Masalah Sampah di Indonesia semakin Mengkhawatirkan

319
Sampah
Photo by Ocean Cleanup Group on Unsplash

Saya melewati papan menuju pantai dengan wajah yang tersenyum di atas cadik warna-warni. Tangga kayu yang kokoh saya naiki dengan beberapa cekukan. Pemandu mengangkut jangkar, memulai hal menarik dan berjalan melintasi teluk dangkal untuk sarapan.

Baca Juga: Berislam ala Indonesia bersama Maria

Perjalanan penuh Pesona

Jam-jam pertama pada waktu pagi dihabiskan dengan satu mata memandang, matahari muncul di atas cakrawala yang terisi, yang lainnya ada bayangan biru bergelombang diantara anjungan lobster yang tersebar.

Pemandu saya yang menyeringai, Ares, menafsirkan setiap gelombang dengan presisi yang menunjukkan hubungan seumur hidupnya dengan laut ini. Tanpa ragu, Ares mengepulkan asap rokoknya ke setiap sela atap langit.

Kali ini tujuan saya adalah Gerupuk, sebuah desa nelayan di pantai selatan Lombok, NTB. Desa ini terletak di sisi timur teluk yang sangat dilindungi sekitar 20 menit berkendara dari Desa Kuta. Pantai yang dilapisi air zamrud yang jernih, dan terlihat Gunung Rinjani yang megah terbaring dalam diam, terbengkalai dalam jarak.

Seperti banyak petualang yang tumbuh berkembang di kota yang padat, lalu lintas yang kacau, dan banyak gangguan, saya mencapai keadaan tenang ketika tiba di suatu tempat yang jauh dan terpencil. Dalam dekapannya, banyak orang tidak lagi mementingkan gagasan tentang bagaimana hidup, mencintai, dan bekerja.

Obyek Wisata dan Sampah

Setiap kali mengunjungi obyek wisata, kita mudah saja menemui banyak botol yakult, botol aqua, sachet sampo, atau puntung rokok yang tak terhitung jumlahnya di jalanan, terutama kantong plastik yang berserakan dan seringkali dihembuskan oleh angin.

Ini adalah kenyataan yang benar-benar menyedihkan sekaligus mengejutkan bahwa Indonesia adalah penyumbang polusi plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Setidaknya 90% dari limbah laut di dunia dipasok oleh hanya 10 sungai, 8 diantaranya di Asia. Berarti laut di sekitar kepulauan terbesar di dunia berada di pusat krisis

Sebanyak 8 juta metrik ton yang memasuki lautan per tahun adalah setara dengan setiap garis pantai yang secara global dipagari dengan orang-orang dan bahu-membahu dari masing-masingnya melemparkan lima kantong plastik ke lautan.

Ini adalah jumlah yang menakutkan dan batas tak terduga yang menyebabkan rasa sinis yang khas diberikan ketika membahas subjek ini adalah “Ya itu mengerikan, tapi bagaimana anda memulainya?”. Sebuah pertanyaan yang adil.

Sampah Plastik Seolah Menjadi Budaya

Praktik menghindari plastik sekali pakai selama sehari cukup menantang di banyak kota-kota di dunia. Tetapi di Indonesia, produk sekali pakai mulai dari botol air, sedotan, wadah makanan polystyrene tidak hanya lumrah tetapi seringkali gratis. Bayangkan, betapa banyak bahan micro plastic telah menyusup ke dalam kehidupan kita.

Ada kesalahpahaman yang dihasilkan dari beberapa dekade dalam menggunakan plastik sekali pakai, kenyamanan tanpa rasa bersalah bahwa mengadopsi gaya hidup yang lebih berkelanjutan terlalu sulit. Padahal tidak demikian.

Seperti kebiasaan apapun begitu biasa melakukannya, kebiasaan itu dengan cepat membudaya dalam kehidupan kita. Sulit untuk menghargai apa pun yang memiliki nilai nol yang melekat padanya dan sebagian besar dari kita menerimanya tanpa ragu-ragu.

Ketika perubahan yang tak terhindarkan datang, mereka harus menggunakan pengetahuan dan pengalaman untuk menghindari kesalahan yang sama. Tiba-tiba Ares menyeletuk, menyitir moto khas Lombok, “Jangan pernah mencoba, kalau tidak pernah tahu!,” Ini adalah moto yang tepat dalam realitas sosial-lingkungan kita.

Jangan Menunggu Keajaiban Datang

Kini saatnya perubahan itu harus dilakukan. Mulailah dari diri kita sendiri dengan memilah dan tidak membuang sampah sembarangan. jangan menunggu sebuah keajaiban datang. Jika tidak, generasi setelah kita tidak lagi bisa menikmati dan tentu perlu usaha ekstra untuk menjaga serta menikmati tempat-tempat yang luar biasa indah bernama Indonesia.

Penulis: Oman Kholilurrohman