Memeluk Agama Dengan Penuh Cinta

662
Agama Cinta
Photo by febri sym on Unsplash

Pada zaman sekarang, agama masih menjadi sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan manusia. Baik yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, ataupun yang baru dibentuk di beberapa dekade terakhir.

Lalu, apa itu agama dan bagaimana kita menyikapinya?

Agama memiliki beberapa pengertian diantaranya meliputi kepercayaan dan penghormatan pada kekuatan supernatural atau kekuatan yang dianggap sebagai pencipta dan pengatur alam semesta.

Agama berperan sebagai penghubung dan menjadi hubungan itu sendiri.

Namun, hubungan seperti apakah agama itu? Apakah hubungan yang harmonis yang penuh cinta, atau hubungan yang dikekang dengan berbagai batasan?

Agama itu Cinta

Imam Jafar al Shadiq pernah menguraikan apa yang pernah diucapkan Nabi. Dulu Nabi
pernah bilang :“Al-Hubbu Asaasiy (cinta adalah fundamen-ajaranku)”, lalu Imam Jafar al
Shadiq menguraikankanya menjadi: “Agama itu cinta dan cinta itu agama”, demikian pula :“Apalagi agama itu kalau bukan cinta”.

Seperti halnya mencintai seseorang, cinta yang sebenar-benarnya cinta, cinta yang pakai hati dan tulus. Begitu pula cara kita seharusnya beragama, pakai hati dan penuh cinta.

Sama halnya yang disampaikan Haidar Bagir bahwa
:“Kurang dari cinta, agama bukanlah agama. Agama bisa jadi ilmu biasa”.

Sebagaimana cinta, agama melebihi akal dan pikiran manusia. Terlalu besar untuk dimaknai hanya dengan sebatas selera dan pemahaman manusia yang begitu sempit.

Agama yang penuh dengan cinta akan menghindarkan manusia dari masalah, menentramkan kehidupan manusia dan menghidupkan hubungan antar sesama manusia serta lingkunganya.

Modernitas Mengubah Agama

Namun, modernitas menggiring agama menjadi sesuatu yang lebih terkesan instrumental dan serba nalar.

Jika manusia mempercayai agama hanya sebatas nalar, rasional dan penafsiran tekstual, bisa jadi agama bertransformasi menjadi sebuah ketakutan.

Kita akan menjadi manusia penakut, takut akan Tuhan, takut akan siksaanya, namun lupa untuk takut kehilangan cinta-Nya.

Alhasil manusia, hanya melihat Tuhan dari kacamata kekerasan. Tanpa sadar mendorong manusia menjadi lebih keras. Hingga agama tidak lagi menjadi penentram kehidupan.

Agama malah jadi bengis pada hukum dan hukum menjadi lebih sempit. Hukum yang ditetapkan dalam batasan fanatisme sempit manusia yang mengaku beriman pada suatu agama.

Hingga manusia terjerumus kedalam jurang intoleransi yang mereka ciptakan karena keterbatasannya sendiri. Bahkan sikap intoleran tak hanya kepada umat lain, melainkan pada sesamanya.

Sungguh sayang, hal yang demikian bisa terjadi. Modernitas agama makin didukung dengan mejamurnya bacaan-bacaan provokatif dengan mengatasnamakan agama, bahkan Tuhan.

Tak hanya itu, perbuatan keji yang merenggut harkat dan martabat, bahkan nyawa seseorang seseorang masih marak terjadi. Dimana para pelaku menggunakan agama sebagai tameng dari apa yang telah mereka perbuat yang justru semakin memicu berbagai pandangan buruk manusia pada agama.

Ada sebagian yang berpendapat bahwa agama itu tidak perlu, sumber masalah, serta hanya menjadi penghambat perkembangan zaman yang kian modern.

Hingga banyak dari mereka yang memutuskan untuk keluar dari agamanya, hingga tak lagi mempercayainya.

Berdasarkan hal tersebut, agama makin terkesan menegangkan, penuh dengan berbagai masalah, penuh ujaran kebecian dan intoleran, meski jualanya adalah kasih dan damai.

Seperti halnya mereka yang koar-koar akan persatuan, padahal dirinya sendiri yang sebenarnya memisahkan diri dari kesatuan.

Memahami Hakikat Agama

Pada dasarnya, jika manusia benar-benar mengikuti agama pada hakikatnya, yaitu pengenalan Tuhan melaui penelusuran batin yang selaras dengan aktivitas keagamaan yang ada.

Maka hal tersebut akan menuntun manusia menemukan dirinya yang sejati, begitu pula imanya.

Iman yang sebenar-benarnya iman, iman yang tak hanya mengharapkan pamrih pada sang Maha Segalanya.

Dengan demikian, agama tak lagi terkekang dengan perannya menjadi pengontrol transaksi surga dan neraka.

Melainkan benar-benar menjadi penghubung manusia dengan Tuhan, yang dalam relasinya menghidupkan hubungan manusia dan manusia, maupun dengan ciptaan-Nya yang lain.

Dapat disimpulkan bahwa berbagai permasalahan yang dikaitkan dengan agama sebenarnya disebabkan karena keterbatasan pemahaman manusia dalam memahami agama dan Tuhannya.

Mereka hanya bertindak berdasarkan penafsiran tekstual yang telah mengabaikan makna yang sebenarnya dan menggunakan dalil hanya untuk menuntut hak nya. Sehingga muncullah klaim-klaim kebenaran sendiri seraya menyangkal kebenaran yang lain.

Seharusnya, tidak peduli bagaimana cara setiap orang beragama, yang terpenting adalah tidak perlu menyalahkan yang tidak sepaham dengan kita.

Karena iman adalah kepercayaan dan kepercayaan lahir dari pengalaman. Sebagaimana pengalaman orang berbeda-beda, kepercayaan orang juga berbeda-beda.

Hal yang demikian akan membuat kita tahu apa itu agama dan cara menyikapinya.

Penulis: Misbakhul Munir
(Mechanical Engineering Program, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University)