Memaknai Idul Fitri dalam Lingkup Pandemi

288
idul fitri
Sumber Foto Tirto.id

Takbir, tasbih, dan tahmid mulai berkumandang di seluruh penjuru dunia ketika masuk 1 Syawal. Bahkan, sebagian besar masyarakat Indonesia pada malam hari raya idul fitri mengadakan takbir keliling sebagai manivestasi kebahagiaan dan rasa syukur atas kemenangan yang diraih setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan penuh.

Baca juga: Ziarah Ingatan di hari Lebaran Idul Fitri

Hari raya idul fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa yang berkaitan erat dengan tujuan dari puasa itu sendiri yaitu la’allakum tattaqun menjadi orang-orang yang bertakwa. Bulan puasa merupakan kawah candradimuka bagi setiap Muslim, sehingga ketika hari raya idul fitri tiba kita diharapkan berhasil keluar sebagai orang yang bertakwa.

Idul fitri atau yang biasa disebut lebaran, terdiri dari dua kata yaitu Ied dan Fitri. Kata Ied berasal dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci, dengan demikian idul fitri bisa diartikan kembali suci. Hal ini senada dengan hadits Nabi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA)

Dengan demikian, ibadah puasa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh selama bulan Ramadhan akan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang bersih/suci karena kita telah mendapatkan ampunan dari Allah swt.. Oleh karena itu, idul fitri bisa juga disebut sebagai momentum kebangkitan umat Islam untuk mengarungi tahun-tahun berikutnya.

Pandemi Jadi Pembeda

Namun sayangnya, gegap gempita kemenangan dan kebahagian idul fitri pada tahun ini 1442 H. tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Virus corona yang masih bergentayangan menjadikan status pandemi di negeri ini belum berakhir, itu artinya kita dipaksa untuk mengikuti prokes yang ketat agar tidak terpapar virus ini.

Pandemi corona yang menyerang negeri ini sejak maret 2020 memaksa kita untuk beradaptasi dengan dunia baru, dunia di mana kemajuan teknologi sangat berperan aktif dalam menunjang segala aktifitas manusia. Mulai dari belajar, bekerja, bermain, dll semua dilakukan secara virtual seolah terjadi dinding penyekat yang menghalangi interaksi antara manusia satu dengan manusia lainnya.

Demikian juga dengan momentum idul fitri pada tahun ini tidak luput dari dampak pandemi corana, hari yang sangat meriah penuh dengan kebahagiaan kini harus direlakan demi terputusnya mata rantai penyebaran covid-19 dan untuk keselematan bersama.

Jika pada idul fitri sebelum-sebelumnya kita bisa asik bercengkrama dengan sanak saudara, mudik, saling bermaaf-maafan, bersilaturrahmi dengan sesama, sungkem kepada orang tua, bersama-sama menikmati opor ayam dan lain sebagainya maka pada tahun ini semua rutinitas tersebut tidak bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun demikian, pandemi yang masih berlangsung tidak lantas melenyapkan tradisi tersebut, semua tetap bisa dilakukan dengan cara yang berbeda yaitu secara virtual.

Kemajuan teknologi seolah menghilangkan sekat pembatas, jarakpun seolah tak berarti, ini bisa dilihat dengan adanya vitur video call yang bisa menghubungkan seseorang dengan yang lainnya seolah berhadapan meski terpisah jarak ribun km.

Modifikasi Lebaran

Lebaran adalah moment yang biasa digunakan oleh umat Islam Indonesia untuk bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan. Oleh karena itu, pandemi covid-19 jangan sampai menjadi penghalang untuk tetap bersilaturrahmi karena silaturrahmi bisa dilakukan dengan berbagai cara, jika tidak memungkinkan bertemu fisik maka solusinya adalah dengan virtual.

Islam mengajarkan umatnya untuk menyambung silaturrahim karena ia merupakan salah satu kewajiban, sedangkan memutus silaturahim termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Meskipun ada larangan mudik oleh pemerintah namun itu tidak menjadi penghalang untuk tetap bersilaturrahmi karena bisa dilakukan secara virtual, karena pada dasarnya esensi silaturahmi tidak harus bertemu fisik semata namun saling bertegur sapa, memaafkan, mendoakan, menyambung persaudaraan dan lain sebagainya juga termasuk dari silaturrahmi meski tidak bertemu fisik.

Selanjutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam moment idul fitri di antaranya adalah saling memaafkan. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 134:

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.

Allah menegaskan, bahwa seorang Muslim yang memiliki ketakwaan dianjurkan mengambil paling tidak satu dari tiga sikap seseorang yang telah berbuat kesalahan. Sikap itu adalah amarah ditahan, memaafkan, dan berbuat baik terhadap orang yang berbuat kesalahan.

Saling memaafkan antar sesama harus tetap dilaksanakan meskipun terbentang jarak dan keadaan, hal ini akan menjadikan diri kita benar-benar bersih dari dosa. Setelah kita berpuasa sebulan penuh yang berimplikasi pada ketakwaan diri ini dan dihapusnya dosa-dosa kita oleh Tuhan (hablumminallah), selanjutnya adalah urusan kita antar sesama manusia (hablumminannas) untuk saling memaafkan.

Setelah diri kita benar-benar bersih maka langkah selanjutnya adalah mari kita sungguh-sungguh memohon ampunan dan pertolongan Allah subhanahu wata’ala atas semua dosa kita yang menjadi sebab diturunkannya wabah Covid-19 ini.

Telah berlalu usia kita tapi kita tidak sungguh-sungguh dalam bertaubat, berdoa, dan beribadah untuk mengikis habis kesombongan kita sehingga jiwa ini benar-benar kembali menjadi jiwa yang fitri dan bersih dengan cara memperbanyak membaca istigfar.

Semoga lebaran ini benar-benar menjadi momentum kebangkitan untuk mengarungi tahun-tahun selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Semoga ……!

 

Penulis: Abdul Aziz
(Guru SD Islam Al Azhar 8 Kembangan)
Pengurus LP Maarif PCNU Tangerang Selatan