Kuliah Gratis di Universitas Terbaik Dunia sambil Rebahan

525
Ilustrasi/Photo by Pixabay

Oleh: Syakir NF

Mimpi berstudi di universitas terbaik dunia pastinya sudah dikantongi oleh para pelajar Indonesia. Kampus-kampus ternama macam Harvard dan Stanford di Amerika, University of London dan Imperial College London di Inggris, Leiden Universiteit di Belanda atau kampus-kampus ternama di dunia lainnya kerap kali dibayangkan dalam angan-angan.

Rasanya, hal tersebut mendekati hal mustahil mengingat kemampuan berbahasa asing yang amat minim. Dalam istilah nahwu, demikian ini disebut sebagai tamanni, suatu harapan yang kemungkinan tercapainya sangat kecil.

Bagi kita yang memiliki kemampuan bahasa asing yang pas-pasan, untuk tidak menyebutkan sangat kurang, tak perlu khawatir. Berkat teknologi yang berkembang begitu pesat, tamanni itu berubah menjadi tarojji, harapan yang mungkin tercapai. Pasalnya, kampus- kampus tersebut telah membuka kuliah gratis bagi sesiapa saja yang menginginkannya.

Tentu jangan dibayangkan kita dapat duduk manis di ruang kelas di kampus itu. Lalu, di waktu senggang dapat menikmati sudut kampus dan kotanya yang sangat instagramable. Tidak begitu, Ferguso.

Kita justru tak perlu repot-repot berjalan dari tempat tinggal menuju kampusnya. Cukup sambil rebahan di pojok kamar, kita sudah dapat menyimak perkuliahannya dengan cuma-cuma tanpa harus membayar biaya serupiah pun. Bukan berarti kita tidak modal sedikit pun. Dalam hal ini, kita perlu merelakan sebagian paket data untuk memperoleh bahan-bahan yang disajikan pihak kampus.

Adalah gawai (gadget) yang dapat mengantarkan kita semua dapat merasakan belajar di kampus ternama itu. Cukup dengan mengunduh dan menginstal aplikasi di ponsel masing-masing, kita sudah dapat memasuki ruangan kelas, belajar selayaknya mahasiswa kampus tersebut.

Ada cukup banyak aplikasi yang menyediakan kelas dari kampus-kampus yang kita cita-citakan. Namun di sini, saya ingin bercerita pengalaman pribadi menggunakan dua aplikasi, yakni edX dan Coursera.

Dua aplikasi tersebut menyediakan beragam materi mengenai banyak subjek, seperti arsitektur, desain, seni dan budaya, hingga musik. Ada juga pembahasan ilmu sains seperti biologi, kimia, medis, fisika, matematika, hingga makanan dan nutrisi. Ilmu teknologi juga disajikan di sini, mengenai elektronik, ilmu komputer, permesinan.

Tidak hanya itu, ilmu sosial humaniora juga dapat kita pelajari melalui aplikasi tersebut, seperti komunikasi, bahasa, sastra, hukum, sejarah, filsafat, hingga pendidikan dan pelatihan guru. Ada juga soal bisnis, manajemen, ekonomi, dan keuangan.

Jangan salah, mengenai agama, terorisme, dan perdamaian juga dapat dipelajari di aplikasi tersebut. Singkatnya, aplikasi tersebut cukup lengkap untuk kita belajar mengenai materi yang kita inginkan.

Oh ya, materi disajikan dengan bahasa asing ya, bukan bahasa Indonesia. Biasanya, para pengajar menggunakan bahasa Inggris. Tetapi dalam beberapa kampus atau materi, mungkin mereka akan menggunakan bahasa lain.

Bagi kita yang bahasa asingnya pas-pasan, tak perlu khawatir. Beberapa materi disediakan juga translasinya sehingga kita tetap dapat mengikuti dengan melihat subtitle yang disajikan di video. Jika pun tidak, kita dapat melihat teks yang disampaikan oleh pengajar untuk kita cari maknanya sehingga tetap bisa memahaminya.

Aplikasi tersebut tidak saja memberikan materi yang bersifat satu arah, namun juga menghadirkan beragam tes yang dapat kita ikuti untuk mengukur kemampuan pemahaman kita.

Salah satu keuntungan dari mengikuti pembelajaran melalui aplikasi ini adalah kita tidak terikat waktu. Kapanpun mau, kita dapat mengaksesnya sewaktu-waktu. Namun, hal ini juga kerap menjadi kekurangan mengingat terkadang atau bahkan seringkali justru membuat kita semena-mena, seenaknya sehingga pembelajaran tidak berjalan maksimal.

Dalam hal ini, kita kudu rajin-rajin mengingatkan diri sendiri untuk terus aktif mengikuti pembelajaran.Sebab, ada kuliah yang tidak bisa dibuka sewaktu-waktu. Dalam arti, jika masa waktu pembelajaran yang dijadwalkan sudah habis, saat itu juga kita tidak dapat lagi mengaksesnya. Meskipun demikian, tak sedikit juga yang tetap bisa kita simak penjelasannya sepanjang ingin membukanya.

Gratisnya pembelajaran ini tidak juga memberikan sertifikat secara cuma-cuma kepada setiap pesertanya. Untuk mendapatkannya, kita harus menebus sejumlah uang. Rata-rata di atas 20 Dolar Amerika Serikat. Tidak hanya sertifikat, sejumlah kampus juga bahkan memberikan titel melalui aplikasi tersebut kepada para pengguna yang mengikuti kuliahnya.

So, mari rebahan sambil kuliah!

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dan Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU)