Kisah-kisah Jenaka Keturunan Arab Betawi yang Sarat Nasihat

228
arab
Photo by Matheus Ferrero on Unsplash

Kedatangan bangsa Arab ke Indonesia diyakini terjadi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama pada abad ke-7, gelombang kedua terjadi pada abad ke-14—bersamaan dengan datangnya Wali Songo, dan gelombang ketiga pada abad ke-19. Menurut buku Orang Arab di Nusantara karya Van Den Berg, tujuan mereka bermigrasi ke nusantara, tak lain tak bukan untuk merantau. Ada pepatah yang masyhur di kalangan mereka, bahwasanya mereka merantau demi mencari cincin Nabi Sulaiman yang kaya raya—sebuah pepatah yang bermakna mirip dengan kerja banting tulang demi sesuap nasi di Indonesia.

Tak berbeda dengan perantau dari negara lain, maksud perantauan yang dilakukan adalah untuk mengubah nasib ke arah yang lebih baik. Dimulailah perjalanan mengadu nasib para keturunan Arab ini dengan berdagang. Sambil berdagang, mereka menyerukan ayat-ayat Allah, menyebarkan agama Islam melalui kegiatan dakwah.

Pendapat lain memisahkan motif perantauan bangsa Arab yang sebagian besar berasal dari Hadramaut—sehingga kaum ini juga dikenal dengan orang-orang Hadrami—ke Indonesia. Sebagian mereka memang hijrah untuk berdagang, sebagian yang lain untuk misi dakwah. Perbedaan motif kedatangan bangsa Hadrami disebabkan karena mereka yang datang ke nusantara adalah keturunan habib dan sayyid.

Para habib, yang memiliki garis keturunan sampai Nabi Muhammad Saw., memang kerap berdakwah. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajar mengaji, membuka majelis-majelis ilmu hingga mendirikan pesantren. Sedangkan para sayyid, merupakan golongan yang bukan keturunan Nabi Muhammad. Mereka mewarisi bakat gemilang bangsa Hadrami; melakukan perniagaan.

Para keturunan Arab yang datang ke Nusantara ini kemudian menyebar ke wilayah-wilayah di Indonesia. Salah satunya ke Batavia, kota perdagangan yang cukup penting pada masa kolonial Belanda. Saat Batavia masih dikuasai Belanda, orang-orang Hadrami ini yang tiba di pelaabuhan Sunda Kelapa ini langsung ditempatkan di Pekojan. Sehingga tak heran bila kawasan ini dikenal dengan perkampungan Arab. Meski pada era yang lebih kini, Condet, Jakarta Timur, lebih dikenal sebagai kampung Arab di Jakarta. Tak lain tak bukan karena kawasan ini disesaki oleh keturunan Arab, baik yang menebarkan ajaran Islam, maupun yang berdagang berbagai macam barang, mulai dari kebutuhan sehari-hari, karpet, parfum, hingga segala hal khas Timur Tengah.

Saat ini, tidak sulit menemukan bangsa Arab di seluruh kawasan Nusantara. Mereka telah menetap, melakukan pernikahan dengan suku bangsa lainnya, berkeluarga, beranak-cucu, turun temurun hidup di Indonesia, menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya. Para keturunan Arab ini juga turut berjuang bersama merebut kemerdekaan. Pun, sejak masa kemerdekaan hingga kini mereka memiliki sumbangsih tak sedikit dalam membangun negeri tercinta. Meski tradisi, kebiasaan, dan cara hidup yang khas para keturunan Arab ini tetap menarik untuk ditilik, terlebih dalam memperkaya budaya nusantara.

Cover Buku Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang Karya Ben Sohib

Adalah Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang karya Ben Sohib, sekumpulan cerita pendek yang menggambarkan fragmen kehidupan orang-orang keturunan Arab, tepatnya Arab Betawi. Ben Sohib, yang sukses menampilkan wajah Arab Betawi pada dua novel sebelumnya; The Da Peci Code (Rahat Books, 2006) dan Rosid dan Delia (Ufuk Publishing, 2008), kembali memotret keseharian orang-orang Arab Betawi dengan penuh satir, sarat nasihat, namun tetap jenaka dengan humor yang mengundang tawa.

Ben Sohib meyakinkan pembaca bahwa tokoh-tokoh yang ada dalam 14 cerita pendek di kumpulan cerpen ini adalah orang-orang Arab Betawi. Bukan sekadar tempelan dengan menyematkan nama-nama berbau Arab seperti Abdulah, Umi, Abdurrahman, Ubaid, Jakfar Abdul Aziz, dan lain sebagainya. Tapi ia juga menggerakkan tokoh-tokoh tersebut berperilaku selayaknya orang Arab Betawi yang ceplas-ceplos, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, yang terkadang lugu, polos, naif, tapi lucu. Konflik dan plot yang jalin menjalin menghidupkan cerita semakin menguatkan karakter para tokoh.

Pada cerita Para Penjual Rumah Ustadzah Nung, misalnya, konflik berputar mengenai Dulah yang termakan bujuk rayu seorang perempuan agar Uminya, Ustazah Nung, rela menjual rumah dan ia mendapatkan uang dari hasil penjualan tersebut untuk modal menikahi sang cinta pertama. Antara keluguan dan kebodohan yang hakiki, sejatinya Dulah hanya terjebak pada permainan licik makelar tanah yang menipunya (hlm. 7-18).

Atau pada kisah Nasrul Marhaban dalam Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang, pembaca diajak memamah nasihat tentang konsep husnul khatimah dengan cara yang kelewat jenaka. Diceritakan, Nasrul adalah warga Kampung Melayu Pulo yang terkenal sangat jarang beribadah. Ia hanya mengunjungi masjid pada tiga momen: saat Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan saat rumahnya kebanjiran. Tapi siapa nyana, kematiannya yang begitu dramatis melawan arus sungai saat banjir menyapa permukimannya, begitu dikenang, bahkan dijadikan suri tauladan para penduduk kampung (hlm. 55-57). Plot twist yang dicipatakan Ben Sohib pada cerita ini membuat pembaca merasakan nano-nano rasa: takjub, kesal, hasrat misuh di ending pembacaan dan lucu, secara bersamaan. Hampir mustahil jika pembaca tidak terbahak-bahak—setidaknya mengulum cengiran—sesaat setelah membaca kisah Nasul Marhaban ini.

Ben Sohib, yang juga terkenal sebagai penulis cum jurnalis keturunan Arab, nampaknya paham betul setiap sudut Jakarta yang disesaki orang-orang keturunan Arab Betawi lengkap dengan realitas kehidupannya. Ia, tanpa tedeng aling-aling, misalnya, menulis … Kampung Melayu Pulo tentu bukanlah satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk. Tapi, sangat mungkin hanya di sini dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim (hlm. 101). Deskripsi sebuah setting tempat yang hanya dapat digambarkan oleh penulis yang mengetahui betul kondisi tersebut—sekurang-kurangnya mereka yang telah melakukan riset mendalam tentang hal ini.

Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang berisi kisah-kisah lainnya yang tak kalah lucu, menyebalkan, namun tak lepas dari pesan-pesan kebaikan yang mudah dicerna. Menyoal tentang kemalangan, kemiskinan, bahkan kebodohan yang sangat mungkin terjadi oleh siapa saja, tidak hanya orang Arab Betawi semata. Namun, kentalnya budaya Arab Betawi yang ditampilkan dalam kumpulan cerpen ini mengajak pembaca turut memahami realitas kehidupan komunitas keturunan Arab yang ada di Jakarta yang selalu menarik untuk dicuplik, seperti juga kehidupan masyarakat etnis dan suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia.

Penulis: Nyimas Gandasari