Ketika Ustadz Dikoreksi Santri Saat Mengajar Nahwu

371
Santri
Dokumentasi Pribadi Zaim Najibuddin Rahman

Kala itu di hari Sabtu seluruh santri seperti biasa mengikuti kegiatan pengajian. Pengajian diadakan bakda jamaah salat Ashar. Setelah doa yang dibacakan imam selesai, satu per satu santri keluar dari masjid.

Aku masih bertahan di dalam masjid. Duduk sebentar. Ada tambahan doa yang ingin aku panjatkan:

“Ya Allah berikanlah hamba-Mu ini pasangan hidup yang salihah dan mencintai hamba apa adanya.” Doa kututup dengan amin paling serius. Setelahnya aku keluar dari masjid untuk bersiap-siap mengajar.

Baca juga: Mancangah; Kisah Aryanti dan Segala Impiannya

Di aula, seluruh santriwati sudah berkumpul. Sambil menunggu ustadz datang, mereka membaca bait-bait Alfiyyah. Aula dipenuhi dengan lantunan bait Alfiyah. Bait per bait disenandungkan dengan penuh khusyu.

Kegiatan Belajar Nahwu 

Ustadz yang ditunggu datang; Aku. Sambil mengucap salam, aku masuk dengan pelan. Salah satu santriwati memberi aba-aba untuk memberikan penghormatan dan memberikan salam bersama. Pengajian pun dimulai. Kami mengkaji ilmu nahu sore itu tentang maf’ulbih.

Setelah membaca kaidah dengan seksama. Aku memberikan contoh dari maf’ulbih;

ضرب محمد زيدا

Aku menjelaskan kata زيدا di sana menjadi maf’ulbih dari pekerjaan ضرب yang dilakukan oleh محمد sebagai fa’ilnya. Namun, selang beberapa detik kemudian, salah satu santriwati mengangkat tangannya.

“Ustadz, maaf,” santriwati itu berujar. Ia menunduk. Namun, pesonanya tidak bisa ditutupi.
“Iya? Ada apa?” Aku menyahut.
“Sepertinya ada yang keliru,” ujar santriwati tersebut. Ia tetap menunduk.

Aku pun kaget. Sudah lima tahun mengajar nahu, baru kali ini penjelasan yang biasa aku ajarkan dianggap keliru.

“Keliru? Keliru di bagian mananya ya?” Aku bertanya dengan serius.
Semua santriwati berdiam diri. Aula terlihat hening. Menunggu apa yang akan terjadi.
“Kaidahnya sudah benar, tetapi contohnya …” Jawab santriwati.
“Contohnya kenapa?” Aku memotong.
“Seharusnya contohnya itu Uhibbuka; yang artinya aku mencintaimu,” lanjut santriwati. Ia tetap menunduk.

“Aaaaaaaakkkkkk,” santriwati yang lain heboh. Seisi aula geger. Aula pecah sana-sini.
Wajahku memerah. Aku tersipu. Aku salah tingkah.

Sekarang si santriwati memberanikan diri mengangkat wajahnya. Kami bertatap. Apakah ini yang dinamakan pandangan pertama? Aku membatin.

Ternyata Hanya Mimpi

“Ustadz…ustadz,” seorang santri memukul pundakku.

Aku terbangun. Ternyata itu hanya mimpi. Aku tertidur saat zikir bakda ashar. Agar tidak terlalu malu, aku bertanya kepada si santri:

“Sore ini jadwal belajar sama saya ya?”
“Iya Ustadz. Belajar nahu,” jawab santri.

Wah belajar nahu. Seakan apa yang aku mimpikan barusan akan terjadi. Aku tersenyum sendirian. Lalu kulanjutkan pertanyaan:

“Seluruh santriwati sudah siap semua di aula?”
“Maaf Ustadz, yang ikut mengaji santri putra,” sahut si santri.
“Iya iya maksud saya santrinya udah pada siap?”
Si santri mengangguk. Aku hanya diam; malu bukan main.

Ternyata sekarang jadwal ngaji nahwu santri putra bukan santriwati, sambil tersenyum aku berjalan menuju tempat pengajian dan bergumam dalam hati, ternyata mimpi barusan hanya bunga tidur, sekian.

Penulis: Zaim Najibuddin Rahman, Lc. S.Pd
(Mahasiswa Magister PBA UIN Syarif Hidayatullah)