Kabar dari Langit dengan Bahasa Bumi

346
Photo by Fikri Rasyid on Unsplash

Di dunia ini tidak ada potensi negatif kecuali kita salah mengelola energi itu. Semua yang ada di dunia ini, termasuk energi, masih berupa potensi. Begitu ada di tangan khalifah, di tangan manusia, ia menjadi energi positif.

Contohnya, kentut. Kentut itu energi positif. Coba, Anda tidak bisa kentut selama seminggu, tentu akan jadi masalah. Itu akan menjadi negatif untuk tubuh Anda. Tapi kalau keluar, itu positif-meski kadang menimbulkan bau negatif untuk orang-orang di sekitar Anda.

Dalam Al-Quran, Allah menyuruh kita melontarkan pernyataan: Rabbana khalaqta hådza báthila. Wahai Pengasuhku, rabbuna, tidaklah Engkau menciptakan semua ini untuk sia-sia. Tuhan bikin kalimat, tapi kalimat itu bukan dari Dia kepada kita, tapi kalimat kita kepada Dia. Kalimatnya bukan “Wahai manusia, aku tidak sia-sia menciptakan semua ini”. Dalam kalimat itu, kita yang ngomong. “Wahai Tuhan, tidaklah Engkau ciptakan semua ini untuk sia-sia.”

Melalui susunan kalimat ini, Tuhan punya strategi dan diplomasi untuk mendorong Anda belajar. Kalau Anda tidak belajar, tidak akan tahu makna kalimat tersebut. Anda tidak akan tahu segala sesuatu itu tidak sia- sia apabila tidak membuktikannya sendiri. Anda akan tahu setelah mengalami eksplorasi kekhalifahan dan membuktikan bahwa yang Anda alami itu positif, bermanfaat untuk Anda.

Setelah itu Anda bisa bilang, rabbaná khalaqta hadza báthila. Jadi dalam kalimat itu, sebenarnya Tuhan mengajak, kita. Makanya Dia tidak bilang, “Wahai manusia”, tapi kita yang disuruh ngomong, “rabbanâ mâkhalaqta hådza bâthila“.

Sayangnya, sekarang ini kebanyakan orang ngomong rabbaná má khalaqta hâdza bâthila tanpa punya pengalaman empirik, tanpa penelitian, tanpa bukti bahwa semua itu tidak sia-sia. Kebanyakan dari kita susah membiasakan diri untuk menafsirkan ayat-ayat seperti itu. Kita tidak berangkat dari pemikiran kritis: Kenapa kalimatnya dibikin begitu?

Spektrum Ketaatan Manusia

Misalnya lagi. Athiulläh wa athïurrasül wa ulil amri minkum. Dalam kalimat itu kan jelas: taatilah Allah, taatilah Rasulullah, dan pemimpinmu. Di depan kata “pemimpinmu” tiada kata “taatilah”. Yang ada kata “taatilah” hanya Allah dan Rasulullah. Kalau mau efisien, sebenarnya bisa dibikin begini: Taatilah Allah wa rasulullah wa ulil amri minkum. Tapi, dalam kalimat tersebut tidak begitu.

Dengan adanya dua “taatilah”, berarti ada kualifikasi antara Allah, Muhammad, dan pemimpin kita. Kalau Allah itu mutlak, taati saja karena di situ langsung athiullah. Kalau Rasul, taati saja. Taat itu pun di wilayah ibadah mahdhah. Soal muamalahnya, apalagi syariatnya, fleksibel saja.

Tidak semua yang tidak dilakukan kanjeng nabi Muhammad, tidak boleh Anda lakukan. Begini haram, begitu haram. Tidak begitu. Kalau semua harus begitu, bisa-bisa Anda sekalian sekarang ini telanjang. Rasulullah tidak pernah pakai kaus, tidak pernah pakai celana, tidak pakai ponsel, soundsystem, atau listrik.

Kalau memang harus mutlak seperti itu, ya Anda harus meninggalkan semua itu. Hal yang kita harus taat seratus persen itu adalah pengajaran Rasulullah tentang ibadah mahdhah: shalat lima waktu, syahadat, atau lima Rukun Islam di luar itu terserah.

Pencitraan, Manipulasi dan Kebohongan

Saya ingin bercerita sedikit seputar riwayat yang saya baca dikitab Nashoihul Ibad ini menerangkan tentang sahabat Ali karramallahu wajhah yang pernah ditanya seperti ini: ma atsqala minassama, wa ma awsa’u minal ardh, wa ma wa ma aghna minal bakhr, wa ma asyaddu minal khijr, wa ma akharru minannar, wa ma abradu minazzamharir, wa ma amarru minassum.

Yang pertama apa yang lebih berat daripada langit?, jawaban sahabat Ali adalah buhtanu ‘alal baraayaa atsqala minassama, “Berbohong kepada makhluk itu lebih berat daripada langit”. Saya ingin tanya kepada Anda sekalian, hari ini kalian sudah berbohong berapa kali?, seminggu ini sudah berbohong berapa kali?, satu bulan ini sudah berbohong berapa kali?, tidak  terhitung toh?, banyak kebohongan-kebohongan yang sudah kita lakukan tanpa kita sadari mungkin kita anggap itu biasa namun jika terus-menerus akan jadi kebiasaan.

Seperti contoh begini ada orang rajin sedekah karena ingin dipandang baik oleh orang-orang disekitarnya, nah itu termasuk dalam pencitraan toh, tapi kalo kita teliti lebih jauh pencitraaan adalah manipulasi, manipulasi adalah kepalsuan, kepalsuan adalah kriminalitas, berarti yang dia lakukan selama ini adalah kriminalitas. Rasulullah pernah bersabda “Sesungguhnya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka.

Seseorang yang biasa berbohong, maka ia akan ditulis disisi allah sebagai pembohong. Dalam Al-Quran dijelaskan al-yauma nakhtimu ‘alā afwā hihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn tidak cukup kesaksian yang hanya keluar dari mulut manusia, maka dari itulah Allah menyuruh menyuruh kaki dan tangannya untuk memberikan kesaksian terhadap apa yang sudah diperbuatnya di dunia.

Kesehatan Tergantung Cara Berpikir

     Sumber kesehatan nomor satu adalah tidak berpikir curang. Orang akan sehat bila berpikir jujur. Begitu curang, saraf Anda jadi kacau dan susunannya jadi rusak. Karena struktur sarafnya kacau, perintahnya ke seluruh tubuh juga kacau. Lalu timbullah sakit ginjal, diabetes, paru-paru, dan segala macamnya. Bukan soal apakah Anda percaya teori kesehatan rokok atau tidak, lantas Anda jadi sehat atau tidak sehat. Kalau ada larangan rokok, itu masalah politik dan dagang.

Tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Lantas jika ada yang bilang rokok itu haram, balik lagi ke usul fiqh boleh seorang ulama menyimpulkan makruh ya boleh, haram ya boleh, ulama lain menyimpulkan tidak ya boleh, halal ya boleh, dan dan setiap orang punya hak menentukan hidupnya masing-masing tanggung jawabnya kepada Allah tidak kepada ulama, Anda sekalian fikir gambar-gambar mengerikan di bungkus rokok itu dibuat karena keinginan pabriknya?, ya jelas tidak, itu yang menyuruh Departemen Kesehatan, mana ada orang jualan menakut-nakuti pelanggannya, misal kalian jualan nasi uduk terus ada tulisan “awas lho nasinya basi” yaa ngga laku.

Meletakkan Sesuatu Pada Tempatnya

Tapi tunggu dulu, para perokok jangan lantas tepuk tangan karena merasa mendapat pembenaran. Yang penting adalah jadikanlah rokok itu sebagai anak buah Anda. Fungsinya harus tepat: kapan merokok, seberapa banyaknya rokok, rokoknya apa, Anda merokok ketika sedang apa, sambil minum apa Anda merokok, semua ada ukurannya. Kalau Anda jadikan rokok anak buah Anda, ia tidak akan membunuh Anda.

Kalau semua yang berpotensi membunuh dilarang, banyak sekali hal di dunia ini yang tidak diprbolehkan. Sate kambing, gula, bahkan knalpot motor juga bisa membunuh Anda. Sate kambing bisa menyebabkan darah tinggi. stroke; sementara gula bisa menimbulkan diabetes. Asap kendaraan bermotor yang disembur corongnya knalpot juga bisa membunuh Anda. Dampaknya malah parah sekali.

Kalau memang rokok tidak boleh, seharusnya kendaraan bermotor juga dilarang-karena sebenarnya polusi yang diproduksinya jauh lebih berbahaya daripada asap rokok. Coba saja, Anda tidak usah merokok, tapi mangap terus di belakang knalpot. Mau? Saya tidak membela rokok. Masalahnya bukan rokok itu sehat atau tidak sehat. Masalahnya adalah bagaimana treatment kesadaranmu terhadap apa pun, bukan hanya rokok.

Bersambung…

Penulis: Ahsanu Taqwim