Kubah Batu: Jejak Seni Arsitektur Islam Awal

159
Kubah batu
https://www.hexapolis.com/2014/07/19/8-remarkable-things-might-know-dome-rock/

Orisinalitas Seni Visual Islam

Seni visual Islam dapat dilihat sebagai akumulasi dan distribusi baru bentuk-bentuk dari seluruh dunia yang ditaklukkan, sebagai pemilahan sadar dari makna-makna yang terkait dengan bentuk, dan sebagai penciptaan sejumlah karakteristik bentuk-bentuk baru yang terbatas diantaranya dapat dilihat melalui kubah batu.

Richard Ettinghausen dkk. mengemukakan sudut pandang ini dalam ungkapan berikut:

“Bangsa Arab penakluk, dengan tradisi artistik mereka yang relatif sedikit dan budaya visual yang terbatas, menembus dunia yang tidak hanya sangat kaya akan tema dan bentuk artistik, bahkan memiliki kosa kata universal, namun juga pada titik temu sejarah ini, telah mengisi bentuk-bentuknya dengan intensitas yang tidak biasa.

Keaslian metodologis dan intelektual seni Islam dalam tahap formatifnya terletak pada demonstrasi perjumpaan antara penggunaan bentuk-bentuk visual yang sangat kompleks dan canggih dan sistem keagamaan dan sosial baru tanpa doktrin ideologis yang menuntut ekspresi visual.”

Artikel lainnya mengenai seni islam dapat dilihat di Musik Arab-Islam Menjelajah di Eropa (Part 1)

The Dome of the Rock… is a most splendid and singular achievement, a true work of architectural art.”

— Richard Ettinghausen, Oleg Grabar & Marilyn Jenkins-Madina, Islamic Art and Architecture 650-1250 (New Haven and London: Yale University Press, 2001).

Proses persilangan antar budaya dalam seni Islam itu, antara lain, dapat dilihat dalam salah satu manifestKubah Batu adalah situs suci di Yerusalem yang dibangun oleh khalifah Umayyah, Abd al-Malik ibn Marwan, pada akhir abad ke-7 M.asi arsitektural seni Islam awal; Kubah Batu (Qubbat al-Sakhrah / Dome of the Rock).

Situs Suci Yerussalem

Kubah Batu adalah situs suci di Yerusalem yang dibangun oleh khalifah Umayyah, Abd al-Malik ibn Marwan, pada akhir abad ke-7 M. Selesai dibangun pada 961 M, Kubah Batu adalah monumen Islam tertua yang masih lestari hingga saat ini dan kemungkinan besar merupakan ikhtiar artistik pertama Dinasti Umayyah.

Batu di mana tempat suci itu dibangun merupakan batu suci bagi Muslim dan Yahudi. Secara tradisional, tradisi Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad naik ke surga pada momen Isra Mi’raj dari tempat ini.

Dalam tradisi Yahudi, Abraham, nenek moyang dan patriark pertama orang Ibrani, diceritakan telah mempersiapkan diri untuk mengorbankan anaknya Ishak di tempat ini. Lokasi Kubah Batu berdekatan dengan Masjid Al-Aqsa; keduanya berada di Temple Mount, situs Solomon Temple, daerah yang dikenal oleh umat Islam sebagai Al-Haram al-Sharif.

Tradisi Arsitek Bizantium

Struktur dan ornamen Kubah Batu berakar pada tradisi arsitektur Bizantium, namun konstruksinya pada abad ke-7 M merupakan tahap awal kemunculan gaya visual Islam yang khas (distinct Islamic visual style).

Karakteristik utama Kubah Batu mengikuti praktik arsitektur Late Antiquity dalam versi Kristennya. Ini termasuk dalam kategori bangunan yang direncanakan secara terpusat, yang dikenal sebagai martyria, dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tempat suci Ascension dan Anastasis dalam tradisi Kristen.

Sebagian besar teknik konstruksi—lengkungan pada tiang dan kolom, kubah kayu, jendela (grilled windows), susunan batu dan batu bata—serta sistem proporsi yang rumit juga berasal langsung dari arsitektur Gereja Bizantium dan lebih spesifik dari praktik gereja lokal Palestina.

Hal yang sama berlaku untuk dekorasi. Beberapa mosaik dinding (wall mosaics) dan tapak marmer (marble facings) biasa ditemukan di tempat-tempat suci Kristen.

Variasi tak berujung pada subyek vegetal, dari realisme tanaman tertentu hingga karangan bunga yang sangat konvensional dan gulungan pola-pola seperti karpet, sebagian besar terkait dengan banyak mosaik zaman Kristen di Suriah dan Palestina.

Transformasi Tema Bizantium

Namun, akan menjadi sebuah kekeliruan untuk menganggap semua karakteristik ini hanya sebagai pemanfaatan kembali teknik dan tema Bizantium. Selain fakta bahwa makna atau signifikansinya tidak sama dengan model gerejawi (ecclesiastical models), monumen pertama budaya Islam baru ini, dalam beberapa area, telah beranjak dari tradisi tanah taklukan di mana ia dibangun.

Transformasi tersebut dapat dilihat dalam sifat hiasan mosaik, hubungan antara arsitektur dan dekorasi, dan komposisi elevasinya.

Pertama, hiasan mosaik, yang hampir seluruhnya masih bertahan dalam keadaan aslinya di area seluas sekitar 280 meter persegi itu, tidak mengandung representasi makhluk hidup (living being), manusia (human) atau hewan (animal) tertentu.

Rupanya orang-orang Muslim kala itu sudah merasa bahwa elemen-elemen makhluk hidup itu tidak sesuai dengan ekspresi resmi iman mereka, dan mereka cenderung selektif terhadap kosakata artistik (artistic vocabulary) yang ditawarkan oleh tanah taklukkan.

Banyak fitur mosaik dalam monumen itu juga membawa makna ikonografis. Motif pepohonan, beberapa realistis dan yang lain cukup artifisial, bahkan telah dilihat oleh beberapa orang sebagai kenangan akan istana Sulaiman (Solomon’s palace).

Tulisan, dalam bentuk prasasti mosaik (mosaic inscription) panjang yang menjalar di bawah plafon oktagonal, muncul dengan makna dekoratif dan simbolis—penggunaan tulisan pada sebuah bangunan ini mungkin merupakan contoh paling awal yang diketahui dalam seni abad pertengahan (medieval art).

Pertemuan Dua Simbol

Disebut dekoratif karena prasasti tersebut mengambil alih fungsi sebuah pembatas untuk sisa ornamentasi. Disebut simbolis karena, meskipun nyaris tidak terlihat dari bawah, prasasti tersebut berisi pilihan ayat-ayat Al-Qur’an yang hati-hati, yang berhubungan dengan Kristus dan tidak bertentangan dengan doktrin Kristen.

Dengan kata lain, prasasti tersebut menekankan pesan Muslim di kota Kristus. Karena tidak mau menggunakan citra figuratif (figurative imagery) tradisional yang berasal dari zaman Antiquity, dunia Muslim mengungkapkan gagasannya dengan terminologi non-figural.

Di samping motif klasik, mosaik Kubah Batu memiliki palet, sayap, dan paduan bunga-bunga yang berasal dari Iran. Dengan demikian, Kekaisaran Umayyah memanfaatkan fitur dari keseluruhan wilayah yang telah ditaklukan, menggabungkannya untuk menciptakan kosakata artistiknya sendiri.

Bersambung…

Penulis: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Jakarta)