Memahami Lintasan Batin

173
Memahami Lintasan Batin
Photo by Anna Jahn on Unsplash

Membentuk sifat baik tidak mungkin tanpa membaca, mengenali, dan memahami lintasan batin. Begitulah kira-kira pernyataan al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin. Sementara batin seorang manusia secara garis besar selalu dihadapkan pilihan antara lintasan positif yang berasal dari malaikat atau lintasan negatif yang berasal dari setan.

Dalam pembagian lain, batin manusia dihadapkan pada tiga lintasan. Pertama, lintasan batin yang berasal dari setan (khotir min syaithon). Kedua, lintasan batin yang berasal dari manusia itu sendiri (hawajiz). Ketiga, lintasan batin yang berasal dari Allah swt (khotir yaqin). Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م.: “لِابْنِ آدَمَ لَمَّتَانِ: لَمَّةٌ مِنَ الْمَلَكِ، وَلَمَّةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ، وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، وَتَطْيِيبٌ بِالنَّفْسِ، وَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ، فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ، وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَتَخْبِيثٌ بِالنَّفْسِ.

Rasulullah saw bersabda: “Ada dua lintasan batin bagi manusia, yakni lintasan yang berasal dari setan dan berasal dari malaikat. Lintasan batin dari malaikat mendorong kepada kebaikan, membenarkan yang hak, dan menjernihkan jiwa. Sedangkan Lintasan batin dari setan mendorong kepada keburukan, mendustakan yang hak, dan mengotori jiwa.” 

Baca juga: Menyikapi kehilangan Adalah Suatu Kenikmatan

Maka tidak mengherankan jika kita pernah mengalami kondisi hati yang plin plan. Saat kita menginginkan sesuatu yang baik, saat itu pula ada pikiran yang menjegalnya. “Besok aku akan berpuasa sunnah senin kamis”. Namun keesokan harinya kita mendapat bisikan “Kalau hari ini aku puasa, akan membuat lemas dalam bekerja. Sudahlah tak usah dipaksa berpuasa, toh hanya sunnah saja”.

Memaknai Lintasan Batin

Hakikat hati bagi Ibnu ‘Arabi (w. 1240 M) dalam al-Futu>h}a>t al-Makiyyah juz 2 pada bab ke 27 fi> al-hajj wa asra>rihi bagaikan sebuah ka’bah yang dikelilingi oleh para hujjaj. Hati seorang manusia adalah “rumah” sesungguhnya yang amat mulia. Berkunjung ke hati, berarti berkunjung ke rumah.

Maka, layaknya hujjaj yang thowaf mengelilingi ka’bah, segala gagasan dan buah pikir pun mengelilingi hati. Ketika para hujjaj berthowaf mengelilingi ka’bah dengan penuh penghormatan dan pengagungan kepada-Nya, maka sudah sepantasnya hati kita diupayakan menjadi rumah yang dikelilingi oleh gagasan dan buah pikir mulia.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana kita membedakan mana lintasan batin yang diikuti dan mana yang harus dijauhi? Syekh Abdul Qodir al-Jailani memberi pesan:

إِيَّاكُمْ أَنْ تُحِبُّوْا أَحَدًا أَوْ تَكْرَهُوْهُ إِلَّا بَعْدَ عُرْضِ أَفْعَالِهِ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ كَيْلَا تُحِبُّوْهُ بِالْهَوَى وَتَبْغَضُوْهُ بِالْهَوَى

“Janganlah kalian terlalu mencintai sesuatu atau membencinya, sebelum kau menelitinya apakah sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah atau tidak. Agar kecintaan atau kebencianmu tak dilandasi oleh hawa nafsu.” 

Jika sebuah pikiran hati kita sejalan dengan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, maka dapat dipastikan hal tersebut adalah sesuatu yang positif. Demikian sebaliknya, jika pikiran hati kita tidak sejalan dengan dengan keduanya, maka dapat disinyalir hal tersebut bersumber dari hawa nafsu atau dari setan.

Kecerdikan Setan Mempermainkan Hati

Setan memiliki kepiawaian dalam mempermainkan hati kita. Bahkan seorang tokoh sufi yang hidup di abad ke-3 Hijriyah, yakni Sahl bin Abdullah pernah dibuat kebingungan.

Sebagai seorang sufi yang memiliki keistimewaan berupa kemudahan dalam sambungan komunikasi dengan makhluk ghaib, membuatnya pernah berdebat melawan Iblis dengan tensi tinggi dan sengit yang membawa pada percekcokan antar keduanya. Saat itu Iblis mengucapkan potongan surat al-A’raf ayat 156.

وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖ

“dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” 

“Hai Sahl, ketahuilah! Aku ini salah satu yang dimaksud dalam ayat ini. Sebab lafal كُلَّ menunjukkan makna meliputi secara umum, dan lafal شَيۡءٖ merupakan kata yang paling menunjukkan makna umum. Maka aku pasti mendapatkan rahmat Allah swt.” Iblis dengan gagahnya menjelaskan potongan ayat tersebut kepada Sahl.

Demi Allah, sungguh Iblis telah membuatku terkejut sekaligus bingung untuk mendebatnya.” Setidaknya itu merupakan pengakuan Sahl atas apa yang ia rasakan saat itu. Kebingungan dan berpikir keras, bahkan sampai membuatnya membolak balik bacaan ayat tersebut dalam hati.

Hingga akhirnya Sahl merasa bahwa ia telah menemukan jawaban atas pernyataan Iblis, ketika ia sampai pada lanjutan ayat tersebut.

فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلَّذِينَ هُم بِ‍َٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”

Hai terlaknat, sesungguhnya Allah swt mengkhususkan rahmat-Nya untuk orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada tanda kekuasaan-Nya. Maka, engkau tidak termasuk di dalamnya!” jawab Sahl dengan tegas.

Iblis hanya tersenyum jahat, menunjukkan betapa ia sangat merendahkan Sahl serta argumentasinya. Namun tak berselang lama, Iblis langsung menjawab dengan ucapan keras

Baca juga: Nikmat Terbesar: Berjumpa dengan Allah, Caranya?

“Demi Allah, hai Sahl! Tak kusangka engkau begitu bodoh memahami sifat Allah swt. Lebih baik kau diam saja Sahl! Tak tahukah kau bahwa membatas-batasi adalah sifatmu sebagai manusia, bukan sifat Allah yang Maha segalanya dan tak dibatasi sesuatu?!” tutup Iblis dengan lantang.

Tercengang sambil menelan air ludah yang sempat terhenti di tenggorokan, itulah yang dialami Sahl pada saat itu mendengar jawaban Iblis yang baginya amat menusuk dan membuatnya termenung cukup lama.

Kebingungan masih meliputi dirinya, ia tak tahu harus menjawab apa lagi atas pernyataan Iblis yang membuatnya merasa bersalah dalam memahami sifat Allah. Seolah ia telah salah menilai Allah dengan membatas-batasi sifatnya.

Meski pernyataan Sahl disukung dan dibenarkan oleh para ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, al-Zamakhsyari, dan al-Thobari yang sepakat menyebutkan bahwa rahmat Allah swt secara umum diberikan kepada semua makhluk-Nya, namun rahmat secara khusus diberikan oleh Allah swt kepada orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada tanda kekuasaan-Nya.

Dari kisah ini dapat kita petik sebuah pelajaran betapa pentingnya menjaga lintasan batin agar tak dikuasai oleh setan. Hati yang terbiasa dikelilingi oleh lintasan negatif akan membentuk pribadi yang buruk.

Sebaliknya hati yang terbiasa dikelilingi lintasan positif akan membentuk pribadi yang baik. Padahal sejak bayi, setiap manusia dilahirkan dalam kondisi bersih, suci, dan terhindar dari lintasan negatif. Sehingga sudah sepatutnya kita menjaga agar lintasan batin positif selalu memenuhi relung hati agar dapat memutuskan sesuatu perkara dengan baik dan menimbulkan dampak positif.

Memahami lintasan batin menjadi suatu yang penting bagi seorang guru. Ia harus mengenali dan mengendalikan lintasan batinnya sendiri. Sekaligus memberikan pemahaman kepada para siswa akan lintasan batin mereka masing-masing. Sehingga para siswa mampu mengendalikan hati agar mengikuti lintasan batin yang bersifat positif dan mengarah kepada kebaikan.

Penulis: Rizki Fathul Huda
(Mahasiswa Sps UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)