Kolaborasi Apik Pengembangan Santri di Bidang Teknologi

527
Dokumentasi Pribadi

Oleh: Habibi Salim
(Founder Axar School)

Wow, its amazing, kata itulah yang sekejap melintas di benak penulis. Ide yang selama ini terpendam akhirnya terealisasi. Yups, “Ngaji Coding”, sebuah program pelatihan coding untuk para santri. Dan tepat hari ini Ngaji Coding resmi Kick off. Ngaji Coding merupakan kolaborasi Axar School, PCI NU Tiongkok, KBRI Beijing dan AIS Nusantara. Hal ini penting sebagai milestones dunia pesantren beradaptasi dengan industri 4.0 yang semakin akseleratif di Indonesia. Semua pihak yang mendukung program ini bahkan sepakat bahwa langkah ini merupakan langkah mutlak, Now or never.

Sejak dibuka dua minggu lalu, Program Ngaji Coding batch 1 akhirnya dimulai hari ini. Sambutan para santripun sangat tinggi, santri ini berasal dari 250 pesantren seluruh Indonesia siap mengikuti pelatihan yang akan berlangsung selama dua pekan ke depan. Dengan skema beasiswa, santri dapat mengikuti program ini secara gratis. Tak hanya itu program ini akan berlanjut untuk batch 2 dan 3 selama tahun 2020. Namun dengan keterbatasan kuota beasiswa, banyak para santri yang tidak lolos seleksi pada tahap pelatihan ini.

Webinar bertajuk “Fourth Industry Revolution: Top Skills Demands” menjadi agenda pertama pelatihan. Di webinar ini para peserta mendapatkan insights dari para pembicara tentang skills yang harus dimiliki dimasa depan. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini, David Christianto, Senior Data Engineer Bukalapak dan Jevri Ardiansyah, Chief Academy Officer Axar School yang saat ini sedang mengambil Pendidikan lanjut Computer Science di Saga University, Jepang.

Jevri Ardiansyah, CAO Axar School memaparkan kondisi industry saat ini dan keterampilan apa yang harus dimiliki para santri untuk berkompetisi di industri ini. Seperti diketahui pemajuan teknologi satu sisi menyelesaikan masalah bagi manusia, dengan membuat praktik bisnis, Pendidikan dan sektor lain menjadi lebih mudah. Namun perkembangan teknologi juga menimbulkan masalah, dengan berkurangnya profesi yang dapat digantikan dengan mesin. Artificial Intelligence misalnya, diprediksi dapat menggantikan pekerjaan harian seperti teller Bank atau kasir. Kabar bagusnya adalah, AI juga akan melahirkan profesi baru dimasa depan.

Sementara itu, David, Data Engineer Bukalapak, mengkonfirmasi paparan Jevri, Bahwa dirinya yang berkecimpung di dunia e-commerce terus melakukan riset agar praktik bisnis ke depan semakin efisien dan cepat dengan menggunakan cloud computing khususnya dalam analisis data.

Axar School sendiri merupakan sebuah Sekolah Koding yang berbasis platform yang fokus pada pelatihan teknologi seperti Web Development, Mobile Apps Development, Data Science, Artificial Intelligence dan Robotic. Habibi Salim, CEO dan Founder Axar School mengatakan optimis bahwa misi axar school dalam mengakselerasi pendidikan menengah di bawah naungan pesantren akan berhasil.

“Optimisme berdasarkan beberapa hal, pertama, dukungan berbagai pihak untuk mengerjakan PR besar ini sangat terbuka, PCI NU Tiongkok, AIS Nusantara, KBRI Beijing dan pihak-pihak lain yang mendukung program ini. Kedua, dari pihak santri ternyata sangat antusias.Saya yakin, dengan tipologi santri yang ulet, mereka akan berhasil.” Tuturnya

Ke depan Axar School akan mengajak perusahaan-perusahaan teknologi lainnya untuk bekerja sama dengan kapasitas yang dimilikinya. Mulai dari sertifikasi, penerimaan magang, dan menyediaan infrastruktur untuk digitalisasi pesantren. Sejauh ini Axar School sedang dalam proses utuk menjadi business partner dengan salah satu perusahaan teknologi asal Amerika yang beroperasi di Indonesia. Partnering ini nantinya akan menambah legitimasi dan kwalitas Pendidikan di Axar School karena seluruh kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri. Selain itu partnering ini aka nada sertifikasi bagi para peserta di Axar School.

Dalam sambutannya, ketua Syuriah PCI NU Tiongkok, KH. Imron Rosyid mengatakan bahwa, santri harus menguasai STEM agar tidak tertinggal. Ngaji Coding merupakan salah satu dari sekian rangkai program Ramadhan PCI NU Tiongkok yang bertajuk “Nihao Ramadhan” Dirinya juga meminta seluruh pihak yang sudah terlibat, untuk bersedia menggelar program ini setiap tahun,

“Saya sangat berharap, program ini harus ada setiap tahun untuk mengembangkan potensi pesantren. Pihak-pihak yang belum terlibat seyogyanya bisa turut bergotong royong membangun pesantren. Dengan kolaborasi seperti ini saya kira pekerjaan rumah kita akan cepat selesai” tuturnya

KH. Imron Rosyid juga percaya bahwa potensi santri sangat besar dan mampu beradaptasi ke dunia teknologi. Gelombang ilmu pengetahuan ini akan mampu dikuasai oleh para santri ke depan jika semua pihak mau berkolaborasi untuk mengerjakan PR besar ini.