Memompa Ide Menulis

750
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Oleh: Alamsyah M Dja’far
(Pendiri 1000 Islands 1000 Stories Kepulauan Seribu)

Di sebuah kafe yang menghadap sungai, saya dan Ayub Mursalin minum kopi sembari membicarakan “perkara-perkara kebangsaan”: penodaan agama. Berat! Sungai itu bersih. Airnya keabu-abuan. Sebuah kapal kayu berlabuh. Saya lihat sejak pertama kali saya datang pada Jumat dan tak pernah bergerak ke arah muara. Tampangnya tak seperti kapal-kapal di Pulau Seribu. Badannya lebih tambun. “Bisa jadi itu kapal tempat tinggal” kata Ayub memberi tahu. Di luar kafe, suhu Paris di bawah 10 derajat celcius dan ditiban hujan.

Ini kalimat pembuka dalam salah satu tulisan saya di dinding facebook, November 2018. Saya tulis tengah malam menjelang tidur setelah pagi harinya saya bertemu dengan seorang teman akrab. Saya gembira sekali bisa bertemu dengannya di sini, di kota Paris, di sebuah kafe tak jauh dari hotel tempat saya menginap.

Dalam banyak pelatihan menulis, saya sering mendapat pertanyaan peserta bagaimana mendapatkan ide untuk ditulis. Mereka sering mengeluh lantaran susah mencari ide. Nah, salah satu cara yang mungkin bisa dicoba adalah menulis hal-hal menggembirakan. Bisa juga sebaliknya. Menurut psikologi, pengalaman-pengalaman itu adalah hal yang paling gampang diingat manusia. Jadi, cobalah!

Saya menulis pertemuan menggembirakan ini sembari menceritakan bagaimana sosok teman karib ini dan pengalaman kami dulu. Bernostalgia. Lalu saya menulis kalimat-kalimat ini.

Menjelang Orde Baru jatuh, kami berdua adalah anggota forum kajian Piramida Circle, sebuah forum diskusi mahasiswa di Ciputat. Kami mahasiswa strata satu IAIN Ciputat ketika itu. Di forum ini kami mengkaji sosiologi, filsafat, dan pemikiran Islam kontemporer.

Sekilas nama Piramida Circle terdengar mentereng dan sangat “ilmiah”. Praktiknya tidak selalu demikian. Forum studi sebetulnya sebuah kosan yang dihuni beberapa mahasiswa dan ruang tamunya disulap sebagai tempat kajian. Waktu itu kami menghuni satu bangunan rumah tua dengan tiga kamar. Ayub tinggal di kamar bagian depan. Saya di kamar ketiga. Di kamar depan ia bareng dengan Imam Ma’ruf. Saya kira, nama ini, bakal jadi politisi potensial di masa depan. Amin ya Allah. Lain waktu akan saya ceritakan siapa dia.

Ayub tipe mahasiswa “baik-baik”. Hidupnya rapi dan teratur. Uang bulanan agak lancar. Ditambah lagi dengan usaha menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab. Sebagai yunior saya sering kebagian rizki dari usahanya itu. Ia tak merokok. Ayub mengambil Fakultas Syariah, saya Fakultas Dakwah. Saya angkatan 97, Ayub 96. Jika dia sudah punya pacar waktu itu, saya juga sudah.

Masih ada teknik lain dalam memompa ide. Permainan pertanyaan “bagaimana jika…?” Mencari ide dengan cara berandai-andai. Entah betul atau tidak, permainan inilah yang melahirkan ide film Jurrasic Park yang masyhur itu. Konon ide itu lahir dengan berandai-andai bagaimana jika dinosaurus yang hidup ratusan tahun lalu bisa hidup di era modern.

Beberapa kali saya menggunakan teknik ini untuk tulisan ringan saya. Suatu saat ketika saya berada dalam pesawat dan diombang-ombing awan, saya sempat berpikir bagaimana jika seandainya pesawat itu tiba-tiba terjerembab ke bawah dan pilot tak mampu menyelematkannya. Dari pertanyaan itu, saya menuliskan kalimat-kalimat ini.

Jalan pesawat yang mengangkut puluhan orang ini makin linglung dan sempoyongan dipukul awan. Saya yakin pilot sudah bekerja keras mengatasi situasi buruk ini. Tapi, tubuh pesawat tetap meluncur deras ke bawah. Penumpang berteriak. Ada yang membaca istighfar.

Segera saya ingat istri, anak, keluarga dan teman-teman. Sebentar lagi nyawa saya bakal lunas tanpa dicicil. Wajah Tenggara tampak jelas di mata. Mamanya kelak bingung menjawab pertanyaan bocah itu. “Mana Ayah? Mengapa tak pulang-pulang?”

Dengan kecepatan semacam ini, benturan pesawat dengan bangunan di bawah sana jelas memicu ledakan dan secara matematis tak akan ada yang selamat, termasuk saya. Dalam situasi begitu, kecil sekali diri ini. Seperti banyak orang, dalam situasi begitu saya selalu mengingat tuhan.

Tapi, semua itu hanya pikiran saya yang terlintas lantaran dipicu kecemasan. Pesawat berbaling-baling ini nyatanya berhasil menembus awan. Lalu saya lihat di bawah sana Bandung berkelap-kelip. Pesawat memiringkan sayapnya ke kiri dan terus meluncur, merunduk, lalu mencium landasan. Saya lega.

Jika merasa tak punya ide menulis, cobalah dua teknik ini. Semoga berhasil.