Mading Putih Abu-abu

675
Pixabay

Oleh : Zunus Muhammad

Cinta mendobrak pintu koboi…!!! Kalian jangan langsung mbayangin figur Cinta berbalut fringe jacket, celana jeans, sepatu boots,  dan topi lebar, lengkap dengan pistol di kedua sisi pinggangnya. Cinta hanyalah siswa SMA. Dia seperti siswa perempuan umumnya. Mengenakan rok abu-abu, kaos kaki panjang dan kemeja putih. Rambutnya terurai memanjang. Ia tidak mengenakan jilbab, dan hanya beberapa kali memasang bando putih berbahan kain dilingkarkan di kepala. Cantik dan rapi. Tentu saja enak dipandang. Tak usah diperdebatkan soal penampilannya. Yang pasti Cinta adalah prototipe siswa di masanya.

Pintu koboi yang didobrak itu hanya pelampiasan amarah. Pintu koboi sebatas pemisah antara ruang tamu dengan ruang kerja yang digunakan Cinta dan kawan-kawannya. Tidak ada hubungannya dengan kisah legendaris koboi di Amerika Utara sana. Namun, siang itu Cinta memang berlagak koboi. Merasa jengkel beradu kesal. Andai ia memegang pistol layaknya Salma Hayek di film Bandidas, tentu akan melepaskan peluru ke setiap penjuru.

“Rese’..!!! Apa dia itu superstar? Sekalian aja gue wawancara Duta Sheila on Seven atau konsernya Dewa. Gila, nyebelin banget.”

Kita lagi ngomongin siapa sih?

Tulis Milly! Perempuan yang yang sedang kita bicarakan ini namanya Cinta. Cinta Andarini Puspaningrum. Perempuan belia. Anak kelas 2 SMA yang saban hari otaknya nggak jauh dari majalah dinding. Jago main gitar, ngedance, pandai mengubah puisi jadi lirik lagu. Pokoknya perfeksionis orangnya.  Keburukan dia hanya satu; irritate. Njengkelin. Itu kesaksian sebagian orang.

Lalu, apa hubungannya dengan dia yang superstar itu?

Kalian ingat Rangga, kan?

Rangga Sastrowardoyo? Anaknya Yos Rizal, aktivis demokrasi yang menulis tesis tentang kebusukan orang-orang di pemerintah. Sempat dituduh komunis dan dianggap bikin gerakan makar.

Tepat. Rangga adalah sosok yang menggagalkan Cinta mencetak hattrick kemenangan dalam kejuaran lomba puisi di sekolah. Puisi “tentang seseorang” yang dikirim Pak Wardiman, tanpa sepengetahuan penulisnya itu—berhasil membuat Cinta menghentikan detak waktu. Hanya saja tak butuh waktu lama ketakjuban itu mengubah haluan cinta jadi benci. Dan semuanya berawal dari sikap superstar Rangga. Menolak diwawancara, dan nggak menganggap mading di sekolahannya eksis. Padahal Mading adalah ladang kerjanya Cinta.

“Gue rada tersinggung ama ini orang. Masalahnya kalau dia bisa nulis dari dulu, kenapa nggak pernah ngasih tulisan ke mading kita. Berarti dia kan nggak nganggap mading kita eksis,” itu kata Cinta.

Rangga mungkin berpikir wagu. Di kepalanya Mading hanya terlihat kotak persegi. Isinya berjejer tulisan tak berarti. Gambar nggak jelas, foto narsis, puisi kekanak-kanakan, atau cerpen ora mutu. Rangga tak berpikir melebihi faktanya.  Sebaiknya dia melihat sisi Mading sebagai media efektif dalam jenjang pelatihan penulisan di sekolah. Mading, sekalipun hanya kotak mati tapi justru darinya kerja-kerja kreatif itu tumbuh. Di sana terpampang seni rupa, seni lukis, juga catatan sastra, dan beragam informasi.

Produk jurnalistik yang sekarang kita nikmati sedikit banyak dipengaruhi pengalaman “bermading”. Para pekerja di balik majalah dinding tak ubahnya para redaktur di sebuah majalah atau news paper. Mereka harus berjibaku mencari sumber bahan tulisan, berburu berita lewat wawancara, termasuk mengkurasi tulisan kiriman pembaca. Di sini dibutuhkan kejelian memilah, memberikan catatan, termasuk mengedit, dan  mendisain. Barulah menempel. Tentunya setelah melalui rapat redaksi. Intinya, kata Teguh Hariawan, setiap edisi mading yang ditampilkan adalah produk hasil kolaborasi dari berbagai unsur kecerdasan. Tak ada dominasi, sekalipun keputusan tetap ada di pihak pemimpin redaksi.

Skala tanggung jawab redaktur Mading memang nggak sebesar majalah cetak. Tapi yang pasti mereka punya kesamaan; memperkuat peran jurnalisme. Di sinilah letak kritik Rangga ke Cinta.

Produk jurnalismenya Cinta dinilai masih “hedonis”.  Harusnya, kata Rangga mengutip Susan Goldberg, penting untuk menyorot sinar jurnalisme pada tempat-tempat di mana terdapat ketidakadilan atau kesalahan sehingga itu dapat diperbaiki. Jika banyak orang tahu cerita-cerita di tempat tersebut, maka keadaan bisa menjadi lebih baik dan kita dapat membuat perbedaan.

“Kita hidup dalam lanskap media yang ramai dan kompleks, di mana kita semua dibombardir dengan informasi 24/7 (siklus berita 24 jam). Saya pikir, kisah yang menarik dapat tersesat dengan banyaknya bahan di luar sana. Jadi, untuk mengatasinya, Anda tidak hanya perlu punya kisah yang bagus saja, tapi juga harus dapat menceritakannya dengan indah. Anda harus memiliki kemampuan visual yang menakjubkan dan bisa membagikannya ke berbagai platform,” kata Susan.

Pendapat Rangga nggak relevan sekalipun disandarkan pada visi pemikirannya pemimpin redaksi National Geographic . Di tahun 2000an, revolusi Mading sudah banyak dilakukan oleh anak-anak SMA. Teguh Hariawan mencatat, di era sebelum munculnya film AADC, bentuk Mading telah berbentuk 3 dimensi. Visual dan performa mading juga mengalami perubahan luar biasa, termasuk Mading yang digerakkan oleh robot. Tema-tema yang disajikan juga “mendobrak” seperti; Bhineka Tinggal Nama, Indonesia Need Hero, Bharatayudha, atau Metroseksual. Semuanya itu mengarah pada kritik kemapanan. Satu hal yang selama ini berusaha disajikan National Geographic.

Hari ini kita melihat lompatan yang jauh melesat. Anak-anak yang masih mengenakan seragam putih abu-abu sudah memindahkan “kotak mati persegi” ke layar sentuh, lengkap dengan network operating system. Soal konten, bukankah kita pernah membaca liputan mereka soal dana BOS yang dimainkan oknum kepala sekolah?