Melawan Melalui Lelucon ala Gus Dur

233
Lelucon Gus Dur
Pinterest

Mengenal Gus Dur

K.H Abdurrahman Wahid atau lebih familiar dengan panggilan Gus Dur sudah tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia umumnya. Tentu kita mengenal Gus Dur baik dari mulut ke mulut maupun literatur. Seorang tokoh ulama kharismatik yang juga dikenal sering melontarkan lelucon berbobot, bahkan sempat menjabat sebagai ketua umum PBNU pada tahun 1984.

Gus Dur juga merupakan mantan bapak presiden republik Indonesia yang keemapat pada tahun 1999 hingga 2001, sekaligus seorang revolusioner bagi bangsa Indonesia. Bukan hanya dikalangan umat islam saja, tapi juga bagi umat non-muslim. Allahuyarham.

Gus Dur meninggal dunia pada tanggal 30 Desember tahun 2009, atau jika dikonversikan dalam kalender qomariah atau hijriyah tanggal tersebut bertepatan dengan 14 Muharram 1431 H. Dengan demikian, setiap tanggal 30 Desember selalu diperingati dengan Haul Gus Dur.

Gus Dur merupakan warga Nahdliyin yang sangat tinggi dengan nilai-nilai sosial. Disamping menyuarakan nilai toleransi dalam kehidupan sekaligus juga mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan membumikan nilai-nilai keadilan. Selain seorang sosialis, Gus Dur juga seorang penulis.

Sang Penulis Ulung

Mulai dari tulisan-tulisan ringan hingga karya ilmiah. Karena Gus Dur merupakan santri yang memiliki semangat belajar yang ulet dalam menimba ilmu agama, Gus Dur juga menulis sebuah buku berbahasa Arab. Tulisan-tulisan Gus Dur bahkan pernah dimuat pada kolom koran Tempo yang diusulkan oleh Syu’bah Asa. Karena saking rutinnya Gus Dur menulis hingga dijadikan sebuah buku yang berjudul “Melawan Melalui Lelucon”.

Buku tersebut berisikan sebuah kumpulan-kumpulan tulisan Gus Dur yang didalamnya memuat berbagai bab tentang; Agama dan Pesantren, Tokoh, Sosial Ekonomi, Sosial Politik, Luar Negeri, dan Budaya. Buku tersebut bukan hanya membahas tentang keislaman dan sosial saja, tapi juga membahas perekonomian, politik, hingga budaya. Hal tersebut membuktikan bahwa Gus Dur merupakan sosok ulama intelektual.

Judul buku tersebut merupakan representasi Gus Dur dalam menyuarakan hak-hak yang sempat hilang pada masa Orde Baru. Gus Dur terkenal dengan guyonan-guyonan yang masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, guyonan Gus Dur mampu membuat pendengar atau pembaca karyanya berpikir kembali bahwa hal-hal yang yang rumit dapat disederhanakan.

Kritik Melalui Guyonan

Ditambah pada masa itu rezim Orde Baru sedang hangat-hangatnya berkuasa di Indonesia, dimana tidak adanya kebebasan berbicara maupun pers. Maka melalui guyonan lah Gus Dur mengkritik pemerintah pada masa itu.

Ada sebuah kisah menarik menurut kami di dalam buku tersebut; Diceritakan, ada seorang pejabat  tinggi yang bercerita di depan umum tentang banyaknya masyarakat Indonesia yang terjangkit sakit gigi.

Sampai-sampai mereka semua harus berobat di Singapura. Apakah karena di Indonesia kekurangan dokter gigi atau kualitas dokter gigi di Indonesia sangatlah rendah? Ternyata tidak, yang menjadi sebab adalah karena di Indonesia orang-orang tidak boleh membuka mulut.

Lelucon seperti ini jelas menunjukan protes terselubung atas sulitnya menyatakan kebebasan berpendapat yang dialami masyarakat di masa-masa Orde Baru. Sebagai akibatnya banyak ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah, seperti SARA (ras, suku, agama, dan antar golongan).

Sampai-sampai masyarakat menengah kebawah membicarakan masalah politik adalah masalah yang tabu. Maka Gus Dur mencoba cara baru dalam mengkritik pemerintah dengan cara yang sangat efektif pada masa itu.

Sebenarnya banyak cara dalam mengkritik dan melawan rezim Orde Baru pada saat itu, dengan melalui tulisan, konferensi, audiensi, gerakan demonstrasi atau aksi masa dan juga cara dengan lelucon yang dipakai oleh Gus Dur saat itu. Kritik menggunakan lelucon terbilang kurang efektif kalau dilihat dari sudut pandang politik.

Guyonan Sebagai Ekspresi Sikap Politik

Karena lelucon merupakan perkataan yang bersifat humor (jenaka) dan dianggap tidak serius. Lelucon sendiri dapat diartikan menyenangkan maupun menyakitkan sesuai penggunaannya. Cara Gus Dur ini lah yang terbukti dalam mengkritik rezim Orde Baru  sebagai wahana ekspresi politis yang memiliki kegunaanya sendiri, seperti menyatukan bahasa masyarakat luas dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan dan diresahkan.

Begitulah cara Gus Dur menyuarakan keadilan bagi demokrasi di Indonesia ditengah keganasan Orde Baru yang merenggut keadilan sosial masyarakat. Dengan keberanian Gus Dur dibantu oleh Tempo memberi perlawanan arus bawah bagi pemerintah. Buku ini memberikan angin segar bagi pembacanya dari sebuah humor mampu memberikan dorongan kepelbagai kalangan lapisan masyarakat. 

Sebagai penutup, Gus Dur adalah representasi NU yang modern bagi orang di luar kelompok organisasi keagamaan tersebut. Gus Dur juga banyak diterima berbagai golongan kemasyarakatan dan agama lain. Bahkan golongan marjinal sampai agama lain sekalipun sangat menghormati sosok Gus Dur karena nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan.

Penulis: Naufal Imam Hidayatullah