Mendidik Anak Secara Demokratis

187
demokratis
Photo by CDC on Unsplash

Sebagai Warga Negara Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan istilah demokratis. Berdasarkan bukti normatif bahwa Indonesia adalah negara demokrasi adalah pada dasar konstitusi yaitu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, semua konstitusi yang pernah berlaku menganut prinsip demokrasi. UUD 1945 Pasal 1 ayat 2 (setelah amendemen) berbunyi:

“Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar”.

Notonagoro, seorang peneliti dan pemikir Filsafat Pancasila mengklasifikasikan nilai-nilai demokrasi menjadi empat:

  1. Menyelesaikan persoalan secara damai dan bersama.
  2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu lingkungan yang sedang berubah.
  3. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman.
  4. Menjamin tegaknya keadilan.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Pergerakan Melalui Budaya Literasi

Jauh sebelum mengenal demokrasi sebagai warga negara, kita harus menumbuhkan dan membentuk pribadi kita sebagai pribadi yang demokratis. John Dewey dalam bukunya Democracy and Education pernah menyatakan bahwa “Demokrasi bukan sekedar bentuk suatu pemerintahan, tapi lebih sebagai pola hidup bersama (associated living) dan hubungan dari pengalaman berkomunikasi.

Kian banyak orang terlibat dalam kepentingan kepentingan orang lain yang berbeda, mereka akan kian banyak merujuk segala perbuatannya kepada kepentingan orang banyak, kian majemuk masyarakat akan semakin demokratis.”

Menanamkan Sikap dan Prilaku Demokratis

Untuk membentuk pribadi yang demokratis sekaligus sebagai warga negara yang menganut sistem demokrasi, tentunya harus mempunyai sikap dan perilaku demokratis, yaitu menghargai perbedaan pendapat. Sikap dan perilaku demokratis itu, tidak hanya dapat diajarkan hanya dengan beberapa tahun saja. Tapi, harus dimulai sedini mungkin. Karena itu, peran orangtua sangat kuat dalam menanamkan sikap dan perilaku. Tak hanya orangtua saja, melainkan masyarakat juga ikut serta dalam menumbuhkan sikap dan perilaku.

Untuk menjalankan kehidupan demokratis, setiap warga Negara bisa memulai dengan Cara mengubah sikap dan perilaku demokratis.  Yaitu dengan keluarga, keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang sangat penting oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya.

Pola asuhan demokratif ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginanya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap prilakunya sendiri dengan hal hal yang dapat diterima oleh masyarakat.

Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis, perkembangannya lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional.

Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis, membuat anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik, menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya.  Tidak ada orang tua yang menerapkan salah satu macam pola asuh dengan murni, dalam mendidik anak-anaknya.

Orang tua menerapkan berbagai macam pola asuh dengan memiliki kecenderungan kepada salah satu pola yang dominan cocok dalam keluarganya. Contoh sederhana dari pola asuh demokratis adalah seperti membiasakan diri untuk berbuat sesuai dengan hukum yang berlaku, membiasakan diri menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, membiasakan diri mengadakan perubahan secara damai tidak dengan kekerasan, dan masih banyak yang lainnya.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)