Layangan di Bali yang Naik Kelas

772
Oleh: Wayan Pariawan
Pagi ini setelah sarapan seperti biasa, Pak Wayan Adi duduk di halaman rumah. Ditemani secangkir kopi bali kesukaannya. Tampak kopi itu masih cukup panas, terlihat dari caranya meminumnya. Perlahan dan beberapa kali harus meniupnya terlebih dahulu. Ia tak hanya menikmati kopi pagi ini, tetapi di hadapannya sudah terdapat beberapa batang bambu, gergaji, dan pisau. Ada juga beberapa gulung plastik dan juga kain. Benang nilon beberapa meter juga tampak disiapkan.

Pagi ini Pak Wayan Adi akan membuat layangan. Bukan saja untuk anaknya, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Layangan yang di buat berjenis be-bean ‘ikan-ikanan’ berukuran sekitar 4 meter dan layangan celepuk ‘burung hantu’ yang lebih kecil untuk anaknya, Adi Putra.

Dengan terampil, Pak Wayan memotong bambu sesuai ukuran yang diinginkan. Membelahnya menjadi bagian yang lebih kecil kemudian menghaluskannya. Mengukur kembali sesuai dengan bagian rangka yang diinginkan. Sangat telaten dan rapi apa yang dilakukan Pak Wayan.

Mungkin bagi masyarakat di luar Bali, layang-layang adalah permainan anak-anak. Namun, bagi masyarakat Bali, layangan bukan sekadar mainan anak-anak.  Mungkin banyak juga yang beranggapan yang dilakukan Pak Wayan sesuatu yang tidak lazim di tengah usia yang tidak anak-anak lagi, di era modernisasi, apalagi Bali yang merupakan pusat pariwisata dunia.

Namun, bagi Pak Wayan dan banyak pria Bali lainnya, layangan adalah salah satu bentuk pemertahanan budaya dan kehidupan berkesenian masyarakat Bali. Tua, muda, dan anak-anak larut dalam histeria dan kegembiraan saat menerbangkan layang-layang.

Bahkan, sebelum Wabah Covid-19 melanda, setiap tahun antara bulan Juni hingga Juli, masyarakat Bali akan memenuhi Pantai Padang Galak untuk mengikuti lomba layang-layang. Ribuan peserta dari seluruh pelosok Bali akan datang mengikuti lomba ini. Berbagai layangan akan menghiasi langit Pulau Bali dengan berbagai ukuran dan jenisnya. Mulai dari yang tradisional sampai model kreasi.

Tak sekadar diterbangkan biasa, di Bali, layangan yang dilombakan diterbangkan dengan iringan tabuh Baleganjur. Musik tradisional yang terdiri atas kendang, gong,ceng-ceng, dan reong yang dimainkan secara berbaris. Irama tabuh baleganjur yang energik menambah semarak suasanan. Peserta selain menampilkan keindahan lekuk dan gemulai layangan di langit juga menampilkan kreativitas para penabuhnya. Sungguh perpaduan yang sangat memikat dan menjadikan Bali semakin menjadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh dunia.

Tradisi melayangan mengakar sangat kuat di Bali, salah satunya disebabkan oleh mitologi Rare Angon yang dianggap sebagai penjelmaan Dewa Siwa dalam wujud anak-anak. Kisah Rare Angon sebagai pertanda kehadiran Dewa saat musim panen tiba. Ini sangat penting sebagai bentuk perindungan dari serangan hama dan penyakit pada tanaman padi.  Tak bisa dimungkiri, layangan menjadi semacam ajang ucapan syukur atas panen dan semua berkah dari Sang Pencipta.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, layangan pun kini ikut bertransformasi. Layangan kini tak hanya jadi atraksi pada siang hari, tetapi sudah menjadi atraksi malam hari. Kini, sebagian masyarakat memainkan layangan dua kali dalam sehari. Pagi atau siang hari, layangan diterbangkan seperti biasa, kemudian menjelang senja, layanganan diturunkan kembali. Saat diturunkan, layangan dipasangi berbagai lampu penuh warna, dari bohlam biasa sampai LED yang memiliki teknologi yang cukup tinggi sehingga warna dan perubahan model lampu bisa diganti sesuai keinginan pemilik. Setelah perlengkapan dipasang, layangan diterbangkan kembali. Kelap-kelip lampu dengan warna yang indah menjadikan langit malam di Bali sangat meriah.

Bermain layang-layang untuk krama Bali tidak sekadar untuk kesenangan. Layangan adalah bentuk kreativitas. Pelestarian kebudayaan yang kian terkikis oleh arus modernisasi. Wujud syukur atas berkah yang diberikan oleh Sang Pencipta.  Mungkin itulah yang dirasakan oleh Pak Wayan Adi dan pria Bali lainnya sehingga layangan tidak lagi sebagai mainan anak-anak.