Jangan Salah Pilih Guru Agama

273
Photo by Utsman Media on Unsplash
Ilustrasi /Photo by Utsman Media on Unsplash

Figur di dalam hidup memang suatu hal yang sangat penting. Sehingga Allah subhanahu wata’ala menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa’alihi wa sohbihi wasallam sebagai figur.

Allah mengatakan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa’alihi wa sohbihi wasallam :Sesungguhnya Rasulullah itu adalah uswatun hasanah.

Sehingga dibutuhkan orang-orang yang membimbing kita ke jalan Allah subhanahu wata’ala. Tidak bisa seorang tanpa adanya murobbi, tanpa adanya figur di dalam hidup ini sampai mengenal Allah subhanahu wata’ala.

Imam Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad mengatakan :

ولابد من شيخ تصير بسيرها إلى الله من أهل النفوس الزكية

Maka seseorang yang akan menempuh jalan spiritual, ingin mendapatkan keridlaan Allah subhanahu wata’ala, ingin bahagia di muka bumi ini (dan) bahagia setelah meninggal dunia, maka harus memiliki seorang Syaikh yang mengajak ke jalan Allah subhanahu wata’ala.

Adanya Syaikh, namun bukan sembarang murobbi, bukan sembarang guru. Tapi guru itu adalah dari orang-orang yang mempunyai jiwa yang jernih, jiwa yang bersih, (dan) jiwa yang tidak membawa orang kepada kepentingan pribadinya. Bukan mengajak orang kepada kelompok dan golongannya. Apalagi mengajak kepada partainya. Namun mereka adalah mengajak kepada Allah subhanahu wata’ala. Membimbing kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini ada ciri-cirinya, bagaimana seorang murobbi sejati, murobbi yang betul-betul bisa dijadikan panutan sebagai penerus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa’alihi wa sohbihi wasallam. Yang pertama, dia adalah orang yang konsisten terhadap syariah. Siapa orang yang konsisten terhadap syariah? Dia adalah orang yang berilmu.

Sedangkan ilmu (pun juga) yang di dapatkan. yang kedua, dia mempunyai mata rantai, genetik keilmuan. Dia tidak diangkat sebagai murobbi oleh sebuah organisasi, apalagi oleh sebuah kelompok, apalagi oleh sebuah komunitasnya.

Namun yang mengangkat adalah Syaikh sebelumnya, guru sebelumnya. Dia lah yang mengangkat. Sehingga ini lah dari guru ke guru, ke guru (lagi) sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa’alihi wa sohbihi wasallam.

Bukan mendapatkan ilmu dari tempat-tempat yang tidak jelas. Bukan mendapatkan ilmu dari google, apalagi mendapatkannya hasil dari browsing (internet). Mendapatkannya dari hasil halaqah-halaqah yang tidak kita ketahui dari mana ia mendapatkan, dari mana sumbernya halaqah itu.

Makanya Abdullah bin Mubarok pernah mengatakan, “Ibnu Sirin mengatakan: al-ilmu dinun, fa undzuru ‘amman ta’khudzuna dina-kum”. Ilmu itu adalah agama, dari mana engkau mengambil agama itu?

(Apakah) mengambilnya dari tempat-tempat yang tidak jelas?, mengambilnya dari tempat-tempat yang mengajak membenci orang lain, mengajak mencaci maki orang lain, menyalahkan kaum muslimin, bahkan sampai mengkafirkan pemeluk laailaha illallah, muhammadur rasulullah (agama Islam). Guru macam apa seperti ini?.

Dia tidak mengajak kepada Allah. Namun mengajak kepada hawa nafsu. Mengajak untuk kepentingannya, apalagi kepentingan itu adalah kepentingan yang sesaat. Kepentingan yang bersifat duniawi. Maka murobbi yang seperti itu, bukanlah murobbi yang sejati.

Lihatlah seperti Walisongo, dan para kyai-kyai. Sampai detik ini (mereka) mampu menciptakan kedamaian. Mereka adalah murobbi sejati, panutan sejati, penerus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa’alihi wa sohbihi wasallam.

*Catatan dari youtube chanel oase mading.id bersama Habib Hamid Ja’far Al Qadri