Kincir Angin: Anugerah di Negeri Belanda

621
Photo by Michal Soukup on Unsplash
Photo by Michal Soukup on Unsplash

Oleh: Dito Alif Pratama
(Alumni Vrije Universiteit Amsterdam dan Founder Santri Mengglobal) 

Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, termasuk diri saya sendiri, mengapa Belanda identik dengan julukan negeri kincir angin? Bagaimana ceritanya negera ini dijuluki dengan negeri negeri kincir angin? Juga mungkin timbul pertanyaan, apa sesungguhnya manfaat keberadaan kincir angin tersebut bagi masyarakat Belanda?

Sebelum membahas lebih jauh pertanyaan di atas. Saya ingin menyampaikan sebuah fakta menarik bahwa, kincir angin yang oleh ‘banyak kalangan’ diidentikan dengan negeri Belanda, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berasal dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang penduduk Belanda itu sendiri, melainkan ‘mengambil’ dari budaya bangsa lain.

Jika merujuk kepada laman www.britanica.com, dikatakan, bahwasanya ‘the earliest-known references to windmills are to a Persian millwright in AD 644 and to windmills in Seistan, Persia in AD 915’. Informasi ini menggambarkan bahwasanya peradaban pertama yang menggunakan kincir angin adalah penduduk Persia di sekitar abad 600 – 900 Masehi. Penduduk Persia kala itu memanfaatkan tenaga yang diperoleh dari kincir angin untuk membantu aktivitas pekerjaan mereka di pabrik dan irigasi.

Sampai akhirnya, ‘konsep’ kincir angin ini menyebar ke banyak kawasan di eropa pasca terjadinya perang salib dan perang dunia pertama dan kedua. Oleh penduduk Eropa, termasuk Belanda, inovasi fungsi dan konsep kincir angin inipun dilakukan sedemikian rupa sesuai dengan tradisi dan kebutuhan di wilayah mereka saat itu.

Inovasi penggunaaan kincir angin di Belanda, sesungguhnya, baru mulai terjadi di awal abad ke 12. Dalam sejarahnya, kincir angin di Belanda berfungsi untuk melayani pelbagai kepentingan dan hajat hidup masyarakat; seperti memompa air untuk mengairi sawah dan tanaman, membantu proses reklamasi daratan, menggiling bahan makanan pokok; seperti jagung dan biji-bijian, juga membantu sejumlah aktivitas kerja di pabrik; seperti menggiling rempah-rempah, memproduksi cat hingga menggergaji papan.

Ekspansi besar-besaran penggunaan kincir angin di Belanda terjadi di abad ke -16. Saat itu kincir angin tidak hanya berfungsi sebagai ‘mesin’ pembantu di pabrik dan pemompa air saja, tetapi juga digunakan sebagai alat bantu komunikasi, seperti untuk memanggil pekerja dari jarak jauh, dan juga pemberi informasi penting kepada khalayak luas seperti berita kematian dan pernikahan.

Pada abad ke-17, kincir angin pun telah banyak membantu sektor industri. Seperti yang terjadi di Zaanse Schanns. Lebih dari 600 pabrik yang berada di kota tersebut dibantu oleh energi yang bersumber dari kincir angin. Bahkan, beberapa kincir angin tradisional dan pabriknya pun masih ada hingga saat ini dan masih dapat kita kunjungi. Oleh banyak turis lokal dan mancanegara. Zaanse Schans, sampai saat ini, juga masih menjadi ‘destinani wajib’ bagi siapapun yang ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah kincir angin tradisional khas negeri Belanda.

Sampai pada awal abad ke-19, tercatat sedikitnya ada 9000 kincir angin tradisional yang tersebar di seluruh penjuru Belanda. Namun sayangnya, keberadaan kincir angin tradisional tersebut, lambat laun, mulai ditinggalkan alias dialihfungsikan. Dilansir dari  www.holland.com , saat ini kincir angin yang masih berfungsi hanya sekitar 1000 buah, beberapa diantaranya sudah diganti oleh pemerintah Belanda dengan model kincir angin modern  yang menggunakan turbin angin.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Terlepas dari pernyataan diatas, keberadaan kincir angin bagi pemerintah dan penduduk Belanda, adalah sebuah anugrah yang luar biasa. Ia tidak hanya mendongkrak sektor pariwisata dengan menjadi magnet bagi jutaan turis mancanegara tiap tahunya, tetapi juga menjadii ‘ikon’ penting untuk memenuhi hajat hidup penduduk Belanda di masa lalu dan masa kini.