anak-anak. Semoga kalian sehat dan selalu semangat belajar.

Hari ini pak guru mengirimkan tugas untuk kalian kerjakan hari ini ya.

Buka buku paket kalian halaman 125 dan kerjakan soal nomor 1 sampai nomor 10.”

Rutinitas yang dijalani Pak Gede sejak kegiatan pembelajaran di rumah di mulai.

Rutinitas beberapa bulan ini membuat Pak Gede Jaya merasakan ada yang hilang dari dirinya.

Ada yang terasa hambar dari rutinitas beberapa bulan terakhir ini.

Tak hanya Pak Gede Jaya sebagai guru yang merasakan adanya sesuatu yang kurang dalam kegiatan pembelajaran.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Putu Satya.

Ia yang kerap kali terlambat ke sekolah dan lebih sering membuat PR di sekolah merasakan ada yang kurang.

Ia merasa bahwa libur yang berkepanjangan ini tak seperti libur yang diharapkan.

Tak seperti libur saat hari raya Galungan dan Kuningan, tak juga seperti hari libur pembagian rapor.

Libur ini baginya terlalu panjang dan terlalu penuh dengan tugas.

Ia juga tak pernah lagi ditegur oleh Pak Gede Jaya saat terlambat sekolah.

Ia juga tak pernah diminta untuk mencukur rambutnya yang kian panjang dan kurang rapi.

Tak ada lagi yang memeriksa kebersihan kukunya setiap hari Senin selepas upacara bendera.

Berbeda, semua sungguh berbeda bagi Putu Satya.

Tak juga ia bertemu dengan teman baiknya kadek Agus, yang selalu membantu membersihkan halaman sekolah saat piket.

Atau Komang Ayu yang biasanya dimintakan membantu mengerjakan PR.

Kisah Pak Gede Jaya dan Putu Satya jamak terjadi di pelosok negeri ini.

Bahkan, mungkin lebih kurang beruntung dari cerita Pak Gede Jaya dan Putu Satya.

Seperti siswa yang tidak mampu membeli paket internet.

Banyak juga siswa yang tidak memiliki handphone  untuk proses pembelajaran secara daring.

Kovid 19 memang menjadi ancaman nyata bagi seluruh dunia.

Namun, apakah akan kita biarkan kovid ini menjadi penghalang proses KBM? Saya tahu rekan-rekan guru sudah melakukan berbagai upaya untuk menjalankan kebijakan pembelajaran secara daring.

Sudah mencoba berbagai aplikasi untuk mempermudah proses pembelajaran secara daring.

Mulai dari whats app google classroom, zoom, weebex, jitzi meet, dan sebagainya.

Mencoba berbagai metode agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.

Kalau dikatakan guru jadi santai saat pembelajaran daring, hal itu tidaklah benar.

Guru malah semakin banyak harus mempersiapkan perangkat pembelajaran.

Memikirkan cara penyajian yang tepat dan aplikasi apa yang digunakan untuk menyampaikan.

Mungkin kalau dikatakan, tugas guru jadi lebih banyak dari biasanya.

Sepertinya, pemangku kebijakan harus segera merespons berbagai kritik terkait dengan pembelajaran daring.

Bukan sekadar masalah pulsa atau paket data yang tidak mampu dibeli oleh siswa, kurang bagusnya jaringan seluler, tetapi juga hilangnya “jiwa” dalam proses KBM.

“Jiwa” dalam KBM adalah guru.

Sudah saatnya pemangku kebijakan mengembalikan peran guru sesuai dengan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 bahwa guru adalah  tenaga pendidik profesional di bidangnya yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, memberi pelatihan, memberi penilaian, dan mengadakan evaluasi kepada peserta didik yang menempuh pendidikannya sejak usia dini melalui jalur formal pemerintahan berupa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah.

Mengembalikan “jiwa” pengajaran dengan mempersiapkan sarana pendukung sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Mengembalikan Pak Gede Jaya dan guru lainnya ke dalam kelas dengan semangat pengabdiannya dengan mendidik Putu Satya dan siswa lainnya.

Mengembalikan kecerian Putu Satya saat berjumpa dengan teman-temannya dan para guru di sekolah.

Interaksi yang tak didapatnya selama pembelajaran daring.

Kegembiraan dan kejahilan yang seolah hilang ditelan daring.

Penulis: Wayan Pariawan