Kebangkitan Nasional: Merawat Nasionalisme Kaum Muda (Bagian 1)

609
Foto oleh Dio Hasbi Saniskoro dari Pexels

Oleh: Rizqon Halal Syah Aji
(Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Kebangsaan Malaysia)

Berbeda dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional saat ini, dimana dalam memorialnya terjadi di tengah kejadian luar biasa bernama Pandemi Covid-19. Di tengah-tengah upaya keluar dari keperihatinan bersama karena wabah Pandemi Covid-19, pemuda Indonesia dituntut kembali menggelorakan semangat kebangkitan nasional yang di miliki Bangsa Indonesia.

Pemuda Indonesia yang merupakan pilar modal manusia (human resource), posisinya menjadi sangat strategis dan sekaligus tumpuan harapan Bangsa untuk dapat survive di masa depan. Pesan yang harus abadi dari nilai patriotisme kebangkitan nasional oleh para pemuda adalah semangat nasionalisme. Di tengah dinamika dunia yang terus mengglobal pemuda Indonesia dihadapkan pada neo imperialisme  dan neo kolonialisme.

Menyebarnya Pandemi global Covid-19, menjadi bukti nyata baru bahwa hakikat imperialisme global adalah “perang” terhadap bentuk apapun dari pengaruh global. Nasionalisme pemuda Indonesia kembali di uji, apakah masih kokoh dan nyata, ataukah sebaliknya yakni mengalami kekaburan.

Tantangan Kaum Muda Milineal Indonesia

Tren Istilah kamu muda Milineal sangat populer pada kurun dua tahun terakhir. Sebelum mengupas lebih jauh tantangan yang menyelimutinya, perlu dilihat katagori seperti apa sesungguhnya yang dimaksud kamum muda millinel. Dilihat dari sisi kohor ( kelompok umur), yang dimaksud generasi milineal adalah individu yang mempunyai rentang waktu lahir pada 1982-1996. Dirilis dari The New York Time, Pew Research Center (www.republika.co.id), generasi milineal merupakan generasi yang lahir dimasa mulai hadirnya teknoli dan komputerisasi.

Bahkan jika ditilik dari sisi ekonomi kependudukan, pakar ekonomi kependudukan Universitas Indonesia, Professor Sri Moertiningsih (2005) mengatakan bahwa ketika usia kohor individu yang lahir tahun 1996 masih menjadi kelompok “age dependen rasio” (usia penduduk non-produktif). Sehingga bisa kita maknai pada individu yang usianya sekitar 15 tahun hingga 22 tahun juga merupakan fresh generation untuk kelompok milineal.

Generasi milineal mempunyai tantangan yang berat di masa depan, meski kehidupannya diselimuti dengan kecanggihan teknologi. Generasi milineal ditandai dengan dengan gaya hidup cyber. Kehidupan sehari-hari diselimuti dengan habit berselancar di dunia maya. Mereka banyak menghabuskan waktu untuk beraktivitas daring (dalam jaringan), dengan berselacar di media sosial seperti streaming, dan relasi media sosial lainnya.

Bahkan salah satu lembaga riset ternama yakni The Neilsen Global Survei (2019), juga melakukan pengamatan kepada generasi milineal tentang habit baru belanja generasi milineal dan menyimpulkan bahwa generasi ini lebih cenderung menggunakan media internet untuk belanja.

Secara ekonomi kependuduk sesungguhnya keadaan ini sangat baik. Seiring dengan waktu, perjalanan distribusi dari segi umur dan keterampilan kelompok ini akan menciptakan penurunan rasio ketergantungan penduduk muda (youth dependency rasio). Kondisi ini bisa dimaknai sebagai keadaan ideal untuk menghasilakan bonus demografi. Secara terminologi disebutkan oleh Professor Sri Moertiningsih bahwa maksud bonus demografi adalah situasi dimana jumlah pendudukn usia kerja berlipat dua kali di banding  dengan jumlah penduduk di bawah 15 tahun.

United Nation Population Devision (2020), memperkirakan 2020-2030 adalah masa windows of oportunity (jendela kesempatan) bagi Indonesia untuk meningkatan dan memacu produktivitas kohor tenaga kerja produktif. Jika tidak disadari oleh generasi milineal ini maka kesempatan itu akan hilang begitu saja, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang tidak maksimal.

Dari sisi tradisi, budaya dan karakter bangsa Indonesia, sesungguhnya generasi milineal merupakan generasi yang dipundaknya ada tanggung jawab melestarikan nilai identitas bangsa yang merupakan identitas nasionalisme. Habit menggunakan daring dalam membangun relasi network (silaturahmi-red), merupakan kondisi paradoks dengan model relasi kekeluargaan dan kegotong royongan.

Identitas ke-Indonesiaan-an adalah kegotong royongan dan hormat menghormati. Pada perspektif adat istiadat Indonesia, interaksi langsung dalam menghormati kepada sosok yang lebih tua, lebih alim (lebih berlimu), maka nilai keseharian yang dibangun dalam berelasi yakni berjabat tangan dan atau disertasi mencium tangan sosok yang lebih tua atau berilmu. Salah satu case ini mulai pudar dengan kondisi penduduk milineal yang sangat akrab berinteraksi sosial dengan daring. Belum lagi jiwa kegotong royongan, tengang rasa, dan rasa empati sebagai fenomena affektif terhadap sesama Bangsa Indonesia.

ini semualah tantangan bagi generasi milineal, mereka harus segera dibekali nilai-nilai tradisi dan karakter bangsa seiring dengan semangat patriotisme yang dipelopori oleh para pemuada pencetus kebangkitan nasional.