Jalan Terjal Pendidikan Keragaman di Indonesia

331
Keragaman
Sumber Foto beritabersatu.com

Saya ingin mengawali pembahasan buku “Berpikir majemuk dalam matematika” ini dengan ungkapan yang pernah disampaikan oleh Bu Henny Supolo, ketua Yayasan Cahaya Guru, yaitu, “majemuk sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”. Ungkapan yang mengkreasikan apa yang ditulis oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, “adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”.

Senang berkesempatan membaca buku karya Prof Iwan Pranoto dan mas Adit. Terlebih membedah dan diskusi bareng dengan beliau. Berikut catatan saya dalam diskusi yang difasilitasi Balitbang dan Perbukuan kemendikbud.

Artikel terkait Pendidikan, baca Keselarasan Prinsip dan Praktik Pendidikan.

Majemuk Sejak dalam Pikiran

Kata adil atau keadilan, oleh masyarakat awam seringkali diasosiasikan pada hal kesejahteraan atau ekonomi. Maka majemuk sejak dalam pikiran apalagi perbuatan, menjadi sangat penting karena spesifik menunjuk pada isu keragaman.

Buku “Berpikir Majemuk Dalam Matematika” dalam pandangan saya, merupakan upaya positif, dalam menanamkan pemahaman kemajemukan dan pikiran terbuka dalam menerima perbedaan melalui matematika. Buku ini tepat menyasar di mana seharusnya kemajemukan itu diajarkan, yaitu pembelajaran di kelas.

Pemahaman pemikiran majemuk dalam bermatematika sangat wajib dimengerti oleh kami, guru, agar mampu menginternalisasikan nilai-nilai kemajemukan sejak dalam pikiran, lalu mewujud dalam perilaku atau tindakan. Laiknya berlatih sepeda, penjiwaan cara bersepeda hanya bisa diterapkan dengan terus mencoba langsung bersepeda.

Hematnya, bisa karena biasa. Dalam kaitannya bermatematika, jika guru membiasakan memberi pengalaman langsung pada siswa praktik berpikir majemuk, maka mudah bagi siswa memahami kemajemukan yang lebih luas dalam kehidupannya sehari-hari.

Tantangan Pendidikan Keragaman

Saat ini, menurut saya, tantangan membelajarkan keragaman justru datang dari sekolah, guru, dan pemegang kebijakan pendidikan di daerah, bahkan mungkin juga pusat.

Misalnya, otonomi pendidikan yang saya pahami adalah sekolah memiliki kebebasan menyusun kurikulum sendiri yang disusun bersama oleh sekolah, guru, murid, orangtua murid, masyarakat sekitar di mana sekolah itu berada dan sejumlah komunitas yang dekat dengan sekolah.

Sehingga saya membayangkan, andai di sebuah kabupaten/kota terdapat seratus sekolah, misalnya level SMP, maka akan ada seratus keunikan sekolah setara SMP. Jika setiap sekolah tersebut memiliki seratus siswa, maka terdapat 10.000 keunikan talenta siswa.

Apa daya, kita sepertinya puas memetik lulusan yang seragam. Lulusan yang mungkin hanya tahu bahwa sistem persamaan linier itu mempunyai solusi tunggal, karena soal yang diujikan oleh guru adalah soal yang menuntut solusi tunggal. Padahal, sistem persamaan linier bisa memiliki tak hingga banyaknya solusi, bahkan tak ada samasekali, seperti yang ditulis dalam buku ini halaman 70-71.

Atau, lulusan yang seragam mengerti definisi gagasan pokok sebuah paragraf, tetapi kerap tak berdaya memaknai isi sebuah paragraf. Sebagai contoh, umumnya, anak-anak sering merasa kalah ketika berhadapan dengan soal cerita.

Siswa Memiliki Potensi dan Keunikan Masing-masing

Saya mengangankan kelulusan siswa dirayakan dengan festival karya. Misalnya, seorang siswa akan berkata , “ saya senang, di sekolah ini saya menemukan hobi saya, bakat saya, dan kesukaan saya dan akan saya rawat sehingga nanti di Perguruan Tinggi saya akan masuk di jurusan yang sesuai minat saya. Sebagai rasa terimakasih pada guru dan sekolah, saya persembahkan karya saya berikut ini”.

Perayaan kelulusan seperti ini tentu akan lebih menggembirakan ketimbang hiru-biru kelulusan yang memuja si pemenang lalu mengabaikan yang kalah. Kelulusan yang ditunjukkan dengan angka-angka minim makna.

Dari itu saja kita patut merenung, betapa pemilik nilai tertinggi akan bangga hati telah menjadi pemenang. Yang gagal juara diam-diam menaruh dendam pada diri untuk mengalahkan temannya di waktu lain dengan cara lain.

Betapa apa yang ditulis dalam buku ini sebagai pertentangan biner, itu justru disemaikan oleh sekolah. Bagaimana mungkin kita mengajarkan sikap toleransi dan kolaborasi pada anak didik, sementara sistem prestasi yang mengedepankan kompetisi masih berlaku.

Di sini matematika diperalat sebagai penentu prestasi akademik murid melalui nilai angka. Apakah kita bisa melihat ragam keunikan anak murid ketika mereka mendapatkan nilai 85, 95, atau 100. Kita terlanjur terjebak pada pemahaman nilai 100 lebih baik dari 85.

Nilai 100 lebih pintar dari nilai 85. Cara berpikir tunggal semacam itu mengaburkan pemahaman bahwa setiap individu punya potensi keunikan masing-masing dan mereka dapat saling melengkapi satu sama lain.

Saya ingin mengutip apa yang ditulis dalam buku ini di halaman 18. “kerangka berpikir ketunggalan sekaligus kemutlakan kerap dimanfaatkan untuk membenarkan adanya kebenaran tunggal.

Bukan hanya membenarkan, tetapi kerangka berpikir tunggal juga mewajarkan pengkubuan biner yang secara sepele melihat bahwa jika ada pendapat berbeda, maka salah satu pasti salah dan satunya benar.

Hal ini dampaknya menghapus kemungkinan lahirnya keragaman gagasan atau pendapat. Juga dapat memupuskan kemungkinan gagasan atas pendapat yang berbeda memiliki status sama-sama benar”.

Guru Cenderung Mengajarkan Cara yang Tunggal

Dalam sebuah kesempatan membimbing anak kelas empat menyelesaikan PR matematika, saya sedih. Ia sama sekali tak mau menerima gagasan bahwa keliling persegi itu boleh menjumlahkan semua sisinya.

Ia kekeh bahwa rumus keliling persegi itu adalah 4 x s, maka harus dikerjakan dengan cara itu, tidak dengan cara lain. Siswa itu takut jika jawabannya berbeda dengan cara yang guru berikan. Ada raut trauma di wajah anak itu.

Di kelas 7, siswa mahir menentukan FPB dari dua bilangan atau lebih dengan menggunakan tabel. Tapi, ketika ditanya apa itu faktor, mereka menjawab tidak tahu. Pada pembelajaran persamaan linier satu variabel, saya menemukan siswa yang masih memakai konsep pindah ruas, negatif jadi positif dan sebaliknya. Saat ditanya kenapa pindah ruas, ia tegas mengatakan itu kata guru.

Cuplikan contoh-contoh tersebut mengafirmasi catatan dalam buku “Berpikir Majemuk Dalam Matematika” halaman 20 yaitu, “Pada praktik pendidikan di sekolah, guru cenderung mengajarkan cara yang tunggal dan memberi kesan seakan-akan cara yang berbeda dengan cara yang diajarkannya itu salah. Murid tidak diberi ruang berkreasi dan berpikir alternatif”. Maka wajar jika matematika malah memunculkan trauma pada diri siswa bukan mengajarkan keragaman.

Matematika Adalah Tentang Menjadi Diri Sendiri

Bagi penulis buku “Matematika Detik”, Thoha Faz, Matematika adalah sastra. Kita tahu sastra sarat dengan keindahan imajinasi, menggugah rasa, dan bisa melahirkan sikap bijaksana serta menyuburkan kebajikan. Tapi bagi kebanyakan anak-anak, matematika tak semajemuk itu.

Izinkan saya berbagi pengalaman lagi, saya merasa ada yang salah ketika mendapati seorang murid kelas 7 yang rakus membaca novel, ia suka sejarah dan banyak membaca buku biografi, tapi membenci matematika.

Kepada saya ia berkata: “aljabar, matematika sangat menjengkelkan. Hanya rumus-rumus yang membuat kepala saya pusing setengah mati”. Saya katakan ke dia,” sebenarnya bukan rumus, hanya persamaan yang kamu bisa susun sendiri mengikuti alur konteks sebuah peristiwa”.

Sekarang ia mengatakan : “matematika adalah tentang menjadi diri sendiri, ia adalah kejujuran”. Yang saya ingin sampaikan adalah, selain ragam cara dan penafsiran, pendekatan motivasi juga diperlukan dalam pembelajaran matematika.

Terakhir, buku ini wajib dibaca bukan saja oleh guru dan orangtua, tapi yang tak kalah penting adalah para pemegang kebijakan pendidikan. Sehingga majemuk sejak dalam pemikiran akan melahirkan kebijakan yang akomodatif terhadap keragaman.

Penulis: Muhamad Dopir
(Guru Matematika SMP Al Fath BSD)