Madrasah Terbukti Mampu Bersaing di Kancah Nasional

475
Siswa Madrasah
Dok: Pendis Kemenag

Satu di antara delapan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Kepresidenan adalah siswa madrasah.

Adalah Muhammad Adzan, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat ini menjadi orang pertama di antara jutaan siswa madrasah yang berhasil menembus pasukan inti yang diseleksi secara ketat, bertahap dari tingkat kota, provinsi, hingga tembus di tingkat nasional.

Melalui Tahapan Proses Berliku

Sebagaimana disebut di atas, proses menjadi bagian dari Paskibraka Nasional tidaklah mudah.

Bukan saja perkara fisik yang ditempa sedemikian keras, tetapi juga kecerdasan yang harus dilatih dengan tekun.

Pasalnya, seleksi yang dilakukan tidak melulu perkara kemampuan dalam melakukan baris berbaris, tetapi juga ada serangkaian tes yang harus diikuti, seperti psikotes dan pengetahuan kebudayaan.

Singkatnya, Adzan menyebut proses yang ia lalui untuk berada di posisinya bukanlah perkara mudah.

“Prosesnya panjang tidak seinstan dan gak segampang itu,” katanya kepada Mading.id pada Kamis (27/8).

Tentu untuk dapat lulus seleksi, siswa kelas XI IPA tersebut harus berlatih secara giat dan maksimal. Persiapan yang matang menjadi salah satu kunci keberhasilannya.

“Pasti banyak proses menjadi paskibraka harus persiapan yang matang. Latihan PBB, bangun pagi latihan fisik, belajar kebudayaan dan sebagainya,” ujar pelajar dengan tinggi badan 180,5 cm itu.

Dukungan Orang Sekitar Berperan Penting

Keberhasilannya menembus level nasional tidak menafikan peran orang lain yang turut memberikan andil besar.

Adzan mengaku bahwa keinginannya itu tidak bertepuk sebelah tangan dengan orang tua, saudara, guru-guru, dan rekan-rekannya.

Bahkan, ia kali pertama mendapat dorongan untuk bisa melakukan pengibaran di Istana Kepresidenan dari gurunya di tingkat menengah pertama.

Menurut gurunya, kata Adzan, ia memiliki postur tubuh yang proporsional sebagai Paskibraka.

“Motivasi Adzan menjadi Paskibraka dari SD sudah sering ikut lomba gerak jalan, SMP, ada pembina yang menyebut posturnya menunjang menjadi Paskibraka sehingga menyarankan untuk mengikuti ekstrakurikuler Paskibra,” jelas pelajar kelahiran 13 April 2003 itu.

Capaian Adzan disambut baik oleh keluarganya. Ia merasa bahagia dengan melihat orang tuanya bangga akan prestasi yang telah ia torehkan.

“Senang melihat orang tua bangga terharu, kebanggaan tersendiri sih kak,” kata putra kedua dari empat bersaudara tersebut.

Dengan melihat kebahagiaan orang tuanya, lelah yang dirasakan selama latihan terasa luluh. “Serasa upaya latihan Adzan habiskan untuk mempersiapkan paskibraka terbayarkan,” katanya.

Eksistensi Madrasah di Kancah Nasional

Hal itu dilengkapi dengan kabar bahwa ia menjadi siswa madrasah pertama yang berhasil menjadi Paskibraka Nasional.

Ia bersyukur bisa mengangkat nama madrasah di kancah nasional. Ia membuktikan diri bahwa siswa madrasah juga mampu menempati posisi tersebut.

“Adzan bisa membuktikan madrasah juga bisa berprestasi di tingkat nasional,” tegasnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Direktur Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof Muhammad Ali Ramdhani memberikan penghargaan kepadanya.

Ia mendapat anugerah uang Rp10 juta dan sebuah Ipad.

“Hal ini meningkatkan optimisme kami untuk membina anak-anak madrasah dalam segala bidang,” katanya saat menerima Adzan di kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (18/08), sebagaimana dilansir situs web Kementerian Agama.

Adzan mengaku memilih Paskibraka karena melihat hal tersebut sudah menjadi gaya dan syarat-syaratnya yang mencukupi.

Lebih dari itu, Paskibraka baginya dapat membangun pribadinya menjadi orang yang lebih baik lagi dengan didikannya menjadi pemimpin.

Hal lain yang membuat Paskibraka berbeda adalah membuatnya keluar dari zona nyaman. Kedisiplinan menjadi hal yang paling ditekankan sehingga, menurutnya, hal tersebut dapat menunjang masa depannya.

“Mendidik diri kita mengembangkan diri kita untuk menjadi disiplin. Efek besar untuk menunjang masa depan Adzan,” katanya.

Adzan pun bercita-cita dapat meneruskan studinya di Akademi Kepolisian selepas menuntaskan belajarnya di MAN 2 Kota Bima.

“Kalau rezeki tahun depan mengikuti seleksi Akpol,” katanya.

Sebagai informasi, Adzan dua kali menjadi Paskibraka, yakni pada tahun 2019 dan tahun 2020.

Ia terpilih kembali setelah melalui serangkaian tes ulang disaring menjadi delapan anggota dari keseluruhan 68 orang dari 34 provinsi.

Ia pun sempat disurvei langsung oleh petugas dari pusat untuk menanyakan kesiapannya hingga akhirnya kembali terpilih menjadi tim Paskibraka Nasional 2020.

“Tahun 2020 seleksi via online lewat Zoom. Orang pusat mengecek ke rumah. Kemudian turun surat resmi terpilih kembali paskibraka 2020,” pungkasnya.

Penulis: Syakir NF