Lebaran di Pesantren Ala Khadim Kiai

872
Sumber Foto Istockphoto.com

Oleh :Syakir NF

Memang, lebaran tahun ini tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Gemuruh ledakan kembang api tak seramai biasanya. Malam itu hanya berlangsung di tempat tertentu saja, tidak di banyak tempat sebagaimana yang sering didengar. Gelegarnya seakan menjadi backsound kumandang takbir yang menggema dari pengeras suara masjid.

Beruntung bagi Maulida Fitria Ubaidi yang mendapat tugas menemani putri kiai untuk melihat kemeriahan itu. Dengan mengendarai motor matic, dara yang akrab disapa Pipit itu mengantarkannya mengikuti rombongan. Ia menghentikan laju motornya di sebuah lapangan dan mematikan mesinnya.

Dengan tetap duduk di jok motornya, ia mendongak ke atas, melihat warna-warni kembang api bermekaran. Meskipun demikian, di benaknya, bayangan orang tua dan keluarganya menyemburat dalam mekar kembang api itu. Tapi tekadnya memang sudah bulat untuk merayakan Idul Fitri kali pertamanya di pondok setelah lima tahun mengaji dan belajar. Mekar kembang api itu juga memekarkan senyumnya, menciptakan lesung pipit di pipinya. Ia tetap tampak begitu bahagia, meski tak bersama keluarganya.

Lain halnya dengan Yanto. Ia tidak menikmati gemerlap langit itu. Langit-langit yang ia lihat adalah bagian bawah lantai dua pondoknya. Gerimis yang sempat turun hampir saja tidak diketahuinya. Sebab, malam takbiran memberikan kesibukan tersendiri baginya. Boro-boro mengerti bahwa itu adalah malam Minggu, satu malam sakral bagi kaula muda seusianya. Sebab, bawang, cabai, dan bumbu-bumbu dapur sudah menanti dikupas.

Bersama rekannya, Muchassin, pria yang diberi nama Hamyamto oleh kiainya itu bergotong royong untuk menyiapkan sajian yang maksimal untuk kiai dan keluarganya pada hari yang istimewa esok. Karenanya, mata tak terpejam pun bukan sebuah persoalan berarti bagi mereka. Betapa tidak, Subuh tiba saja, keduanya baru menuntaskan berbagai olahan masakan untuk pagi selepas shalat Idul Fitri nanti. Hal itu dilakukan tanpa menafikan beres-beres ndalem, merapikan karpet, lengkap dengan cemilan dan beragama sajian lainnya. Di malam itu juga, keduanya menyiapkan hal yang sama untuk tetamu yang datang bersilaturahim guna menunaikan zakat fitrah kepada kiainya yang merupakan guru dari banyak orang-orang desa.

Waktu Subuh bukan saatnya merebahkan diri. Justru, itu menjadi waktu pendek untuk bebersih diri guna melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Agung Buntet Pesantren. Mereka berangkat bersama putra kiainya, mengambil tempat di halaman masjid. Mungkin kiranya masjid sudah penuh.

Usai shalat, kedua santri yang tengah menempuh studi akhir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati itu bergegas kembali ke ndalem guna menyajikan beragam makanan yang sudah dimasaknya semalaman. Mereka pun turut menyantapnya bersama keluarga kiainya. Tidak terpisah di tempat lain.

Dokumentasi Pribadi
Maulida Fitria Ubaidi (kanan), kiai, dan keluarganya /Dokumentasi Pribadi

Kemudian, kegiatan berlanjut dengan berziarah ke Makam Gajah Ngambung Buntet Pesantren. Mereka bersama keluarga kiainya melingkar di pusara orang tua kiainya saat ini, mendoakannya, mengalap berkahnya, mengingatkan mereka akan kematian yang betul-betul nyata.

Berlebaran di pondok membuat mereka ketiban pulung. Betapa tidak, sandang dari ujung kaki hingga ujung kepala mereka semuanya baru, lengkap dengan jas hitam bekas kiainya. Bekas kiai adalah baru bagi mereka. Meskipun jas tersebut tidak sepenuhnya baru dari toko, seperti sandal, sarung, baju, dan pecinya, tetapi lebih bernilai. Sebab, hal tersebut mengandung keberkahan tersendiri. Jangankan jas, bekas minumnya saja menjadi rebutan para santri. Apalagi itu pakaian yang bisa digunakan dalam waktu yang tidak singkat. Lebih-lebih hal itu adalah jas, barang yang mungkin tergolong tersier bagi mereka.

Senada dengan Yanto, Pipit juga menghabiskan malam dengan memasak. Selepas kembali ke pondok usai menemani putri kiai melihat kemeriahan malam Idul Fitri, ia langsung membantu Ibu Nyai di dapur untuk menyiapkan makanan yang akan disajikan esok hari selepas shalat Idul Fitri. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren baru merampungkan tugasnya memasak saat Subuh sudah tiba. Tentu tak ada waktu untuk rebahan baginya. Tapi, ia menjalaninya dengan tulus, sepenuh hati, segenap jiwa. Sebab, ia tak tahu kapan lagi dapat melayani kiai dan keluarganya semaksimal hari itu.

Ia baru bisa menutup matanya sesudah shalat dzuhur sekitar pukul 01.00 siang. Hampir saja ia tertinggal untuk berziarah. Entah hal apa yang menggugahnya sehingga pukul 02.30 ia sudah kembali terbangun dan mendapati ndalem sudah kosong. Kiai, Ibu Nyai, dan putrinya sudah tidak lagi di rumah. Ia pun bergegas menyusul. Syukurnya belum ketinggalan untuk berziarah bareng keluarga besar Kiai dan ibu Nyai yang biasa ia sebut dengan Babah dan Bunda. Hal itu tentu saja menjadi kebahagiaan lain. Sebab, biasanya ia hanya berziarah dengan santri-santri lain.

So, lebaran di pesantren tidak semerana yang dibayangkan para santri baru. Justru malah sarat akan pengalaman. Yanto dan Pipit telah membuktikannya. Yakin gak mau lebaran di pondok tahun depan?

  • Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia/ Pengurus PP IPNU.