Ku Temui Tuhan Di Belakang Rumah – Part 2

119
Foto oleh Ahmed Aqtai dari Pexels

Menurut saya, pengalaman spiritual itu adalah penghayatan cinta. Cinta yang kudus, yang tetap berkilau indah tanpa menyertakan nafsu, apalagi ego. Mengusir ayam dengan kasar itu bukan cinta, sekadar cinta semu yang memuja kesenangan, memuja keberhasilan menanam, memuja indahnya tanaman bukan memuja Tuhan.

Pengalaman spiritual bagi saya, seharusnya melahirkan sikap lembut, empati dan rendah hati. Bukan kemarahan. Terlebih marah atas dasar sudah merasa sah berhak marah karena diri telah dekat dengan Tuhan, dekat dengan kebenaran. Bukankah itu kesombongan.

Baca juga: Ku Temui Tuhan di Belakang Rumah

“Tuhan, saya ingin menemuimu di sini saja, di belakang rumah, di taman mungil dengan tanaman tanpa daun. Yang tetap kau beri nyawa walau sudah tercabik. Tapi saya yakin, tanaman itu tak mendendam. Saya tak berangkat ke masjid untuk sholat idul adha, tapi bukan tidak ingin menghadapmu. Saya yakin Engkau mau ku temui di sini, di belakang rumah, di taman sederhana, pohon yang sederhana. Semoga Engkau berkenan “.

Duka silih berganti

Di tengah keganasan pandemi ini, kabar duka tak kunjung mereda. Sirine ambulance tak saja melambatkan laju kendaraan lain. Tapi juga menghentikan langkah, menjeda percakapan yang berlangsung untuk sekadar mengingat betapa banyak yang Tuhan panggil di masa-masa seperti ini.

Saya sendiri tak kuasa menahan sedih, seorang sahabat semasa SMA, semalam dipanggil-Nya. Lama tak jumpa, pernah  merencanakan bertemu tapi belum ada kesempatan. Hari ini ia pergi selamanya.

Sahabat saya yang lain, dokter dan perawat tak kurang dukanya. Menyelamatkan nyawa adalah prioritas. Memilih pasien mana yang harus mendapatkan oksigen sementara persediaannya terbatas, itu sungguh menyakitkan. Mereka melayani masyarakat melampaui jam kerjanya.

Mungkin salah satu doanya, “ya Tuhan, Dzat yang menggerakkan hati, sadarkanlah mereka, berkumpul, berkerumun, berjamaah itu terlampau bahaya di masa sulit ini. Virus bisa menyerang tanpa ampun dan lekas. Gerakkanlah hati mereka, bahwa diam di rumah dengan gema takbir yang lirih, tak mengurangi hidmat untuk mendekap-Mu”.

Saya mohon Engkau berkenan ya Tuhan, ku temui di sini, di belakang rumah, di taman mungil dengan tanaman yang tetap teguh bertumbuh. Walau terkoyak, tercabik, ia berkorban melayani ayam yang lapar. Lalu saya panjatkan doa, “semoga para tenaga kesahatan juga tetap Kau teguhkan kesabaran dan ketabahan, dan dengan itu ia merasakan CintaMu. Amin.

Penulis: Muhamad Dopir
(Pengajar di PP Nihadlul Qulub, Pemalang & Pengurus LP Maarif PCNU Tangerang Selatan)