Kisah Heroik sebagai Permintaan Maaf pada Ibu

469
ibu
Photo by Noah Silliman on Unsplash

Kisah ini kami persembahkan untuk semua yang masih belum mengerti akan hadirnya seorang Ibu dalam kehidupan, hadirnya mungkin biasa saja, marahnya seringkali mengganggu, nasehatnya memang sering diabaikan, namun dengan tulisan ini semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Mencoba Menjadi Pahlawan

Mungkin cobaan terbesar bagi orang yang selalu tampil di depan panggung seumur hidupnya ialah dikucilkan dari masyarakat, dan cobaan terbesar bagi orang yang selalu hidup menghindari rasa aman adalah tidur di kasur yang empuk, ditemani istri yang cantik.

Bagiku, bagi orang yang dikucilkan seumur hidupnya dan selalu mencari aman, cobaan terbesarku ialah mengambil pilihan penting dan menyelamatkan nyawa banyak orang. Aku menjadi pahlawan, terdengar lucu, mungkin besok aku sudah jadi tokoh utama di surat kabar online kota kecil yang kutinggali ini.

Aku bisa saja memukulkan botol stainless steel ke orang yang menodongkan pisau ke arah ibu-ibu yang sedang makan bersama anaknya, posisiku di sampingnya persis, menyantap ayam goreng favoritku, dengan nyaman. Sampai penjahat ini datang dan musnahlah semua rencanaku.

Nasib penjahat ini sungguh tidak beruntung. Ia menodongkan pisau pada Ibu-Ibu dan langsung mengambil tasnya. Kulihat di luar temannya sudah menunggu di atas motor, siap-siap memutar gas motor. Aku tak sempat melihat satpam atau petugas di sini, mungkin aku tidak kepikiran memukulkan botol minumku ke kepala penjahat. Biasanya aku akan diam saja, mencari aman.

Tentang Kisah Kekesalanku

Kali ini aku sedang tidak ingin mencari aman. Sungguh muak rasanya  tiga tahun aku menganggur. Tidak terasa sebetulnya. Awalnya masalah sepele, aku ditolak cintanya oleh gadis yang aku cintai semenjak SMA karena aku terlalu gendut, Ia memilih pria yang lebih kurus dan tampan dariku.

Aku patah hati, dan lebih sedih lagi karena aku ditolak berbagai perusahaan gara-gara aku gendut. Menurut perusahaan-perusahaan itu, karyawan dengan fisik yang ideal akan lebih cekatan daripada yang terlalu gendut. Ya sudah, aku berusaha kurus agar bisa bekerja.

Segala macam cara kulakukan. Aku melakukan diet ketat dan fitnes setiap hari. Yang setelah setahun kulakukan, tidak membuahkan hasil. Setiap aku diet, ibuku selalu menyuruhku makan nasi dan selalu menangis kalau masakan di meja makan tidak aku makan. Fitnes pun percumah karena setelah dua jam fitnes, aku langsung bertambah lapar, dan makan lebih lahap daripada saat aku tidak fitnes. Alhasil aku bertambah gendut.

Sebab itulah aku berhenti fitnes dan diet, semenjak itu, setiap hari aku hanya bermain game. Hanya bermain game. Aku sampai harus mengganti pintu kamarku sehingga memiliki lubang berbentuk kotak, agar ibuku bisa memasukkan makanan tanpa aku harus keluar kamar. Aku memang berniat mengurung diri.

Seorang yang Membuat Resah Keluarga

Ibuku terkadang kudengar menangis di lorong tangga setelah mengantarkan makanan, tapi ayahku selalu memarahinya dengan berkata, “Sudah kubilang biarkan, lebih baik Ia mengurung diri daripada gantung diri.”

Hingga bulan lalu, ketika email itu muncul, barulah aku keluar kamar – dengan badan yang tidak bertambah gendut, tidak pula bertambah kurus. Rasanya baru sebulan aku mengurung diri, ternyata sudah dua tahun. Rambutku sudah sepinggang dan mataku rabun parah karena bermain game online setiap hari.

Aku tak melihat Ibu dan ayahku. Rumah sepi, kupikir mereka sudah bekerja. Aku langsung mandi dan mengenakan kemeja yang dulu kupakai untuk pergi ke perusahaan yang mengirimiku email, yang isinya menawariku bekerja sebagai atlet game online.

Tanpa melihat fisikku, aku diterima bekerja. Esoknya di hari pertama aku bekerja aku tak perlu lama beradaptasi dengan orang-orang baru. Orang-orang yang mengenalkanku dengan bir dan rokok.

Simak Artikel tentang Ibu, lihat Ibuku Politikus Paling Asik.

Segala Perseteruan Aku dan Ibu

Pasti ibuku akan marah jika tahu anaknya minum bir. Namun, tidak seperti kebanyakan orang, bir justru membuatku lebih kurus. Tidak masuk akal memang. Dan karena membuat kurus, aku terkadang pulang sambil mabuk. Ibuku tahu dan memarahiku, Ia takut Tuhan murka padaku. Lantas kujawab, “Tuhannya Ibu yang akan marah. Ibu yang dari aku kecil selalu mengajarkanku semua tentang Tuhan”.

Seakan hanya Ibu yang tahu segalanya tentang Tuhan. Aku tidak pernah bertemu Tuhan. Aku juga hampir tak percaya Tuhan. Gara-gara badan yang tidak bisa kurus dan nasib yang selalu sial. Sudah tiga tahun aku hidup dalam kepompong. Aku tidak memiliki hidup seperti teman-temanku. Sudah kaya, sudah bekerja dan sudah menikah.

Hidupku sungguh absurd. Kalau memang Tuhan betulan ada, tidak bisakah aku marah pada Tuhan? atau protes dikitlah. Kalau Dia benar-benar Tuhan, ya pasti maklum ciptaannya yang tidak ada bandingannya dengan dirinya ini sedang ngambek. Lagian ayah juga membolehkan aku yang kadang minum bir.

Benar, saat aku mabuk, aku mulai mengomel tentang Tuhan. Ibuku terdiam sejenak, lalu giliran ayahku yang kena amukannya. Ayahku kali ini diam seribu bahasa. Lalu Ibu mengusirku dari rumah.

Kembali ke Kisah Kepahlawananku

Itulah awal mula sepulang kerja, aku sering menghabiskan malam di restoran cepat saji .Aku rindu masakan Ibuku, tapi aku tak berani pulang. Ia masih ngambek. Sementara di kosan, tidak ada makanan. Dan di saat aku menikmati waktu paling berharga bagiku, membayangkan masakan Ibuku sambil makan. Penjahat dengan pisau ini seenaknya mengancam orang di sebelahku.

Aku tertusuk pisau. Darah mengalir dari perut. Aku hanya berdoa semoga pisaunya tidak karatan. Bagian terpentingnya ialah, penjahatnya lari setelah aku pukul dengan botol stainless steel 350 mL yang berisi bir, dan  tidak berhasil mengambil tas dan ponsel Ibu tadi. Mungkin Ia panik setelah orang-orang berteriak.

Dan orang-orang hanya berteriak. Tidak seorang pun cekatan menghubungi ambulan. Aku pun mengambil kunci motor, meninggalkan barang di kursi, lalu mengendarai motor menuju rumah sakit. Sampai di depan IGD, aku pingsan. Saat itu, yang terpikir olehku, aku senang, dengan ini saya merasa bersalah terhadap ibu, jika masih ada kesempatan ingin sekali memohon maaf kepada ibu, namun sebentar lagi aku bertemu Tuhannya Ibu.

Penulis: Affix Mareta