Mengabdi di Ujung Negeri Bina Kawasan Desa Paminggir

213
paminggir
Gambar oleh Thinh La dari Pixabay

 

Dalam bahasa Banjar; Paminggir artinya suatu daerah yang paling pinggir. Nama ini selaras dengan letak sebuah kecamatan diantara sepuluh kecamatan yang ada di kabupaten hulu sungai utara provinsi kalimantan selatan. Kecamatan Paminggir inilah merupakan kecamatan yang paling jauh dari kota Amuntai pusat kabupaten hulu sungai utara (HSU) yang langsung berbatasan dengan Kalimantan Tengah yang dibatasi dengan sungai besar yaitu sungai Barito.

Ya inilah tempat tugasku yang bernaung dalam program Bina Kawasan (Bantuan Intensif dan Pembinaan Pendidikan Agama dan keagamaan Wilayah Perbatasan) 3T yaitu tertinggal, terdepan dan terluar yang dipelopori oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dengan harapan program ini dapat menumbuhkan komitmen masyarakat 3T terhadap nilai ke bangsaan dan keislaman yang santun.

Selain itu Program ini juga mendukung pelatihan dan menyiapkan kader-kader dan calon guru pendidikan agama islam yang memiliki semangat pengabdian, kekaryaan, dan inovasi yang menciptakan inspirasi pengembangan masyarakat.

Tahun Kedua Mengikuti Program

Tahun ini merupakan taun kedua program ini diadakan dan tahun kedua juga aku mengikuti program ini  karena aku merasa program ini merupakan salah satu program dari Dirjen Pendidikan Agama Islam Republik Indonesia yang sangat tepat dan sangat mengena. Dengan mengirimkan guru agama ke kawasan 3T itu sangat membantu dalam kehidupan mereka karena masih banyak daerah-daerah terpencil khususnya di daerah 3T yang sangat minim tenaga pendidik khususnya guru agama islam.

Hal inilah yang menjadi motivasi dasarku untuk melanjutkan mengikuti program ini. Walaupun diperbatasan kehidupan kita sangat sulit dan terbatas, akan tetapi tidak tidak mengurangi kesemangatan kami untuk mengikuti program ini. Karena dibalik kekurangan dan keterbatasan tersebut banyak puluhan bahkan ratusan masyarakat daera 3T yang merasa senang dan terbantu dengan adanya program ini.

Dan mereka berharap program ini tetap berlanjut banhkan harapan besar bagi mereka yaitu peserta program ini ditambah sehingga lebih luas lagi daerah yang dapat di rangkul.

Baca juga: Mendidik Anak Secara Demokratis

Tantangan Baru, Pengalaman Baru

Meskipun ini merupakan program lanjutan bagiku, namun sekaligus menjadi tantangan serta pengalaman baru bagiku karena lokasi penempatan ku juga baru. Pada program pertama satu satun silam aku ditempatkan didaerah lepas pantai ditengah samudra Hindia di salah satu kabupaten dipulau sumatera yaitu di Pulau Pagai Utara kabupaten kepulauan Mentawai Sumatera barat.

Daerah yang sangat jauh dari pusat Provinsi Sumatera Barat yang harus ditempuh perjalanan laut selama empat jam dengan mengguanakan Speedboat atau dengan Kapal Very selama 12 jam.

Daerah yang rawan gempa dan pernah pada tahun 2008 terjadi tsunami, sehingga orang tua pun selalu mencemaskan keadaanku. Daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan sehingga kita yang minoritas harus selalu menjaga sikap dan selalu harus bersabar dan mengalah supaya berjalanya hidup rukun aman dan damai.

Pada program tahun kedua ini aku sangat bersyukur kepada Allah SWT. yang memberikan karunia kepadaku. Aku mendapatkan tempat tugas di sebuah kecamatan di provinsi Kalimantan Selatan. Aku sangat bersyukur mendapat lokasi dipulau Kalimantan ini dan orang tuapun sangat senang dan lega, karena kalau kata orang jawa Kalimantan itu dekat dengan jawa jadi mereka tak perlu cemas  lagi.

Selain itu Kalimantan Selatan merupakan provinsi yang terkenal dengan keIslamanya sehinga memanbah rasa syukur kita sekeluarga karena aku tidak akan mendengar lagi bunyi lonceng gereja yang bunyinya terdengar seantero desa, aku tidak akan mendengar lagi lagu-lagu kebaktian dirumah tetangga depan rumah dengan suara sound system yang full volume.

Aku tak kuatir lagi diledeki oleh anak-anak ketika kelupaan keluar rumah dengan mengenakan kain sarung atau dikejar atau gonggongi anjing ketika pulang dari masjid. Itulah sekelumit pengalaman yang luar biasa di tahun lalu maka pada tahun ini aku bebas ber ekspresi dengan kegiatan keagamaanku karena di lokasi kedua ini di pulau Kalimantan mayoritas masyarakatya 99% Beragama Islam kentel atau Islam yang benar-benar Islam bukan hanya Islam dimulut atau status diKTP semata.

Perjalanan Menuju Lokasi Program

Sebagaimana penjelasan di atas aku bertugas di kecamatan yang paling pinggir di kabupaten hulu sungai utara yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Tengah yaitu Kecamatan Paminggir Desa Paminggir Sebarang di SDN Paminggir Sebarang. Selain kecamatan yang paling jauh dari pusat Amuntai, akses jalanpun tergolong sulit karena daari Amuntai kita harus naik kendaraan selama 1 jam baru setelah itu kita harus naik perahu selama minimal 2 jam menerobos padang rawa yang sangat luas bahkan melebihi luas kota Banjarmasin sendiri sebagai ibu kota dari Prov. Kalimantan Selatan.

Dari Banjarmasin aku di jemput oleh ajudan pak Kasi Provinsi Yaitu Pak Dr. Sukriani untuk menginap di rumah Dr. Sukri, Pangilan akrab pak Kasi. Karena pak Kasi masih di Tanggerang, belum terbang ke Kalimantan jadi aku harus menunngu semalam di rumah belaiu.

Baru keesokan harinya kita berngkat bersama menuju kantor kemenag provinsi untuk bertemu dengan Ibu Kanwil Provinsi kemudian kita langsung berangkat ke lokasi sasaran akan tapi kamu harus sowan dulu ketempat Guru kami semua ( Orang Banjar ) yaitu Guru Abah Sekumpul ucap Pak Kasi.

Oh iya pak saya juga pengen sekali ziarah ketempat beliau sering liat di tv itu pak waktu haul beliau jawabku dengan penuh semangat karena memang belaiu sangat terkenal khusunya di Kalimantan ini Bahkan dijawa pun juga banyak yang mengetahuinya.

Sekilas tentang Abah Guru Sekumpul

Setelah berziarah kamipun bergegas berangkat menuju Kabupaten Hulu Sungai Utara Banjarbaru, Rantau, Kandangan, dan Berabai dan kemudian Amuntai yang memakan waktu 5 jam perjalanan dengan mengunakan mobil pak Kasi dan dalam kondisi lalulintas lancar jasa.

Kami menuju ke kemenag kabupaten untuk bertemu pak arifin Selaku Kasi Kemenag kabupaten Hulu Sungai Utara, namun karena kami kemaleman dan pak Dr. Sukri ada hajat untuk menemui istri dan anak beliau di Barabai maka aku menginap terlebih dahulu disebuah penginapan sedangkan pak Dr. Sukri menemui anak istri beliau dan menginap dirumahy di Berabai.

Keesokan harinya kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Dan Alhamdulillah setelah perjalanan satu jam dari Berabai kamipun sampai di Kemenag kabupaten dan bertemu dengan pak Aripin Kasi kabupaten. Setelah berbincang-bincang ringan sekaligus perkenalan kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju Danau Panggang yaitu tempat dermaga bagi setiap orang untuk menuju paminggir dan perjalan ini memakan waktu satu jam dilanjut dengan perjalanan air dengan menggunakan Klotok (Sebutan untuk mesin perahu motor) untuk menuju ke Kecamatan Paminggir.

Menyusur Sungai Dengan Klotok

Sebenarnya ini bukan jalan satu-satunya karena kita bisa melewati jalan darat akan tetapi kita harus memutar ke Kabupaten Hulu Sungai utara melewati ratusan kapling Perkebunan Sawit untuk yang jaraknya kurang lebih 25 Km ditambah perjalanan dari Hulu Sungai utara ke Hulu sungai Selatan yang jaraknya kurang lebih jadi harus memakan waktu berkali-kali lipat akan tetapi kita bisa menggunakan kendaraan roda dua.

Sedangkan dengan menggunakan klotok ini kita hanya memakan waktu dua setengah sampei tiga jam saja, apalagi jika kita menyewa Speedboad hanya memakan waktu satu jam sampai satujam setengah namun kita harus merogoh kocek kita sedikit dalam karena biaya untuk menyewa speed yaitu Rp. 500,000 sedangkan dengan menggunakan klotok hanya Rp. 25.000 saja jadi berkali-kali lipat dari harga tiket klotok.

Diantara desa dikecamatan Paminggir, desa kami dan paminggir seberanglah yang letaknya dipaling ujung kecamatan namun desa kamilah yang menjadi pusat kecamatan yang langsung berbatasan dengan Kalimantan tengah jadi kita harus melewati Desa Pal Batu, Bararawa, Sapala, Ambahai, baru kita memasuki Desa pamimggir dan paminggir Sebarang serta ada satu desa yang terpisah keluar diluar jalur taksi klotok. Kedelapan desa ini dipisah-pisahkankan oleh padang rawa yang luasnya hingga lima sampai sepuluh kilometer.

Hotel Burung Walet

Selain kita disuguhi pemandangan padang rawa yang sangat panjang kamipun melihat masyarakat sedang memancing ataupun menjaring ya ini lah salah satu aktifitas masyarakat di kecamatan ini. Selain itu tak sedikit dari mereka beternak kerbau rawa yaitu kerbau yang hidup liar dirawa tanpa ada kandang.

Namun diantara pemandangan itu yang membuat kita takjuk yaitu disepanjang desa dipaminggir ini kita selalu disuguhkan pemandangan hotel-hotel mewah, yaitu hotel bagi burung-burung walet dikecamatan ini.

Ya inilah yang menjadi mayoritas mata pencahariaan mereka, jadi walaupun kecamatan paminggir ini terletak dipaling plosok yang langsung berbatasan dengan Kalimantan tengah, namun  perekonomian mereka tergolong menangah karena hamper mayoritas dari mereka mempunyai hotel burung walet.

Karena Harga sarang walet yang sangat mahal yaitu harga paling murah sarah walet kurang lebih Rp. 8,000,000 ya inilah harga paling murah burung walet disini, jadi jikalau kita menjual sarang walet satu ons saja maka kita sudah mendapatkan Rp. 800.000 rupiah tanpa bekerja sekalipun penghasilan mereka pertiga bulan maksimal perempat bulan.

Maka tak heran  jikalau di kecamatan Paminggir ini sudah banyak yang berhaji atau bahkan banyak dari mereka yang sering pulang pergi Umrah bahkan sekeluarga.
Bersambung…

Penulis: Ahmad Cholil
(Peserta Program 3T Kemenag RI)