Mencintai Diri Sendiri

388
Photo by Ricardo Gomez Angel on Unsplash

Mencintai diri sendiri, Berbagai macam karakteristik dalam diri manusia sangat mempengaruhi kehidupan dan keseharian kita dalam menjalankan rutinitas. Sebagai makhluk sosial sekaligus bentuk implementasi dari nilai hablum minannaas, kita juga dituntut untuk menunjukkan bukti kecintaan kita terhadap orang lain, mulai dari orang-orang terdekat seperti keluarga, guru, dan murid, sampai orang-orang yang pada kenyataannya belum kita kenal sekalipun.

Dalam salah satu Riwayat hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda: “(Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya)”. Dari hadis dan penjelasan diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa jauh sebelum kita berbicara mengenai cinta kita terhadap orang lain, sudah seharusnya bagi kita untuk mencintai diri kita masing-masing.

Mengenali diri sendiri

Menurut saya, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan perasaan cinta bagi diri kita sendiri.

  1. Mengenali Kelebihan dan Kekurangan Diri

Mengenali kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri. Dengan begitu, kita akan mampu controlling dengan mudah dalam melakukan hal-hal yang membuat kita senang dan menghindari hal-hal yang berpotensi membuat kita tidak senang. Lalu, seperti apa tindak lanjut jika kita sudah mengenali kelebihan dan kekurangan diri.

Dalam menindak lanjuti kelebihan yang kita miliki, ada banyak cara untuk menyalurkan kelebihan kita, salah satunya eksplorasi dan tekuni. Banyak orang salah langkah ketika sudah mengetahui bahwa memang dalam dirinya, ada suatu kelebihan. Selain itu, pengamalan nilai tawadhu’ yang tidak pada tempatnya. Kadang kita terus merasa minder untuk mengeksplorasi kelebihan kita. Padahal, kita pantas, hanya saja kita takut bersaing. Diibaratkan, kita menyerah sebelum bendera perang dikibarkan.

Baca juga: Rahasia Kesehatan Dibalik Waktu dan Shalat Subuh

Kemudian untuk menindaklanjuti kekurangan diri, kita tidak perlu merasa minder atau sekarang dikenal dengan insecure. Bersyukur dan buktikan. Bersyukur karena kita masih dianugerahi banyak sekali kelebihan yang kita punya, dan itu tidak sebanding dengan kekurangan diri kita. Noda hitam di baju putih. Buktikan bahwa dengan segala keterbatasan, kita mampu menjadi sesuatu yang orang lain belum tentu mampu.

  1. Membangun Kepercayaan Diri

Kepercayaan Diri tidak datang dengan sendirinya, ia tidak datang jika tidak dijemput. Kepercayaan diri itu diciptakan, bukan pemberian dari orang lain. Kita adalah nahkoda tubuh kita sendiri, medan selalu berubah, tapi hanya kita yang tau arah kemana kita akan melaju.

Terkadang orang terlalu memikirkan bagaimana respon atau tanggapan orang lain, dan pada kenyataannya kita belum memulai apapun. Berfikir sebelum bertindak benar, tapi berlindung di payung pernyataan tersebut tidak selalu benar. Alwaqtu atsmanu minadzzahabi, waktu itu lebih mahal daripada emas. Siapa cepat dia dapat!

Banyak yang beranggapan bahwa tidak semua orang memiliki kepercayaan diri, tapi menurut saya yang lebih tepat adalah tidak semua orang mau membangun kepercayaan diri. Ibarat orang mau berdiri di tempat yang tinggi, tapi tidak mau menempuh setapak demi setapak yang harus dilewati.

  1. Upgrading Skill

Terakhir, untuk mencintai diri sendiri, kita perlu melampaui batas diri kita sendiri. Semua akan percuma dan sia-sia jika berbagai cara sudah dilakukan untuk mencintai diri sendiri, tapi kita tidak mengupayakan untuk upgrading skill yang kita punya. Dengan upgrading skill, ibarat menyelam sambal meminum air, satu kali dayung, satu dua pulau terlampaui. Jika tidak bisa menumbuhkan perasaan cinta terhadap diri sendiri, dengan cara ini kita akan mendapatkan kecintaan semacam reward dari orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Contohnya ketika kita bekerja, kita akan mendapatkan gaji karena skill yang kita punya, begitu perspektif komersial. Begitupun sudut pandang sosial, kita akan senang jika hal-hal yang kita lakukan ditanggapi positif, dipuji, dan lainnya oleh orang lain.

Mari cintai diriku, dirimu, dan diri kita versi kalian masing-masing.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)