Kebenaran dari Langit dengan Bahasa Bumi – Bagian 2

331
Kebenaran Langit
Photo by Paolo Nicolello on Unsplash

Kebenaran Lebih Luas dari Bumi   

Yang kedua apa yang lebih luas daripada bumi?, jawaban sahabat Ali adalah “al khaqqu awsa’u minal ardh“ yang haq (kebenaran) lebih luas daripada bumi”. Kebenaran itu begitu luas. Ada benarnya sendiri, benarnya orang banyak-demokrasi misalnya-atau benarnya yang sejati dari Tuhan. Karena itu, output kebenaran adalah jangan kebenaran. Output-nya adalah kebijaksanaan dah keseimbangan bersama.

Kalau saya ngomong kebenaran dari agama saya, itu dalam rangka bersedekah kepada Indonesia. Dan, itu harus baik saya tidak boleh menggali apa pun dari agama saya yang kira-kira bisa merupakan sesuatu yang negatif bagi indonesia saya. Karena memang kewajiban berislam adalah rahmatan lil ‘âlamin, harus menyumbangkan kemaslahatan. Kalau dari agama saya, kebenarannya cair. Yang masih universal namanya khair. Maka, di Al-Quran disebut yad’üna ilal khair, artinya kebaikan yang masih universal, masih belum berbentuk. Seperti itu, kita anjurkan saja boleh.

Tapi kalau yang sudah makruf, wa yamurûna bil ma’rüf, itu kebenaran yang sudah dirumuskan, sudah disimulasi, sudah diperhitungkan, dan sudah disepakati sedemikian rupa menjadi hukum padat positif. Itulah yang disebut makruf. Maka, makruf adalah kewajiban pemerintah dan semua yang dibayar oleh negara dan rakyat untuk menjalankannya.

Lihat juga: Kabar dari Langit dengan Bahasa Bumi

Amar Ma’ruf Tugas Pemerintah

Jadi ini bukan amar ma’ruf nahi munkar. Kalau amar ma’ruf itu tugas pemerintah, kalau da’wah khair itu tugasnya nonpemerintah, boleh LSM, rakyat biasa, ulama. Kalau nahi munkar itu pekerjaan bersama, yaitu menghindari kemungkaran.

Kebenaran itu tidak untuk diterapkan atau dipaksakan. Dalam Al-Quran, Tuhan bilang begini, “Katakan kebenaran dari Tuhanmu. Barangsiapa kamu percaya, percayalah. Barangsiapa membangkang, membangkanglah.” Artinya kalau mengungkapkan kebenaran, kita harus siap ketika orang tidak setuju. Kita harus siap kalau orang membangkang kepada kita. Dalam situasi seperti ini, sebenarnya ada satu kemungkinan: Kita tidak mengungkapkan kebenaran.

Kebenaran itu bekal. Kita memang harus belajar banyak mencari kebenaran. Tapi begitu dapat, kita jangan membanggakan kebenaran itu karena kebenaran diri kita hanya bersifat ilmu dan pengetahuan. Yang boleh kita banggakan adalah outputnya, berupa kenyamanan bagi orang lain, kasih sayang, dan keseimbangan. Kebenaran harus kita olah sedemikian rupa supaya menjadi kebaikan, keindahan, kebijaksanaan, kearifan, kenyamanan, keseimbangan, dan seterusnya.

Kaya Hati lebih dari Kaya Lautan

Yang ketiga apa yang lebih kaya daripada lautan?, jawaban Sahabat Ali adalah “qalbul qaani’u aghna minal bakhr“ Hati yang qana’ah lebih kaya daripada lautan”. Apa itu qana’ah sehingga lebih kaya daripada lautan?, bisa anda bayangkan begitu kayanya lautan, lautan penuh berbagai macam ikan terumbu karang yang indah, pemandangan yang indah, dll.

Qana’ah adalah menerima apa adanya, tidak mengeluh dengan apa yang sudah Allah berikan, selalu mensyukuri nikmat yang sudah diberikan. Kita lihat sedikit dari hidup Rasulullah. Beliau hanya punya tiga lembar pakaian. Kalau satu dipakai, berarti satu di lemari dan satunya lagi dicuci. Rasulullah bahkan tidak pernah makan kenyang berturut- turut dalam satu minggu.

Siti Aisyah tidak pernah memasak berturut-turut selama tiga hari. Pasti ada hari di mana Aisyah tidak bisa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Hidup Rasulullah itu lebih sengsara dari Anda semua. Jadi, kalau Anda memang umat Rasulullah dan ingin mencontoh hidup beliau, tidak usah pamer kesengsaraan. Kesengsaraan yang Anda rasakan itu mungkin tidak ada apa-apanya dibanding kesengsaraan yang dialami Rasulullah.

Konsep Rasulullah Sebagai Ummi

Suatu kali, Rasulullah sakit panas. Panasnya melebihi panas yang pernah kita alami. Ketika Abu Bakar memegangnya, dia bilang, “Ya, Rasulullah, begitu panas badanmu sehingga terbakar tanganku.” Rasulullah menjawab, “Ini karena Allah mencintaiku dengan cinta yang sangat tinggi, maka panasku pun dikasih panas yang sangat tinggi.” Ketika Rasulullah ditawari apakah mau menjadi nabi yang kaya raya dan raja, mulkan nabiyya, Rasulullah menjawab, “Tidak, ya Allah. Kalau boleh saya cukup menjadi nabi yang awam saja, ‘abdan nabiyya, jadi nabi orang biasa.”

Rasulullah mungkin sengaja dikonsep Allah sebagai Ummi. Ummi bukan dalam arti buta huruf, Umminya Rasulullah iitu artinya “awam”. Nah, ummi itu salah satu idiomatik dari keawaman itu, menurut saya. Hanya saja selama ini diterjemahkan secara harfiah buta huruf.

Rasulullah didatangi Jibril yang berkata, “Ya, Muhammad, iqra!” “Bacalah!” Untungnya, Muhammad bukan orang Jawa. Coba kalau misalnya Nabi Muhammad itu orang Jawa, beliau mungkin menjawab, “Sampean niku karepe yo opo? Ngongkon-ngongkon moco endi bukune? Gak gawa buku ngongkon moco. Jelas aku buta huruf dikongkon moco, sampean iku yo opo? Gak mungkin sampean dikongkon Gusti Allah. Gak mungkin iki sing ngongkon Gusti Allah, nek Gusti Allah sing ngongkon pasti bener”. (Maksud Anda itu apa? Nyuruh baca, mana bukunya? Tidak bawa buku kok nyuruh baca. Jelas saya buta huruf disuruh baca, Anda itu bagaimana? Tidak mungkin Anda disuruh Gusti Allah. Kalau Allah yang memerintah, pasti benar). Tapi baca itu, kan maksudnya memang bukan baca buku.

Iqra sebagai Isyarat Alam Semesta

Dalam perintah iqra’ itu mencakup hal yang luas: kauniyah, qawliyah, sampai pada ayat alam semesta, ayat manusia, ayat tekstual-sampai pada apa yang dimaksud membaca itu adalah meneliti, menganalisis, mendata, menyimpulkan, menarik garis jarak pandang, sudut pandang, dan sisi pandang.

Yang ke empat apa yang lebih keras daripada batu?, jawaban Sahabat Ali adalah “qalbul munfiqu asyaddu minal khijr“ Hati orang munafiq lebih keras daripada batu”. Anda tau nifaq?, nifaq dalam artian hampir sama denga munafiq yaitu bermuka dua atau ketidaksamaan antara lahir dan batin. Akan tetapi nifaq yang saya maksud adalah menampakkan keislaman dan kebaikan kepada manusia dan menyembunyikan kekufuran didalam hatinya.

Orang yang mempunyai sifat tersebut tergolong orang-orang yang munafiq. Walaupun dia mengaku muslim dan beriman akan tetapi secara batin ia adalah seorang yang pembohong yang tidak punya keyakinan seperti apa yang diucapkannya kepada manusia. Nifaq dibagi menjadi dua yaitu nifaq amaly (perbuatan), dan nifaq I’tiqady (keyakinan).

Nifaq amaly masih tergolong nifaq kecil yaitu melakukan sesuatu seperti orang-orang munafiq tetapi masih ada iman didalam hatinya. Sedangkan nifaq I’tiqady nifaq yang tergolong besar yaitu mengaku islam dihadapan manusia tapi menyembunyikan kekufuran didalam hatinya. Nifaq semacam ini pelakunya keluar dari agama islam atau tergolong murtad dan kelak akan berada dikerak neraka.

Penguasa Zhalim Lebih Panas dari Api

Yang kelima apa yang lebih panas daripada api?, jawaban Sahabat Ali adalah “sultoonu jaairu akharru minan nar” penguasa yang zhalim lebih panas daripada api”. Kita ketahui dulu apa itu pemimpin. Pemimpin itu “amir”. Sebutan amir itu dipakai untuk orang yang sedang memimpin, tapi pada hakikatnya dia “disuruh untuk menjadi pemimpin”. Gubernur, bupati, atau presiden itu amir.

Tidak ada orang yang mau disuruh-suruh tanpa dibayar. Di Indonesia ini kan sudah ada yang jadi amir: dibayar sampai pensiun, diberi fasilitas, mobil, rumah dinas, dan seterusnya, dan itu artinya mereka wajib menjalankan perintah-perintah rakyat. Presiden, kabinet, DPR, semuanya, yang di eksekutif, legislatif, yudikatif itu wajib ‘ain menjalankan perintah rakyat. Mereka semua amir. Karena tidak dibayar, Anda bukan amir, bukan suruhan rakyat.

Dalam posisi itu, kalau Anda ikut memikirkan Indonesia, berarti bersedekah. Anda melakukan ihsan- kebaikan luar biasa. Saya tidak punya kewajiban menolong Anda tapi saya mau menolong Anda, itu ihsan. Jadi, kita melakukan itu, memikirkan Indonesia, karena cinta sama Indonesia. Hanya saja jangan sampai stres, karena itu akan merugikan Anda sendiri.

Sadar Memposisikan Diri

Anda punya peluang mendapat pahala yang luar biasa besarnya karena menolong Indonesia semampu Anda, kendati sebenarnya masih belum bisa juga menolongnya. Anda tidak bisa menolong presiden atau menteri, karena mereka tidak mau ditolong. Lurah saja belum tentu mau ditolong. Mungkin memang bukan tugas Anda untuk menolongnya. Mungkin itu tugas tetangga Anda atau kenalan Anda yang jauh di sana. Kalau Pak Lurah minta sumbangsih pemikiran, Anda kasih saja.

Tapi kalau dia tidak minta, Anda mau kasih pakai strategi apa pun, belum tentu dia mau menerima. Kalau Anda presiden, berkewajiban mikir Indonesia. Kalau Anda sebagai Presiden bisa makan enak sementara ada orang yang pernah berpuluh-puluh tahun hidup di tempatnya, punya anak turunan di sana, tapi kemudian harus kehilangan tempat, kehilangan pekerjaan karena digusur, Anda akan mendapat wahbah dari Allah yang luar biasa besarnya. Makanya, jangan jadi pemimpin kecuali Allah memerintahkan Anda. Kecuali rakyat sadar tentang apa itu pemimpin.

Pelajaran terpenting bagi calon pemimpin adalah kesanggupan menjadi rakyat. Barangsiapa sanggup menjadi rakyat yang baik, itulah pemimpin yang baik. Maksudnya, Sikap mental seorang pemimpin haruslah sikap mental kerakyatan. Kalau ditanya anda orang baik atau bukan?, pasti anda ragu kan?. Tapi pembesar-pembesar itu kalu ditanya langsung menjawab “saya baik loo”, lalu pasang spanduk besar-besar “pilihlah saya”, “saya bela rakyat”. Seharusnya yang baik itu “bisa merasa” bukan “merasa bisa”. Tapi kebanyakan orang-orang pintar dan pembesar-pembesar “merasa bisa”.

Neraka Zaamharir

Yang ke enam apa yang lebih dingin daripada neraka zamharir?, jawaban Sahabat Ali adalah “hajatu minal laiimi abradu minaz zamharir” Hajat (kebutuhan) dari orang yang jahat lebih dingin daripada neraka zamharir”. Anda tau neraaka zaamharir?,  tak selalu panas neraka pun ada yang sangat dingin, saking dinginnya sampai-sampai anda bisa mengelupas kulit anda dari tulang anda dan sampaai-sampai kalian memohon-mohon untuk dikembalikan kepada neraka yang dipenuhi api yang panas.

Nah berbicara seputar orang jahat, biasanya tindakan kriminal itu lahir karena hiimpitan ekonomi, takut kelaparan, atau hanya memenuhi hawa nahfu semata. Lantas jika anda berbuat kriminal anda menyalahkan setan dan iblis yang telah membujuk anda melakukan kejahatan?, Jangan membenci setan, jangan membenci iblis, karena mereka diutus untuk membuat tangguh imanmu, membuat hebat hidupmu. Tanpa iblis iman tidak terlatih, tanpa setan iman tidak teruji ketangguhannya.

Penulis: Ahsanu Taqwim