Ketupat Simbol Menutupi Kesalahan?

563
Photo by Larisa Birta on Unsplash
Photo by Larisa Birta on Unsplash

Oleh :Samsudin

Gemuruh takbir  beralu-talu menghiasai jagad malam di pengujung Ramadan. Perbedaan perayaan Idul Fitri benar-benar nampak di tahun 2020 ini. Sentuhan antar telapak tangan tidak terlihat karena anjuran mematuhi protokol kesehatan. Notif layar Smartphone berlomba-lomba memberi kabar dan kata-kata indah dari pengirimnya.

“Kupat, Lepet duduh santen

Menawi lepat,  mumpung sempet nyuwun ngapunten”.

Cuitan syair berbahasa Jawa tersebut merupakan salah satu pesan singkat yang sering kita jumpai pada masyarakat Jawa setiap perayaan Idul Fitri yang setiap tahunnya telah melekat dengan segala tradisi.  Cuitan syair tersebut juga memiliki arti khas kebudayaan di setiap sampiran dan isinya. Terjemahan larik sampiran di atas yaitu ‘Ketupat,  Lepet, dan Santen”, sedangkan terjemahan isinya kurang lebih ‘kalau salah,  dan mumpung ada kesempatan saya meminta maaf’. Kata ketupat, lepet, dan santen selalu hadir dan saling berdampingan dalam satu kalimat dan merupakan satu-kesatuan yang utuh serta saling melengkapi.

Mungkin kalian sebagai pembaca yang belum mengetahui tentang tradisi Jawa akan bertanya-tanya,  mengapa kalimat itu tidak menghadirkan opor ayam, rendang, atau soto saja sebagai pelengkapnya? Tentu,  pemilihan kata yang digunakan tidak hanya bertujuan memperindah rima atau vokal yang dimunculkan dalam syair. Dalam tradisi Jawa yang berlangsung secara berlulang setiap tahunnya pada saat Idul Fitri terutama di daerah pedesaan, sajian ketupat lebaran selalu di bungkus dengan kuah santan. Mereka bukan tidak menyukai opor ayam maupun soto, tetapi santan yang berbahan baku kelapa adalah sebuah ciri khas dari hasil bumi masyarakat sebagai simbol rasa syukur terhadap Pengeran (Allah SWT) atas limpahan rezeki melalui alam.

Lalu,  apa itu Lepet? Tentu masyarakat Jawa tidak asing lagi dengan istilah Lepet yang selalu hadir berdampingan dengan ketupat pada saat perayaan Idul Fitri. Lepet adalah salah satu jajanan pelengkap di meja makan yang terbuat dari ketan dan rasanya hampir menyerupai Lemper. Hanya saja,  Lemper yang biasanya berisi ayam tetapi dalam lepet diganti dengan kacang. Selain itu, proses pembuatan lepet juga seperti ketupat,  yaitu dengan cara direbus kurang lebih selama empat jam. Mengapa harus Lepet? Jangan heran dengan penyandingan kata Lepet, karena Ketupat, Lepet, dan Santan adalah tradisi yang telah menjamur di Jawa pada saat lebaran tiba.

Kata Ketupat dalam budaya Jawa dilambangkan dengan Lepat yang berarti “kesalahan/kehkilafan”. Artinya, segala kesalahan dan kekhilafan telah dibungkus rapat dengan janur (daun kelapa yang masih muda) sebagai simbol bahwa kesalahan dan dosa yang telah diperbuat harus ditutup dengan rapat dan jangan di buka kembali sebagai bentuk pemaafan. Itulah sebabnya,  ketika kita hendak makan ketupat tidak diperbolehkan membuka dengan cara menguliti bagian bungkusnya, tetapi harus diiris dengan menggunakan pisau. Karena hal tersebut merupakan bentuk tradisi yang harus dipatuhi oleh masyarakat Jawa.

Kata santen, yang berarti santan disimbolkan sebagai “pangapunten”  yang memiliki terjemahan “pemaafaan”. Secara umum, kita telah mengetahui bahwa santan berbentuk cair dan berwarna putih bersih. Hal itu bermakna bahwa santan adalah lambang kesucian yang terus mengalir dalam diri manusia yang memiliki sifat pemaaf. Sedangkan hadirnya Lepet sebagai pelengkap yang dijajarkan dengan simbol “sempet”  atau “sempat” memiliki makna bahwa kesempatan untuk meminta maaf secara langsung tidak hadir setiap hari, kecuali pada saat momen Idul Fitri. Hal itu,  dimaksudkan bahwa pada saat Idul Fitri adalah momen berkumpul dengan keluarga dan saudara untuk menjalin silaturahmi secara langsung yang belum tentu setiap hari terjadi sebab kesibukan di tanah rantau.

Lalu bagaimana dengan era pandemi yang notabene terdapat larangan untuk mudik? Tentu, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik harus mematuhi protokol kesehatan dan menghormati segala keputusan pemerintah sebagai wujud tindakan untuk memutus rantai persebaran Covid-19. Tradisi berkumpul bersama keluarga,  menjalin silaturahmi dengan tetangga, dan bersalaman untuk meminta maaf bisa saja tidak terjadi pada tahun ini. Tetapi tali silaturahmi juga harus tetap terjaga dengan baik.

* Samsudin, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya