Langit Malam Menginsipirasi Neisa Raih Perak OSN 2019

310
Langit
Dokumentasi Pribadi

Langit malam hitam kelam. Taburan gemintang dan sinar bulan terang memberikan kesan tersendiri bagi Neisa Hibatillah Alif. Ciptaan Tuhan itu tampak begitu indah di matanya. Tentu saja benaknya langsung menyebut betapa Mahaagung Tuhan.

Lebih dari itu, pemandangan alam yang bisa disaksikan saban hari tersebut membawa matanya terbang ke jutaan galaksi. Ia mengamatinya secara seksama hingga pertanyaan kritisnya mengemuka, “Sampai mana ujung alam semesta?” pikirnya.

“Saya senang melihat langit malam yang bertaburan bintang-bintang. Saya juga tertarik pada hal-hal ekstrem dan mempertanyakannya, seperti lubang hitam, pulsar, dimanakah ujung alam semesta, dan lain sebagainya. Hal tersebut juga membuat saya menyadari besarnya kekuasaan Tuhan yang Maha Agung,” katanya kepada Mading.id pada Selasa (13/10).

Hal tersebut mengantarkannya sebagai peraih medali perak pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi tahun 2019 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menyukai Pelajaran IPA sejak Kecil

Pada mulanya, ia pernah mempertimbangkan untuk masuk lebih mendalami biologi karena suka mempelajari anatomi tubuh manusia saat masih kelas X. Namun, ia merasa banyak pesaing ‘kelas berat’ di bidang tersebut sehingga lebih memilih astronomi.

“Saya menyukai pelajaran IPA sejak kecil, terutama pada topik astronomi dan tubuh manusia. Saya juga pernah mempertimbangkan masuk bidang biologi sewaktu masih kelas 10. Namun saya merasa saingan pada bidang tersebut terlalu berat dan materinya yang sangat banyak,” katanya.

Artikel terkait Pelajar Berprestasi, lihat Siswi MAN 2 Tasikmalaya Raih Perunggu Kompetisi Internasional.

Lomba

Untuk mengikuti lomba tersebut, Neisa mendapatkan bimbingan dan pelatihan dari para gurunya. Ia pun diberikan keringanan untuk tidak lebih dahulu mengikuti kegiatan di sekolah sehingga bisa fokus mempelajari materi-materi olimpiade.

“Tiap ada jam kosong di sekolah, saya selalu membaca buku astronomi dan mengerjakan latihan-latihan di dalamnya. Saya juga sering belajar secara autodidak di asrama, walau tidak rutin setiap hari dikarenakan jam sekolah sampai sore membuat saya kelelahan,” kata dara Kelahiran Pekanbaru 17 tahun lalu itu.

Adapun pelatihan yang pernah didapatkannya adalah pelatihan pra-OSN yang digelar Kementerian Agama Mei 2019, Pelatihan Daerah Provinsi Riau oleh Dinas Pendidikan Riau Juni 2019, dan pelatihan mandiri yang diadakan lembaga.

Selain itu, Neisa juga tetap belajar secara autodidak, seperti mengerjakan soal-soal olimpiade tahun-tahun lalu, latihan menggunakan kalkulator dan menggambar grafik untuk sesi analisis data, serta menggunakan teleskop sekolah dan aplikasi Stellarium untuk sesi observasi.

Dalam lomba, ia pernah gagal meraih juara pada kompetisi OSN 2018. Pasalnya, ia merasa upayanya dalam mengikuti ajang kompetisi di tingkat nasional itu kurang maksimal. Ketakutannya membuat kecewa dan ekspektasinya tak terlalu tinggi membawanya kepada hasil yang juga tidak sesuai harapan.

Namun di tahun berikutnya, 2019, ia membuktikan diri kemampuannya untuk meraih medali perak. Tentu ia sangat senang dengan raihan prestasi itu. Bukan karena ia berhasil menjadi di antara yang terbaik, tetapi lebih karena dapat menyunggingkan senyum orang tua, guru, dan kerabatnya.

“Saya juga sangat senang ketika saya bisa membuat orang tua, guru, dan kawan-kawan saya bangga pada saya,” ujar alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru, Riau, saat masih menjadi siswi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 01.

Jauh sebelum kompetisi tersebut, Neisa juga pernah meraih medali Perak pada Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2013 Bidang Matematika yang digelar Kementerian Agama

Rencana Ke Depan

Saat ini, Neisa tengah menempuh studi di bidang teknik informatika di Institut Teknologi Surabaya (ITS). Di benaknya saat ini, masa depannya berada pada sekitar pemrograman. Sejauh ini, cita-cita yang diharapkannya adalah menjadi data scientist.

“Ketika OSN, saya paling senang dengan sesi analisis data dan sampai saat ini saya masih tertarik untuk belajar mengolah data dengan cara yang efisien dan mengaplikasikannya,” ujarnya.

Ia juga terpikirkan untuk menghubungkan bidang astronomi sebagai sesuatu yang digemarinya dengan bidang yang sedang ia geluti saat ini mengenai data dan teknik informatika. “Dalam bidang astronomi itu kan biasanya data yang dikumpulkan melalui pengamatan banyak sekali.

Jadi saya ingin mengolah data tersebut secara efisien agar mempermudah perhitungan astronomis dan mendapatkan kesimpulan yang presisi,” katanya.

Penulis: Syakir NF