Menakar Harga Manusia

476
Photo by Liane Metzler on Unsplash
Photo by Liane Metzler on Unsplash

Oleh: Emmy Kuswandari

(Praktisi Public Relations)

Dear Bhumy,

Tidak ada ketaatan yang patut dihormati selaian berdiam diri di rumah pada saat pandemi. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Tumben ya kita betah. Padahal, tanpa pandemi, biasanya kita sudah kabur entah kemana. Sehari saja diam 24 jam di rumah, pasti aku akan mendengar rengekan kamu. Entah kau bilang “Aku lumer nih lama-lama di rumah” atau “Kita ndak pergi nih?” kata-kata yang aku hafal betul setiap weekend tiba.

Masuk bulan ketiga berdiam di rumah saja tentu prestasi buat kita. Keluar kalau belanja makanan, ke rumah adek kecil Desta, atau sesekali olah raga. Ingat kan betapa rindunya kita pada Gelora Bung Karno? Tempat yang menyiksa badan kita supaya sehata dengan lari-lari mengelilingi GBK berkali-kali. Rekorku terakhir di sana menyelesaikan 21 km untuk menandai Prambanan Yogya marathon yang harusnya digelar Maret lalu. Saat itu beluma da  Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB) meski untuk masuk stadion kita harus dicek dan disemprot disinfektan. Kamu menyelesaikan 5 km kala itu.

Setelah itu dua bulan lebih kita tak menikmati GBK dari dekat. Kita rindu keramaian setiap harinya. Juga jajan mendoan, pisang dan kopi susu. Tempat olah raga yang menyenangkan. Kemarin sore baru kita kunjungi lagi tempat itu. Dengan suasana yang  berbeda.  Kita harus berjalan kaki 1.5 untuk bisa masuk ke sana. Itu pun hanya di lingkar luarnya saja. Lingkar dalam di stadion yang ramai dengan tempat makannya membisu dari keramaian. Pagar dikunci, gerobak-gerobak makanan diselimuti, padahal Garuda di sana melampai-lambai minta ditemani.

Kita parkir di FX, mall yang juga sudah tutup berbulan-bulan karena korona ini. Rasanya jadi warga terhormat mendapat tempat parkir di depan pintu kaca escalator. Jarang sekali kita bisa parkir dengan posisi seperti ini. Biasanya harus berdoa dulu sambil muter dari basement ke basement. Dari situ kita jalan menuju pintu masuk 12 di dekat Hotel Mulia. Satu-satunya pintu kelur masuk. Ada antrian meski tak Panjang. Diperiksa suhu badan, wajib cuci tangan dan jangan sampai lalai dengan maskermu, karena saat ini wajib kita kenakan di area publik. Pengeras suara berkali-kali mengingatkan agar kita berolah raga sambil jaga jarak. Hanya segelintir manusia. Mungkin lebih banyak penjaga dibandingkan yang berolah raga.

Itu segelintir cerita kita saat keluar rumah. Kala lain kita muter-muter kota hanya untuk melihat jalan dan menatap senja yang pelan-pelan datang. Bodoh memang. Tapi itu cara cerdas ala kita untuk menjaga kewarasan selama di rumah saja. Lalu pulang ke rumah sesudahnya. Aku selalu geli dengan pertanyaanmu: Sudah begitu saja? Lalu pulang? Itu tanyamu. Seakan tidak puas melihat jalanan yang mulai diterkam gelap.

Kita patuh. Entah karena disuruh, atau mungkin tak enak hati dengan orang lain di sekitar sana. Tapi menurutku bukan itu alasannya. Kita menawan diri sendiri dengan sadarnya berbulan-bulan di rumah saja. Kita memakan kuota demi kuota untuk bisa ketawa ngakak melihat lelucon di Youtube atau channel yang kamu suka.

Kita menawan diri dengan suka rela untuk waktu yang lama karena begitu cintanya kita dengan hidup ini. Tak ada uang mungkin lain kali bisa dicari. Tak bisa nongkrong untuk ngopi, bisa kita lakukan lain kali. Tak bisa cuci mata melihat lalu lalang orang di mall, bisa kita lakukan usai pandemi. Berdiam diri cara kita mencintai diri ini. Menutup pintu rumah adalah usaha kita untuk menghormati diri ini. Cuci tangan atau memakai masker bukan sekedar gaya baru karena orang lain melakukan, tapi niat kita untuk menjauhkan korona dari badan ini. Yang kita lakukan bukan karena ingin dilihat oang supaya dinilai tertib. Bukan. Tak peduli orang mau bilang apa, tetapi tahu ndak sih kamu, kalau kita sedang  belajar jujur dengan diri kita sendiri. Mengenal dan membaca diri kita sendiri dalam diam berbulan-bulan. Kalau tak melanggar aturan PSBB bukan karena kita ingin disanjung atau takut berlebih dengan korona, tapi begitulah kita menghormati karunia hidup ini. Ini adalah harga diri kita sebagai manusia. Dan kita sendiri yang bisa memberikan nilainya.

Begitu juga yang Bunda lakukan dalam pekerjaan Bunda.

Mengerti kan kamu, Anakku?