Spiritualitas Bung Karno – Bagian I

730
Soekarno dan Agus Salim | Wikimedia Commons

Oleh: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Jakarta)

Pandangan hidup yang dilandasi semangat ketuhanan menempati posisi penting dalam dasar negara Republik Indonesia. Soekarno, salah satu bapak pendiri bangsa dan perumus Pancasila, memiliki konsepsi ketuhanan yang khas, yang ia sebut sebagai ”ketuhanan yang berkebudayaan”. Dalam uraiannya mengenai prinsip Ketuhanan pada pidato 1 Juni 1945, Soekarno berkata:

”Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al-Masih; yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad Saw; orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi, marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesai ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ’egoisme agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia negara yang ber-Tuhan!”

Ketuhanan tanpa ’egoisme agama’ itu dilukiskan oleh Bung Karno sebagai ”ketuhanan yang berkebudayaan, ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, ketuhanan yang menghormati satu sama lain.” Konsep ”ketuhanan yang berkebudayaan” ini memiliki jejak historis dalam pengalaman spiritual Bung Karno.

Bung Karno berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Menurut pengakuannya sendiri, ”Kakekku menanamkan pada diriku kebudayaan Jawa dan mistik. Dari bapak datang teosofi dan Islamisme. Dari ibu, Hinduisme dan Buddhisme.” Perkenalannya lebih lanjut dengan Islam dialaminya tatkala tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya. Bung Karno menuturkan:

”Aku juga seorang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan, sifat yang melekat padaku sejak lahir. Aku tidak pernah mendapat pendidikan agama yang teratur karena Bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri agama Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya-jawab.”

Perkenalan Bung Karno dengan Islam juga tidak dapat dilepaskan dari sosok KH Ahmad Dahlan. Dalam pidato di depan peserta peringatan 50 tahun Muhammadiyah, 26 November 1962, Bung Karno berkisah tentang perjumpaannya dengan KH. Ahmad Dahlan. Bung Karno bertutur:

”Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tablig mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragam Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orang tua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

Tabligh itu membuat Bung Karno tercerahkan, terutama berkaitan dengan pemahaman atas Islam yang berpihak pada kaum miskin—filosofi Surat al-Ma’un—dan dorongan untuk melakukan ijtihad. Sejak usia 15 tahun, Bung Karno kerap mengikuti kemanapun KH. Ahmad Dahlan menggelar Tabligh.

Pada pertengahan 1920an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuat Bung Karno semakin mendekat kepada Tuhan. Dalam pengakuannya, ia mengungkapkan:

”Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhan-nya orang Islam. Bahkan, selagi aku melangkah ragu pada awal jalan menuju kepada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Mahakuasa sebagai Tuhan seseorang. Menurut jalan pikiranku, kemerdekaan bagi kemanusiaan meliputi juga kemerdekaan beragama.”

Pelbagai cobaan hidup yang menimpa dirinya, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih peka terhadap energi ketuhanan. Sebagaimana dikemukakan Im Yang Tjoe: ”Betul, karena dengan peristiwa itu, jiwanya Soekarno telah menjadi semakin matang dalam kedukaan. Ia sekarang banyak memperhatikan hal-hal kerohanian. Rupanya kedukaan telah membuka pikirannya buat mencari ketenangan dari Tuhan.” Menurut Yudi Latif, suasana kejiwaan seperti itu, bertautan erat dengan perjumpaan Bung Karno dengan pelbagai tokoh lintas agama.

Im Yang Tjoe melukiskan kembali pengembaraan Bung Karno itu secara indah. Ketika H. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya. Bermula dari diskusi mengenai pergerakan nasional, lalu mengerucut ke persoalan agama dan Allah—suatu momen kebetulan bagi Bung Karno yang jiwanya sedang haus siraman rohani. Setelah bertukar pikiran hingga larut malam, Bung Karno merasa bahwa pemahaman Agoes Salim tidak selalu cocok dengan jalan pikirannya. ”Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang tuan ’gambarkan’ itu tidak cocok dengan pendapat saya,” ujar Bung Karno sambil berpamitan pulang. Agoes Salim pun tersenyum dan geleng-geleng kepala sendirian, seraya berkata: ”Ah, anak muda kepala batu, tapi saya doakan mudah-mudahan Allah SWT akan menerangi pikirannya.”

Di lain waktu, ia bertemu dengan Pastor Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun Bung Karno berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang digambarkan Sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno sangsi, ”Katanya Tuhan itu kebesaran-Nya tidak terbatas, tapi kenapa oleh Van Lith dibataskan kepada apa yang baik saja, sedangkan yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok. Dengan mendongkol, namun tetap dalam ekspresi cinta, Pastor itu pun berseloroh, ”Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, ”Tuhan akan mengampuni saya.”

Dalam pencarian berikutnya, Bung Karno sering mengunjungi kampung-kampung dan gang-gang kumuh untuk mencari Tuhan seperti yang dilukiskan oleh Tolstoy, bahwa Tuhan berada di tempat-tempat yang penuh debu. Tentang hal ini, Bung Karno punya ungkapan yang menyentuh, ”Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Meski begitu, dahaganya akan Tuhan belum juga terpuaskan.

Pencarian mengantarkannya pada buku-buku Hinduisme dan Buddhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927 membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Bung Karno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tidak cepat puas. Ia pun berseru, ”Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisnya manusia dari satu badan ke lain badan, dari satu penghidupan ke lain penghidupan, yah, boleh jadi. Tapi di sini masih ada satu pertanyaan: ’Kalau manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan dosanya, pertanyaannya adalah apakah manusia mempunyai DIRI-nya sendiri?’ Ah, tidak, tidak. Ini belum memuaskan.”