Ku Temui Tuhan di Belakang Rumah- Part 1

257
Photo by Ankhesenamun on Unsplash

Sudah lama saya menyukai tanaman hias. Tiap kali lewat depan rumah milik siapa pun, saya kerap penasaran tanaman apa yang ditanam si empunya di teras. Ada spirit kehidupan yang terpancar dari pemandangan sederhana di beranda rumah, melalui tanaman yang tumbuh dan dirawat oleh penghuni rumah.

Dasar penakut, saya tak pernah berani memelihara tanaman sendiri di rumah. Pasalnya, jika saya jumpai di rumah tertentu ada tanaman yang mati, tanah di potnya kering, saya sering membatin, “teganya si pemilik rumah, membiarkan tanaman itu kering lalu mati. Kau nikmati indahnya, tapi malas merawatnya. Sering pula, setelah mati membuang begitu saja lantas menggantinya dengan yang baru”.

Saking takut tak bisa merawat, tak sempat-sempat terlintas untuk memelihara sendiri di rumah. Pasti saya akan dihantui rasa bersalah jika ada tanaman yang mati.

Kalau Itu Garis Takdir, Tak Masalah !

Suatu kali, satu kepingan lagi, hikmah pandemi saya nikmati. Saya diajak menemui seorang petani yang menggarap hutan sosial di Guci, kaki gunung Slamet. Selain sayur, di lahan garapannya, tersaji juga tanaman hias yang beragam sekaligus beraneka warna. Dalam hati kecil, sedikit keberanian tumbuh. Saya ingin memelihara tanaman di rumah, walau sebatang atau dua saja.

Lecutan keberanian itu muncul, bukan hanya karena nafsu merengkuh indahnya warna-warni bunga, tapi juga lantaran kata-kata pak tani yang bersahaja ini sungguh menyentuh. “Di sini, bukannya kami tak khawatir, kalau lah korona menyambangi kami, pasti kalian yang membawanya. Tapi kalau itu garis takdir, tak masalah. Sepenuh hidup saya ini sangat dekat dengan sumber kehidupan, air melimpah, oksigen tak kurang. Andai makhluk renik itu menyerang jua, apalah artinya kemalangan kecil itu dibanding rejeki lahir batin yang sudah saya nikmati”.

Baca juga: Berkurban Atau Sedekah

Beliau merasa dekat sekali dengan Tuhan, Sang sumber kehidupan, melalui air yang mengalir, udara segar, tanaman yang tumbuh, pemandangan yang memanjakan mata, orang yang berkunjung, serangga yang membangun rumah, hewan liar yang melintas dan banyak lagi yang ia sebutkan. Saya tak ingat semuanya.

Keinginan kecil saya bersambut, saya disuruhnya membawa sebanyak yang saya mau jika ingin menanam di rumah. Akhirnya saya memilih tiga jenis, itu pun beberapa helai saja. Tak tahu juga nama tanamannya. Saya masih dihinggapi ragu.

Yang pasti, saya mau juga menghayati pengalaman spiritual, dekat dengan Sang sumber kehidupan, melalui tanaman yang sedikit ini. Karena tak begitu suka dengan media pot, saya menyemainya di teras depan yang menyisakan tanah tak seberapa luas, hanya dua kali setengah meter persegi.

Sempat merasa lucu sendiri, tanaman yang cuma beberapa batang itu tampak tak ada sedap-sedapnya dipandang. Saya berangan, kalau saja rimbun pasti enak dilihat. Pantas, sewaktu menanam, orang yang lewat seolah mengatai saya dengan sorot pandangnya. Tapi saya menghibur diri, menyaksikan ia tumbuh, itu keindahan dari sisi yang lain. Saya menikmatinya.

Dan benar, sambil ngopi pagi atau malam, sembari menyiraminya, denyut bertumbuhnya tanaman itu menjalar juga ke saya. Bagi yang memuja empirisme atau tak suka mengaitkannya dengan hadirnya Tuhan, proses tumbuhnya tanaman itu merupakan proses biologi, proses kimiawi, dan proses fisika yang wajar saja. Sekaligus itu sebab pertama kehidupan si tanaman. Kata imam Al Ghazali, sebab pertama adalah Tuhan. Ada kehendak Sang sumber kehidupan di sana. Dan saya setuju.

Kehendak Sang Sumber Kehidupan 

Seiring waktu, tanaman ini beranjak kuat dan tumbuh cabang yang banyak. Cabang-cabang itu saya petik lalu ditanam lagi. Hidup. Saya merasa senang, akhirnya bisa juga merawat tanaman hias. Saya menanam beberapa tangkai cabang di belakang rumah. Juga dengan luas yang mungil. Dan sukses pula. Tanaman yang saya semai tumbuh subur dan segar.

Seminggu ini, tanaman saya yang di belakang rumah tampak kerontang,walau tak kering. Tinggal batang dan cabang tanpa daun yang berwarna merah keunguan, satunya lagi tak cuma daun, bunganya yang merah muda dan oranye juga raib. Persis terlihat seperti tulang tanpa daging. Bahkan ada pula batang yang tampak kacau dan patah. Rupanya ayam tetangga yang tak pernah saya undang, pelaku perusakan itu. Beruntung tanaman itu tidak mati.

Semula saya marah, pernah melempar kerikil kecil pada ayam yang sedang mencokok tanaman saya dengan lahap. Selang waktu, saya jadi tak enak hati dengan ayam yang sempat saya lempar batu kecil. Bukankah itu proses alam yang wajar saja. Bagian dari rantai makanan. Ada kehendak Tuhan di sana. Kenapa saya marah. Bukankah pula itu pengingkaran. Ingin menikmati spiritualitas tapi mengkhianati nilai-nilainya. Mana bisa.

Tanaman itu meski tinggal batangnya, tetap saya jaga, saya sirami. Kalau ada ayam yang masih menghampiri saya usir sewajarnya, tidak dengan kasar. Tapi kalau tak tahu, apa boleh buat. Biarlah ayam itu menikmatinya, juga sewajarnya. Bersambung………….

Penulis: Muhamad Dopir
(Pengajar di PP Nihadlul Qulub, Pemalang & Pengurus LP Maarif PCNU Tangerang Selatan)