Mengapa Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia Masih Kurang Efektif?

295
Photo by Headway on Unsplash
Photo by Headway on Unsplash

Dengan diterapkannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat untuk wilayah Jawa-Bali dan di beberapa tempat lain di Indonesia, otomatis pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih terus berlanjut. Tentu saja ini membuat sebagian besar kalangan kecewa, namun meningkatnya kasus penyebaran Covid-19 adalah permasalahan yang harus kita hadapi saat ini.

Pemberlakuan pembelajaran jarak jauh ini sendiri sebenarnya memberikan dampak positif bagi kemajuan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah dari segi kemajuan teknologi dan informasi.

Karena mau tidak mau kita semua dipaksa oleh keadaan untuk memberlakukan kegiatan tatap muka jarak jauh (Virtual), sehingga banyak dari kita yang sebelumnya tidak pernah menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet atau platform lainnya.

Baca juga: Strategi Membangun Ritme Pembelajaran Daring

Walau demikian, tetap saja pemberlakuan pembelajaran jarak jauh ini masih memiliki kekurangan pada tahap penerapannya. Seperti misalnya regulasi yang dibuat oleh pemerintah pusat  masih bersifat general yang kemudian belum bisa diterapkan secara maksimal, selain itu dibeberapa pemerintah daerah juga masih belum membuat regulasi turunan agar regulasi tersebut lebih mudah untuk diterapkan.

Selain itu, askes listrik dan internet di beberapa wilayah juga masih minim. Ditambah dengan keterbatasan sarana dan prasarana seperti laptop atau HP serta keterbatasan kuota internet adalah masalah serius, yang menyebabkan beberapa sekolah di beberapa wilayah terkendala dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh. Walaupun pemerintah memberikan beberapa bantuan seperti kuota gratis bagi tenaga pengajar dan perserta didik, namun itu semua belum maksimal.

Kemudian harus kita sadari bersama, tidak semua orang tua dan peserta didik melek dengan teknologi dan informasi yang ada. Kendala gagap teknologi (gaptek) menjadi salah satu aspek paling berat yang menghambat efektifitas pemberlakuan PJJ di negeri kita ini.

Kurangnya sumber daya manusia yang memadai dalam penyuluhan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi merupakan rintangan yang harus dihadapi dalam menciptakan efektifitas PJJ.

Apalagi kegiatan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama lebih dari 1,5 tahun ini, malah menciptakan masalah baru, seperti kurangnya pemahaman siswa dalam memahami materi pelajaran di sekolah, serta ketidakpastian nasib tenaga pengajar dan siswa yang menjalankan proses pemberkakuan PJJ ini.

Pemerintah juga sempat menjanjikan akan menjalankan proses pembelajaran tatap muka (PTM), namun ternyata kasus Covid-19 justru semakin bertambah. Bukan tidak mungkin kekhawatiran yang dirasakan oleh banyak orang akan semakin membesar, apabila tidak berbenah dalam menentukan regulasi dan aktualisasi proses pembelajaran jarak jauh .

Bagaimana Solusi Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh Lebih Efektif ?

Dikutip dari situs www.medcom.id , Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda meminta Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tidak hanya berpasrah menerima keadaan serta harus ada terobosan untuk tetap menghadirkan pendidikan. Beliau mengatakan bahwa apakah begitu saja Kemendikbud menerima ini, mumpung sampai tanggal 20 (Juli), carilah terobosan yang melampaui sikap pasrah.

Syaiful Huda juga menambahkan bahwa, di saat PPKM Darurat Kemendikbudristek memiliki upaya memperbaik PJJ. Dan di saat bersamaan Kemendikbudristek memperbaiki kebijakan PTM terbatas. Perbaikan kebijakan ini yang nantinya juga akan menciptakan paradigma yang baik agar kedepannya rasa takut dan kecemasan yang dialami oleh masyarakat saat ini bisa teratasi.

Kemudian terobosan tersebut juga harus diimbangi oleh kebijakan turunan dari pemerintah daerah yang lebih inovatif,  agar di daerah tersebut dalam proses PJJ menjadi lebih terkendali. Karena mau tidak mau, yang lebih dekat untuk terjun langsung menjalankan kebijakan ini. sehingga kebijakan tersebut lebih efektif dan optimal.

Baca juga: Menyikapi Atrisi Moderasi Beragama

Tentu saja, di setiap daerah pasti memiliki kendala masing-masing sesuai dengan kondisi sosial budaya serta jumlah persebaran kasus Covid-19 di daerah tersebut. Salah satu daerah yang membuat regulasi turunan adalah Kota Yogyakarta.

Dikutip dari situs suarajogja.id, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja menyiapkan modul panduan untuk pembelajaran daring pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dalam menyambut tahun ajaran baru 2021/2022.

Oleh sebab itu, masing-masing dari kita harus lebih menumbuhkan kesadaran saling membantu dan terus memperkuat solidaritas diantara kita. Mungkin saja yang mengalami kesulitan dan kendala tersebut adalah orang-orang terdekat kita.

Kita pasti sadar bahwa peran pendidikan untuk kemajuan bangsa ini sangat penting. Dan hari ini sektor pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling parah terdampak Covid-19. Bantuan yang kita berikan walaupun tak seberapa lebih baik daripada kita hanya memberikan keluhan dan keresahan tak berujung.

Menciptakan suasana yang baik dan menyebarkan hal-hal yang positif. Walaupun hanya dari rumah saja secara tidak langsung justru merupakan sebuah langkah nyata dalam mengembangkan proses pendidikan di negeri ini agar kedepannya generasi emas akan lahir dan mampu membawa NKRI menuju nasib yang lebih baik.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid
(Alumni Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)