Memperkuat Persatuan Pasca Kemerdekaan

166
memperkuat nilai persatuan pasca kemerdekaan
Photo by Clay Banks on Unsplash

Sejarah mencatat bahwa Indonesia sebelum meraih kemerdekaan tidak pernah luput dari penjajahan.  Tentu tujuan dari penjajahan tersebut adalah merampas sumber daya alam yang melimpah.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya memiliki banyak sumber daya alam, keanekaragaman hayati; baik flora maupun fauna, bahkan hasil bumi dan juga minerba.

Pada 1509, portugis berhasil menguasai daerah Malaka, Tenat dan Madura. Salah satu yang melawan adalah fatahillah dari Demak yang berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada 1602.

Baca juga: Merayakan Kemerdekaan di Tahun Kedua Pandemi Covid-19

Setelah Portugis, Belanda masuk menjajah Indonesia di daerah Banten. Belanda membentuk VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie),

yaitu merupakan Kongsi dagang atau perusahaan hindia Timur Belanda  yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Tujuannya Belanda adalah agar lebih mudah menguasai rempah-rempah Indonesia.

Belanda memerintah Indonesia sekitar ±350 tahun, hingga akhirnya Jepang masuk ke Indonesia dan menyerang  Belanda hingga mereka menyerah tanpa syarat.

Pemerintahan Jepang berakhir setelah ±3,5 tahun kolonial dan berakhir setelah kekalahan pasukan sekutu dalam perang Dunia II dengan dibomnya dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.

Mengetahui Jepang telah kalah pada tanggal 14 Agustus 1945, maka dibentuklah Badan BPUPKI atau Dokuritsu Junbi Cosakai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat sebagai upaya untuk meraih kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB teks deklarasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh seorang proklamator bapak Ir. Soekarno didampingi Mohammad hatta di serambi depan rumah Soekarno, jalan Pegangsaan Timur Nomer 56 (sekarang Jl. Proklamasi Nomer 5, Jakarta Pusat).

Makna Kemerdekaan Bagi Rakyat Indinesia

Untuk bangsa yang pernah merasakan kejamnya penjajahan tidaklah mudah untuk mengobati rasa trauma. Bukan sekedar sebulan dua bulan untuk mengobatinya, perlu bertahun-tahun untuk mengembalikan mental warga negara agar terlepas dari rasa takut.

Merdeka berarti memiliki kebebasan, baik itu kebebasan bersosial, memiliki hak untuk menentukan hidup bangsanya sendiri  tanpa perlu khawatir segala bentuk penindasan dan penjajahan bangsa asing.

Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, maka bangsa Indonesia memiliki kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, bertanggung jawab mandiri dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Representasi Kebebasan Pasca Kemerdekaan

Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Saat bangsa Indonesia di fase berperang melawan penjajah hanya ada satu tujuan yang diringkas dalam makna “Kemerdekaan”.

Ketika melawan penjajah, bangsa ini memiliki musuh bersama yakni penjajah. Namun setelah penjajah pergi, bangsa Indonesia dihadapi berbagai masalah oleh bangsanya sendiri. Seperti utamanya masalah persatuan.

Sejak awal kemerdekaan, selalu ada konflik. Muai dari konflik soal penetapan dasar negara, perebutan kekuasaan, hingga penyelewengan. Banyaknya persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia menjadi catatan bahwa bangsa ini belum benar-benar mendapat kemerdekaan yang mutlak.

Baca juga: Refleksi Satu Muharram di Tengah Pandemi

Memang tidaklah mudah untuk menyatukan negara kepulauan yang begitu luas. Bukan hanya  karena terpisahkan oleh luatan, Indonesia juga memiliki berbagai macam suku, ras, dan budaya yang harus diselarakan.

Pada praktiknya, masih banyak kendala dan kontrofersi yang terjadi di masyarakat. Terlebih ego masing-masing suku masih sangat kental, setiap suku masih meninggikan kepentingan sukunya sendiri.

Isu-isu belakangan ini terkait tingginya tingkat korupsi di Indonesia merupakan salah satu bentuk penyelewengan terhadap kemerdekaan Indonesia.

Bangsa yang harusnya terbebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan bangsa asing, justru harus mengalami penjajahan oleh bangsanya sendiri. Hal tersebut tentu menjadikan jauhnya jarak  taraf kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Merdeka yang harsunya terbebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan justru disalah gunakan oleh bangsanya sendiri dalam merauk keuntungan individual semata.

Hingga hari ini ucapan Soekarno masih terbukti benar. Ketertinggalan yang bangsa ini alami hari ini disebabka oleh bangsa sendiri. Alih-alih bersatu untuk maju, malah disibukkan melawan satu sama lain.

seperti saat ini, kita sibuk melawan sesame karena perbedaan politik. Belum lagi konflik yang ditimbulkan dari perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Padahal jika kita menarik benang merah sejarah republik Indonesia atau mengamalkan nilai-nilai kemrdekaan, bangsa ini mampu lebih bijaksana dalam meraih persatuan dan taraf kesejahteraan.

Penulis: Naufal Imam Hidayatullah
(Mahasiswa PBA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)