Mahabbah Penyair Untuk Kekasih-Nya

315
Photo by Sulthan Auliya on Unsplash

Sebelum datangnya islam, orang Arab telah terkenal dengan beberapa penyair dan kepiawaiannya dalam mendendangkan puisi dan sya’ir, bahkan mereka (penyair) memiliki banyak jenis lagu atau himne, seperti tentang perang, keagamaan, bahkan cinta. Hal ini ikut memberi pengaruh pada seni musik islam, dapat terlihat pada kalimat talbiyah dalam ritual haji.

Dalam bahasa arab musik berasal dari kata ma’azif dari akar kata azafa yang artinya berpaling. Maazif merupakan bentuk jamak dari mi’zaf ,yakni sejenis alat musik pukul yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh masyarakat Yaman dan sekitarnya. Dalam buku seni peradaban Islam disebutkan pula bahwa azafa berarti suara jin.

Syair Untuk KekasihNya

Seperti dalam kisahnya sahabat Anshar yang menyambut Rasulallah beserta rombongan kaum Muhajirin yang Berhijrah dari kota Mekkah ke Kota Madinah karena menendapat penganiayaan, penghinaan dan penindasan oleh kaum kafir Quraisy sebab itu kaum Muahajirin Hijrah ke Madinah yang disambut hangat dan gembira oleh kaum anshar dengan berbagai macam sambutan salah satunya dengan iringan hadrah untuk mengiringi syair Thala’al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada’ yang berarti Terbitlah purnama di atas kita, dari arah Tsaniyyatil wada’.

Dalam buku History of Arabs karangan Philip Khuri Hitti disebutkan bahwa ketika Rasulullah wafat, muncul apresiasi masyarakat terhadap musik yang berubah cenderung kearah norma estetika, terutama pada masa sahabat Utsman bin Affan. Para pemusik professional muncul untuk pertama kalinya, salah satu yang terkenal adalah Thuways, yang dijuluki bapak lagu dalam Islam.

Baca juga: Keistimewaan Sayyidul Istighfar

Di masa Dinasti Umayyah, mulai berkembang pesatlah musik di tanah Arab. Bahkan salah seorang Khalifah Umayyah, Yazid I dikenal sebagai penulis lagu. Seorang musisi asal Makkah, Said ibnu Misjah adalah seorang pertama yang menerjemahkan lagu Bizantium (Romawi Timur) dan Persia ke dalam bahasa arab. Selain Said, muncul pula Al Gharid, Ibn Muhriz, Ma’bad, Jamilah, Hababah dan Salamah.

Perkembangan seni musik Islam mencapai puncaknya di masa Dinasti Abbasiyah. Di masa ini lahir banyak musisi seperti Syitah, Ibrahim Al Maushili, Ibn Jami’, Mukhariq, Ishaq Al Maushili. Para penulis tentang musik pun muncul pula, seperti Yunus Al- Khatib, Al Khatib, Al Kindi, Al Rusyd.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumarhadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)