Kesehatan Mental dalam Kondisi Social Distancing

546
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Oleh: Anggiastri H. Utami, M.Psi.
(Psikolog, Pemilik Lembaga Kemuning Kembar dan Omah Perden)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa virus corona sebagai pandemi yang terjadi secara global di seluruh dunia. Persebarannya yang begitu cepat dan massive ini di diketahui pertama kali muncul di kota Wuhan, Cina, pada pertengahan Desember 2019 lalu. Tidak membutuhkan waktu banyak, virus ini menginfeksi dari satu orang ke orang lainnya dan tanpa sadar telah menyebar secara luas di kota Wuhan dan Cina.

Pada banyak kasus, penderita tidak menunjukkan gejala fisik yang berat sehingga membuat orang yang terinfeksi tidak sadar bahwa ia membawa virus dalam tubuhnya. Hal ini yang membuat Covid-19 menjadi lebih sulit untuk ditangani. Seseorang bisa menjadi carrier (pembawa) virus meskipun ia dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Seperti halnya flu dan pilek, virus corona dapat menular melalui tetesan (droplets) ketika seseorang batuk dan bersin. Tetesan mendarat di permukaan benda dan menempel di tangan orang lain kemudian menyebar lebih jauh. Virus ini diketahui dapat menginfeksi siapa saja tanpa mengenal usia. Penelitian dan pengamatan dilakukan kemudian disimpulkan bahwa virus ini menunjukkan gejala yang lebih serius pada orang dengan usia lanjut dan orang yang memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya.

WHO bekerja sama dengan UNICEF menyampaikan beberapa rekomendasi perilaku hidup sehat yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran virus ini. Antara lain dengan tidak meninggalkan rumah saat sakit, menutupi mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu saat batuk dan bersin, membuang tisu yang sudah digunakan untuk bersin, mencuci tangan dengan sabun dan air sesering mungkin, serta membersihkan permukaan benda yang sering disentuh.

Seiring berjalannya waktu ketika kondisi menjadi semakin tidak terkontrol WHO menghimbau negara-negara terdampak agar melakukan social distancing (menjaga jarak) dan beberapa negara melakukan penutupan beberapa sektor publik guna menghambat penyebaran virus ini secara lebih luas. Hal ini tentu memberi efek yang sangat besar pada berbagai aspek kehidupan. Sektor ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan (baik itu kesehatan mental maupun fisik), keamanan, dan lain sebagainya tidak bisa berjalan seperti biasanya.

Di Indonesia sendiri saat ini (Mei 2020) dilakukan sebuah gerakan dengan nama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk menanggulangi sekaligus mencegah penyembaran virus yang semakin meluas. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam rangka percepatan penanganan coronavirus disease (Covid-19) pada 31 Maret 2020 lalu.

Perubahan yang sangat signifikan ini tentu memiliki dampak bagi sebagian masyarakat, salah satunya adalah pola hidup dalam lingkup keluarga dimana didalamnya mencakup hubungan antar pasangan dan pengasuhan (bagi yang telah memiliki anak). Kondisi yang penuh dengan ketidakpastian ini memberikan dampak menyeluruh pada munculnya kecemasan, ketakutan, perasaan curiga, kebosanan, kesepian, perubahan perilaku makan, pola interaksi dan masih banyak lagi.

Hal ini muncul akibat dari orangtua yang selama ini bekerja di kantor menjadi bekerja di rumah. Anak kemudian mempersepsikan ini sebagai “saatnya main” karena orangtua di rumah. Sedangkan orangtua perlu menyelesaikan target-target pribadinya di pekerjaan. Penolakan yang mungkin diberikan orangtua karena merasa perlu mengirim hasil bekerja atau melakukan rapat akan menimbulkan perasaan frustrasi pada anak maupun pada si orangtua sendiri. Belum lagi kondisi selalu bersama dan bertemu 24 jam kali 7 hari bagi pasangan juga bisa memberikan dampak negatif bila kualitas interaksi tidak dikelola dengan baik.

Reaksi emosi yang muncul pada masing-masing individu, konteksnya adalah di masing-masing anggota keluarga, merupakan mekanisme dalam diri yang mengirimkan sinyal pada tubuh bahwa ada ketidakseimbangan dan ketidaksesuaian. Maka seringkali ditemui adanya rasa lemas, tidak berenergi, sering pusing, tidak konsentrasi, tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar kencang, pada anak-anak mungkin menjadi lebih rewel dan mudah menangis serta masih banyak lagi. Orangtua khususnya, perlu dulu untuk menyadari perubahan yang terjadi ini sebagai langkah awal dalam menentukan perilaku coping yang tepat.

Coping, menurut Lazarus dan Folkman, merupakan proses dimana individu berusaha dalam mengelola gap (jarak) yang ada akibat dari tuntutan yang muncul dan sumber daya pribadi yang dimiliki. Weiten dan Lloyd menyampaikan bahwa coping adalah usaha individu untuk mengatasi, mengurangi, dan mentoleransi beban perasaan yang muncul karena stres. Lebih lanjut, Lazarus dan Folkman menjelaskan ada dua (2) strategi seseorang dalam melakukan coping, yakni: emotional focused coping dan problem focused coping.

Emotional focused coping digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Tujuannya adalah untuk menguasai, mengatur, dan mengarahkan tanggapan emosional terhadap situasi stres. Pengendalian emosi dapat dilakukan dengan berbagai cara positif, antara lain:

  1. Mengubah pemahaman (mindset) pada situasi yang dihadapi. Seringkali kita cenderung fokus pada hal tidak nyaman yang muncul namun kadang kita lupa, ada hal positif lain yang bisa kita petik. Misalnya saja, memberi ruang pada alam untuk beristirahat dari hiruk pikuk dan eksplorasi besar-besaran oleh manusia, ada waktu untuk berinteraksi lebih banyak dengan anggota keluarga, teringat kembali untuk menghubungi orang-orang terkasih, dan masih banyak lagi.
  2. Kontemplasi untuk diri sendiri yang selama ini tidak sempat dilakukan karena berjalan “terlalu cepat” dalam roda kehidupan. Kontemplasi memberikan ruang bagi individu untuk berbicara dan mengenali kembali dirinya untuk mengambil hikmah dari situasi yang muncul.
  3. Afirmasi positif digunakan untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar serta mendorong kita mempercayainya. Melalui afirmasi positif, David Creswell menyatakan, seseorang akan mampu meningkatkan kemampuan dirinya dalam mengatasi masalah.
  4. Batasi akses ke media apabila hal ini menimbulkan perasaan cemas berlebih

Sedangkan, problem focused coping digunakan untuk mengurangi dan mengatasi stres dengan cara belajar ketrampilan baru. Metode yang dilakukan cenderung merupakan sebuah tidakan langsung, antara lain:

  1. Belajar Melakukan Relaksasi Nafas. Relaksasi membantu menurunkan detak jantung, melancarkan peredaran darah, dan mengurangi ketegangan yang merupakan reaksi tubuh akan situasi stres. Ketika symptom ini berhasil diturunkan, maka otak akan kembali mampu berpikir untuk menentukan langkah positif dan produktif berikutnya.
  2. Bangun Komunikasi dengan Pasangan dan Anak. Komunikasikan apa yang menjadi perasaan kita pada pasangan dan tanyakan sebaliknya. Dengan memahami satu sama lain kita akan mampu membuat keputusan bersama yang efektif. Melalui lancarnya komunikasi antar pasangan ini, tentu akan memberikan dampak baik pada rutinitas yang kita bangun untuk anak. Kita juga dapat menjelaskan pada anak bahwa dengan bekerja di rumah bukan berarti orangtua libur. Bangun suasana agar anak tidak merasa tertolak, fasilitasi rasa senangnya akan kehadiran orangtua di rumah dengan merefleksi perasaannya, “adik senang yaa bapak dan ibu di rumah terus. Kita bisa main 10 menit (ambil jam dinding dan tunjukkan pada anak) ni sampai jarum panjang di angka 12 ya. Setelah itu bapak harus diskusi lagi dengan kantor. Kita akan main lagi di jam istirahat ya, jam 12 siang nanti atau sore kita main bola ya”. Komunikasikan pada pasangan untuk dapat berbagi tugas bila ada hal mendesak yang perlu dilakukan
  3. Buat Rutinitas Baru (Dengan Pasangan dan Anak). Kaplan, Sadock, dan Grebb menyatakan bahwa perubahan, pengalaman baru yang belum pernah dialami, serta hal yang mengancam dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan, Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa kecemasan dan ketidakpastian merupakan sebab dasar dari kegagalan komunikasi. Untuk itu, orangtua perlu membuat “kejelasan” di situasi ini. Antara lain membuat jadwal bersama dengan pasangan dan anak guna membuat kejelasan rutinitas. Buat jadwal-jadwal pendek selama satu minggu agenda dan aktivitas apa saja yang harus dilakukan Anda dan pasangan serta apa yang dapat dilakukan anak. Jadwalkan aktivitas bersama yang menyenangkan untuk dapat mengembalikan suasana hati masing-masing anggota keluarga, misal: bermain air bersama, bermain peran bersama, berolahraga bersama dan lain sebagainya. Kuncinya adalah sesuaikan dengan hal yang dapat membuat semua anggota keluarga senang.
  4. Biasakan Pola Hidup Bersih dan Sehat. Seperti anjuran pemerintah dan WHO, membiasakan pola hidup bersih dan sehat akan membantu kita mengurangi kecemasan.
  5. Menjaga Kontak Sosial. Berbagai metode komunikasi virtual saat ini menjadikan bertemu dalam jarak jauh dapat dilakukan. Jadwalkan pertemuan rutin dengan orang-orang yang dapat membuat energi kita positif dan terisi kembali.
  6. Hubungi Profesional Bila Diperlukan. Bila kecemasan dan stres berlangsung menetap dan semakin menjadi-jadi hingga mengganggu aktivitas harian, perlu untuk merujuk diri ke professional agar mendapatkan penanganan yang komprehensif dan sedini mungkin.

Kedua proses coping ini, baik emotional focused coping maupun problem focused coping, tidak dapat dipisahkan. Kemampuan kita mengolah emosi dan kecemasan yang muncul akan mendukung bagaimana kita kemudian menghasilkan perilaku yang efektif dalam mencari solusi efektif dan kreatif di masa pandemic ini. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah berdoa dan berserah diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal ini dapat membantu kita untuk selalu memahami bahwa kita manusia hanyalah milikNya. Segala hal akan kembali padaNya dan keikhlasan kita menjalani ini tentunya akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.