Mengajarkan Agama Sebagai Jalan Spiritual

93
agama sebagai jalan spiritual
Photo by Isabella and Zsa Fischer on Unsplash

Belakangan ini, polarisasi masyarakat atas nama agama semakin meruncing. Klaim benar-salah, hitam-putih, sesat-selamat menjadi patokan memandang liyan. Oleh oknum tertentu, agama dijunjung laksana pedang. Ia boleh dilayangkan untuk memenggal pemahaman yang tak mainstream.

Menurut saya, saat itulah agama dipuja. Bukan dimaknai sebagai jalan menuju yang Abadi. Menganggap agama yang dianut diri paling benar tentu boleh. Adalah keliru jika ada orang lain beragama sama, lalu menghayatinya dengan cara berbeda, kemudian dianggap sesat. Padahal, bahkan bukan hal mustahil kita memperoleh kearifan dari agama lain.

Agama bukanlah tujuan pemujaan melainkan jalan menuju Ilahi, Sumber kehidupan. Dengan cara berpikir seperti itu maka saya meyakini bahwa jalan itu tak mungkin tunggal. Kita berhak memilih jalan kebenaran kita, saat yang sama niscaya kita menghormati pilihan jalan kebenaran lainnya.

Lahan untuk menyemai kearifan, cinta kasih, dan merawat keragaman pemahaman keagamaan dalam bingkai persatuan adalah pendidikan. Di sini, calon-calon pemimpin ditempa. Agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dibutuhkan pendidik yang setia menjadi teladan. Terus-menerus mengingatkan mereka menjadi pelopor kebaikan. Kebaikan yang lahir dari rasa kemanusiaan bukan sekadar ajaran agama.

Baca juga: Karir: Keyakinan Hidup atau Kemauan Orang Tua

Sayangnya, belakangan ini pendidikan seperti kehilangan orientasi. Pandemi membuyarkan fokus pembelajaran. Tak semua elemen dalam praksis pendidikan siap dengan kondisi ini. Informasi yang melimpah kerap membuat gamang. Tak kurang pula yang membenturkan dengan agama. Di masa sulit, alih-alih saling menguatkan kita justru terjebak dalam perdebatan yang tak bermutu.

Residu pengkubuan di masa pilpres menambah runyam. Sebagian menyoroti gagalnya pendidikan. Masyarakat yang lambat dewasa sebab tingkat literasi yang buruk merupakan tanggung jawab pendidikan. Pendidikan benar-benar diuji. Setelah pandemi mereda, kasus pengrusakan masjid mencuat. Nalar kemanusiaan kita benar-benar koyak.

Pendidikan bertanggung jawab membimbing anak-anak agar kelak dewasa sebagai bagian dari masyarakat berkesadaran tinggi menghargai keragaman. Namun tak mudah, di tengah perubahan akibat pandemi maupun pergulatan politik yang kerap membelah masyarakat di dua kutub berbeda. Yang terjadi malah sulit menemukan tokoh politik sebagai teladan negarawan. Sangat disayangkan justru kita disuguhi oknum menteri dan anggota parlemen yang dicokok KPK.

Orientasi Sempit

Belum cukup persoalan pertentangan biner di masyarakat, anak muda langgas punya rumusan sukses ala mereka. Yaitu sebanyak-banyaknya meraup uang dari berbagai platform pasar digital. Sukses bagi mereka menjadi kaya. Materi ditempatkan nomor satu. Tugas sekolah yang bisa dijawab oleh mesin pencari otomatis bukan lagi tantangan melatih nalar. Dampaknya, mereka abai soal pentingnya membaca, empati, memecahkan masalah dengan kelompok belajar, juga peduli lingkungan.

Padahal, serupa dengan agama yang bukan tujuan, materi juga bukanlah akhir dari pencapaian. Jika agama adalah jalan, maka materi merupakan bekal secukupnya. Sayang, di simpul tertentu pemerintah turut latah, tujuan pendidikan direduksi hanya untuk memenuhi kekosongan onderdil dalam perangkat mesin ekonomi. Dengan jargonnya Link and Match. Pendidikan ingin ditujukan agar SDM unggul, nyatanya ancaman learning loss tampak nyata.

Idola remaja bukan lagi mereka yang luas ilmunya atau mereka para penemu karya berbudaya. Anak-anak sekolah beralih pandang mengidolakan para pesohor yang viral di media sosial dengan kantong kekayaan melimpah. Guru tak dianggap lagi sebagai faktor penting. Fungsi sekolah bukan lagi kawah candradimuka penggembleng mental tapi sekadar lembaga penyedia ijazah.

Berorientasi pada kesuksesan materi tentu tak sungguh-sungguh keliru. Tapi, menempatkannya pada prioritas pertama bisa berakibat lupa diri dengan nilai-nilai kebajikan. Anak-anak pelajar rawan akan dampak ini. Ketika kehampaan menerpa jiwanya, tak jarang mendadak “hijrah” yang menonjolkan ritus-ritus dan simbol agama sebagai pelarian. Janji “hidup kaya, mati masuk surga” ditabuh bertalu-talu nan merdu oleh para pesohor dan dai-dai baru yang riuh di jagad virtual dengan kemasan dakwah.

Tantangan adalah kesempatan

Kita selayaknya berharap sekolah menjadi persemaian benih kearifan ajaran agama dan menanamkan sikap bijak memaknai sukses. Pendidikan dapat menjalankan peran sebagai peletak dasar pemahaman bahwa agama merupakan jalan spiritual bukan tujuan pemujaan. Begitu pula materi, pendidikan harus sanggup mengajarkan bahwa materi cukuplah jadi bekal bukan untuk melumuri diri dengan kemewahan.

Untuk itu, diperlukan upaya belajar terus-menerus oleh para pendidik agar mampu menatap pandemi covid-19 sebagai tantangan yang membuka peluang. Pandemi merupakan titik balik memaknai pendidikan secara lebih luas.

Khusus untuk pendidikan agama, tak berhenti pada urusan ritual dan simbol. Dalam catatan ‘Jalan Pulang’ Maria Hartiningsih menulis, “kalau yang diajarkan adalah dogma agama, buahnya tribalisme dan fundamentalisme. Kalau yang diajarkan budi pekerti dan etika praktis sehari-hari, reformasi akan terjadi. Harapan akan solidaritas membesar”.

Langkahnya, pertama, kenalkan murid pada berbagai bacaan, terutama buku. Pendidik perlu senantiasa berusaha mengarahkan mereka agar mencintai membaca. Pendidik dapat memulainya dengan menjadi teladan. Etos mengajar tak cukup menyampaikan informasi. Dengan membaca, siswa mampu menemukan sendiri pengetahuan yang lebih luas sekaligus luwes.

Baca juga: Akselerasi Digital dalam Representasi Hari Pahlawan

Kedua, sentuh emosinya. Pembelajaran akan lebih bermakna dengan mengajak pelajar menuliskan harapan-harapannya, menceritakan pengalamannya, mimpi-mimpinya. Kenalkan pada ‘aturan emas’, tidak melakukan pada oranglain apa yang tak ingin oranglain perlakukan ke diri kita. Aktivitas membaca dan menulis bisa menjadi sarana olah nalar yang efektif.

Ketiga, mengajak siswa bekerja sama menyelesaikan masalah. Pembelajaran seyogyanya berupa aktivitas yang bisa mendorong anak didik mampu berpikir mandiri alih-alih sekadar menjejalkan hapalan. Murid menerima pelajaran sebagai asupan kontekstual bukan menelan informasi langsung jadi, tanpa berkesempatan mempertanyakannya.

Alhasil, pembelajaran yang memberdayakan akan mampu menginternalisasi nilai-nilai spiritual yang universal. Sehingga, sebagaimana penjelasan Maria Hartiningsih, peran agama sebagai jangkar kemanusiaan untuk membangun solidaritas bisa terwujud.

Penulis : Muhamad Dopir
Guru Bineka, Yayasan Cahaya Guru (YCG)