Kiai Ahmad Muzammil, Hikayat tentang Keterusterangan

268
Kiai
Sumber Foto Mahadaly Situbondo.ac.id

Suatu waktu, redaksi Tanwirul Afkar melalui general manager, Kiai Muhyiddin Khotib memerintah saya untuk melakukan reportase terhadap alumnus Ma’had Aly Situbondo yang berkiprah di ruang-ruang publik. Reportase yang sedari awal dibuat untuk bertujuan mendokumentasikan kiprah lulusan di berbagai aspek perjuangan dan lahan pengabdian. Kelak tulisan tersebut akan dimuat dalam kolom fakhruna, yang secara bahasa memiliki arti “kebanggaan kami”.

Nama pertama yang muncul dalam benak saya adalah Kiai Ahmad Muzammil yang saya menyebutnya Ustaz Muzammil. Saya diam-diam memberi perhatian khusus pada jejak kiprahnya. Ia dekat dengan budayawan papan atas, Cak Nun. Dalam forum-forum Ma’iyah, ia sering diminta untuk memberi ceramah agama. Dalam benak saya bertanya,”Bagaimana ceritanya ia yang orang Madura bisa sekarib itu dengan Cak Nun?”, “Apa kelebihannya?” dan beberapa pertanyaan lain yang siap saya ajukan pada beliau satu-persatu.

Baca juga: Pandemic Fatigue dan Solusi Menghadapinya

Melalui media telepon saya bisa mengubunginya dan menggali berbagai info tentang dirinya. Saya ingat betul, ia menelpon saya jam 01 Dini Hari. Dengan aksen Madura yang masih sangat kuat, ia bercerita tanpa henti masa belajarnya di Pesantren, belajar intensif ilmu-ilmu keislaman di Ma’had Aly dan kiprah perjuangannya pasca lulus dari Ma’had Aly.

Kisah Selama di Pesantren

Di pesantren Sukorejo ia sekolah merangkap. Pagi sekolah Madrasah keagamaan dan siang hingga sore di lembaga pendidikan umum. Di Madrasah ia menempuh pendidikan dengan amat cepat, sebab ia kerapkali mengikuti ujian akselerasi. Yaitu ujian bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih untuk naik kelas tanpa menunggu waktu lama. di bangku sekolah umum, ia dengan karibnya yang lebih dulu wafat, Kiai Jalal kerap mengikuti lomba cerdas cermat. Dua hal yang bisa dijadikan bukti bahwa ia di pondok tipikal santri yang cerdas.

Kabar buruk tersiar. Muzammil yang kerapkali diutus sekolah untuk mengikuti lomba di luar pondok dikabarkan tidak bisa mengikuti ujian nasional. Presensi kehadirannya tidak memenuhi syarat mengikuti ujian. Setelah saya amati lebih dalam, penyebabnya ketika tahun-tahun terakhir di sekolah SMA, ia sering lambat masuk kelas. Salah seorang guru bersikeras bahwa yang lambat tetap diberi keterangan tidak masuk. Padahal ia meski lambat tetap masuk dan mengikuti pelajaran.

Bukan tanpa alasan kenapa ia harus lambat masuk kelas. Di tahun yang sama, ia sangat intens privat kitab kuning ke Kiai Thoha, salah seorang keluarga Kiai As’ad yang dikenal alim-allamah. Lokasinya di desa sebelah yang jarak tempuhnya jauh menjadikan Kiai Muzammil muda tak bisa masuk kelas sesuai jadwal seperti biasanya. Zaman dulu, kediaman Syaikh Thoha menjadi salah satu magnet keilmuan di Pesantren Sukorejo Asembagus. Ribuan santri berbondong-bondong menuju kediamannya meski di bawah terik siang matahari.

Ia benar-benar frustasi. Ia merekam kuat peristiwa ini dan begitu emosional menceritakan kisah ini pada saya. Frustasi itu mulai reda ketika tahun ia berduka di Pesantren Situbondo membuka lembaga baru yang diberi nama Ma’had Aly. Ia berniat melampiaskan kesedihannya dengan masuk di lembaga yang semua tenaga pengajarnya adalah para kiai ini.

Ujian masuk untuk angkatan pertama dibuka. Ia tak sabar untuk menjadi bagian di dalamnya. Namun, kabar sial kembali menimpa dirinya. Usianya yang masih kanak-kanak dan tak memiliki ijazah SMA tak memenuhi syarat administratif. Sudah jatuh tertimpa tangga pula!

Ia gusar bukan main. Ia sudah frustasi dengan sebenar-benarnya frustasi. Bayangannya sudah jelas: ia akan berhenti mondok. Ketika puncak frustasi, ia mendatangi Kiai Afifuddin Muhajir, salah seorang yang oleh pendirii ditunjuk untuk mengelola Ma’had Aly. Di hadapan Kiai Afif, Muzammil menyampaikan apa adanya semua hal yang membenani fikirannya. Di tengah percakapan, ia mengatakan dengan bahasa Madura:

“Kiai, kalau saya tidak diizinkan masuk Ma’had Aly, saya mau pulang saja karena sudah tidak ada pelajaran menarik lagi di Pondok!”

Mendengar kegelisahan salah seorang santrinya, Kiai Afif diam dan merenung agak lama. ia berfikir bagaimana keputusan terbaik yang perlu diambil. Selang berapa lama Kiai Afif memberi izin khusus dan lampu hijau pada Muzammil Muda.

“Iyelah Mil, adaftar ka Ma’had Aly (artinya: iya, silahkan mendaftar di Ma’had Aly, mil)”, ujar Kiai Afif dengan bahasa Madura yang khas.

Catatan tambahan. Dalam beberapa kesempatan, Kiai Afif sering menjadi tempat pengaduan beberapa santri ketika memiliki masalah-masalah kehidupan dalam mencari ilmu. Selain Kiai Muzammil, suatu waktu Kiai Afif juga pernah menjadi jaminan salah seorang santri yang pernah memiliki pelanggaran berat. Kiai Afif dengan pandangan batinnya (ainu al-Bashirah), kerap membantu mereka mencari jalan dan pemecahan pelbagai masalahnya. Sebuah sosok bagaimana seorang murabbi, mendidik hingga ke relung hati.

Muzammil muda bahagia alang kepalang. Kekecewaannya terbayar lunas dengan izin untuk masuk Ma’had Aly. Ia kemudian menyiapkan bekal untuk masuk. Ujian Fathul Muin dan Ghayah al-Wushul bukan perkara sulit bagi dirinya yang memang cerdas dan rajin belajar kitab. Singkat cerita, ia diterima Ma’had Aly.

Babak Baru dimulai

Babak baru dalam hidupnya dimulai. Ia bertemu dengan beberapa anak muda yang memiliki concern dan semangat yang sama; sama-sama ingin mendalami kajian-kajian keislaman. Ditambah di sana ia bertemu dengan dewan pengajar yang juga kiai-pemikir raksasa di zamannya. ia bersama teman-temannya belajar pada Kiai Hasan Abd, Wafi, Kiai Mukhtar Syafaat, Kiai Abd. Wahid Zaini, Kiai Yusuf Muhammad, Kiai Nadir Muhammad, Kiai Sufyan Miftahul Arifin, Habib Baharun, Prof Syaikhul Hadi dan beberapa tokoh lainnya.

Peran Ma’had Aly sebagaimana pernah diceritakan sendiri oleh Tadz Muzammil tak bisa ditampik dalam membangun pola berfikirnya dalam beragama. Dari Ma’had Aly pula ia merasa banyak fikiran dan ide-idenya banyak yang cocok dengan Emha Ainun Najib. Karuan saja, Cak Nun dalam berbagai forum kerap memintanya memberikan pandangan keagamaan.

Sejak melakukan reportase itu, hubungan saya dengan Tadz Muzammil makin hari makin dekat. Ketika ada agenda ke Jogjakarta, saya dipaksa mampir di kediamannya di sebuah desa di Bantul. Ia termasuk sosok manusia nekat. Tanpa bekal selembar ijazah, ia hijrah ke Jogja yang keras itu dengan membawa istri tercintanya. Di sana ia menamamkan idealisme bahwa dimanapun seorang santri hidup ia harus memberi kemanfataan. Di Jogja ia menanam manfaat itu dengan mendirikan pesantren Rohmatul Umam.

Terus Terang dan Kukuh

Kiai Muzammil adalah manusia yang menyukai keterusterangan. Ia sebagai orang Madura, yang menurut peneliti dari Universitas Jember, A Lathif Wiyata, hidup dengan apa adanya, ekspresif , spontan dan terbuka. Ia tak suka berdiri di dua kaki dan cari aman. Apapun resiko dan batu sandungan, ia tetap berdiri kukuh dengan sikap keterustrerangan.

Itulah yang ia pegang dalam memandang masalah ke-NU-an, organisasi kecintaan amanat gurunya dan masalah politik kebangsaan. Ketika Pilpres yang penuh huru hara itu, ia lantang menyuarakan tentang masalah oligarkh, koorporasi, polititasi dan segenap hal yang melingkupinya. Ia juga lantang mengkiritk elit-elit sebuah organisasi yang “bermain mata” dengan politisi ketika masa-masa Pemilu.

Masa-masa terberat Ustaz Muzammil adalah ketika proses Pemilu. Ia kadang harus berseberangan dengan kawan-kawan dekatnya. Suatu waktu tiba-tiba ia menelpon saya dan bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang diperjuangkannya. Di tengah-tengah percakapan, ia berseloroh, “Husain! Gara-gara sikap saya, saya banyak dimusuhi teman-teman saya”.

Saya menjawab mencoba menenangkan, “Maju tadz, selama baik, saya siap menemani panjenengan”.

Saya berujar begitu karena saya tahu sendiri bagaimana ketulusan beliau dalam memilih sikap politik. Saya terlampau lama terlibat “debat keras” dengan beliau dalam berbagai hal. Ia terbuka, mau mendengar dan siap dikritik. Saya sangat ingat beberapa kali ia manggut-manggut menjawab, “iya, iya..” ketika saya mengatakan, “ustaz jenengan dalam masalah ini kuang tepat, seharusnya begini….”

Ketika ramai-ramai Omnibus Law, ia tiap hari berikirim pesan ke saya. Ia meminta saya diskusi dan meminta pendapat kepada Gus Fayyadl terkait beberapa materi undang-undang yang dianggap bermasalah. Sikapnya jelas, keberpihakan harus diberikan kepada kaum lemah dan dilemahkan.

Ustadz Diskusi Kita Belum Selesai

Hari-hari ini, mood menulis saya remuk. Tadi pagi mendengar info kemangkatan beliau ke alam selanjutnya. Ingatan saya langsung mundur ketika karibnya, Kiai Jalal Wafat. Ia adalah orang pertama yang saya minta untuk menulis catatan takziyah. Seperti biasa, tiap ada permintaan menulis catatan untuk orang wafat ia segera menulisnya

Hari ini, orang yang biasanya saya mintai tulisan untuk menghormat kepergian orang yang meninggal juga sudah meninggal. Ia tak sempat memberi catatan terakhir atas kepergian dirinya sendiri. Itu juga yang akan menimpa saya, anda dan kita semua.

Dalam kesepian, saya berteriak menangisi kepergian Kiai Ahmad Muzammil:
“Tadz! Diskusi kita belum selesai!”

Penulis: Ahmad Husain Fahasbu