Interaksi Sosial Generasi Milenial dan Smartphone

288
smartphone
Photo by bruce mars on Unsplash

Penggunaan smartphone sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi yang terbentuk kemudian dipercepat prosesnya melalui suara dan teks atau tulisan. Respon kaum milenial terhadap kecanggihan smartphone cukup tinggi, walaupun belum tentu penggunaan smartphone tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Penggunaan smartphone sebagai alat komunikasi seharusnya dapat mempererat interaksi sosial generasi milenial dengan lingkungannya, tetapi pada kenyataannya justru dapat menurunkan interaksi tatap muka antara generasi milenial dengan lingkungan sosialnya, yang terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan persahabatan (teman sebaya). Fenomena tersebut menarik perhatian penulis untuk meneliti mengapa terjadi demikian.

Baca juga: Memberantas Paham Radikalisme dengan Paham Aswaja

Smartphone atau ponsel pintar juga lebih familiar dengan sebutan ponsel cerdas adalah sebuah perangkat atau produk teknologi berupa telepon genggam atau mobile versi modern terbaru yang memiliki kelebihan dimana spesifikasi software dan hardware lebih pintar, fungsi yang lebih cerdas dan fitur-fitur yang lebih smart dari ponsel versi biasa sebelumnya dan kadang-kadang dengan fungsi yang menyerupai komputer.

Menurut Gary B, Thomas J & Misty E, 2007, smartphone adalah telepon yang bisa dipakai internetan yang biasanya menyediakan fungsi Personal Digital Assistant (PDA), seperti fungsi kalender, buku agenda, buku alamat, kalkulator, dan catatan.

Sekilas tentang Generasi Milenial

Istilah milenial pertama kali dicetuskan oleh William Strauss dan Neil dalam bukunya yang berjudul Millennials Rising: The Next Great Generation (2000). Mereka menciptakan istilah ini tahun 1987, yaitu pada saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah.

Saat itu media mulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA di tahun 2000. Pendapat lain menurut Elwood Carlson dalam bukunya yang berjudul The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom (2008), generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1983 sampai dengan 2001.

Jika didasarkan pada Generation Theory yang dicetuskan oleh Karl Mannheim pada tahun 1923, generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai dengan 2000. Generasi milenial juga disebut sebagai generasi Y. Istilah ini mulai dikenal dan dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dari berbagai negara dan profesi, penentuan siapa generasi milenial dapat ditarik kesimpulan bahwa generasi milenial adalah mereka yang dilahirkan antara tahun 1980 sampai dengan 2000.

Beberapa Pengertian Interaksi

Interaksi berasal dari bahasa Inggris interaction, yang berarti saling mempengaruhi atau segala sesuatu hal pengaruh mempengaruhi. Suatu interaksi akan terjadi apabila ada dua orang atau lebih. Dalam praktik kehidupan, manusia tidak bisa melepaskan diri dari interaksi satu sama lain, misalnya dalam keluarga terjadi interaksi antara anak dengan orang tua, di sekolah terjadi interaksi antara guru dengan murid, di kantor terjadi interaksi antara pimpinan kantor dengan karyawannya.

Interaksi berarti berhubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi. Terjadinya interaksi karena manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang hidup serba ketergantungan kepada orang lain.

Interaksi sosial merupakan dasar bagi terjadinya proses sosial. Dengan adanya proses sosial terdapat gerak atau dinamika dalam masyarakat. Masyarakat menjadi dinamis karena warganya satu sama lain saling berinteraksi baik secara perorangan maupun secara kelompok.

Dampak Penggunaan Smartphone

Berkomunikasi menggunakan smartphone ini menjadikan generasi milenial khususnya remaja kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dimana kita melihat jika di pusat perbelanjaan manusia lebih fokus terhadap handphone yang dibawanya dibandingkan kondisi disekitarnya. Tanpa disadari sebenarnya smartphone telah melekat pada manusia khususnya remaja saat ini, dimana remaja merupakan masa yang sedang mengalami masa-masa peralihan dari segi emosional, sosial dan fisik, kematangan mental biologi dan psikologi menuju dewasa, atau masa usia belasan tahun, yang menunjukkan tingkah laku yang susah diatur, mudah tersentuh perasaannya, dan sebagainya.

smartphone
Ilustrasi penggunaan smartphone di tempat umum

Fritz E. Simanjuntak (2004) dalam tulisannya mengenai aspek sosial telepon selular menyatakan paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan smartphone. Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakan smartphone tersebut. Kedua, terhadap interaksi-interaksi antar individu. Ketiga, terhadap pertemuan tatap muka. Keempat, terhadap suatu kelompok-kelompok atau organisasi. Selanjutnya yang kelima adalah terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaan-kelembagaan masyarakat.

Dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu smartphone, terdapat juga banyak dampak negatif bermunculan. Budyatna (2005) mengemukakan bahwa bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Disini Budyatna melihat bahwa dengan munculnya penggunaan smartphone mempengaruhi proses yang transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka.

Terdapat banyak fenomena dimana tidak jarang individu lebih memilih memainkan atau menggunakan smartphone-nya, meskipun ia berada ditengah-tengah suatu kegiatan atau sosialisasi dengan orang-orang disekitarnya.

Berdasarkan Survey Siemens Mobile Lifestyle III, menyebutkan bahwa 60% dari respondennya lebih senang mengirim dan membaca Chatting atau memainkan games smartphone-nya ditengah acara keluarga yang dianggap membosankan (Nurudin, 2005).

Kesimpulan dan Saran dari Penulis

Berdasarkan paparan diatas, penulis mencoba untuk memberikan pandangan tentang dampak smartphone terhadap interaksi sosial generasi milenial sebagai berikut:

  1. Penggunaan smartphone dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap interaksi sosial generasi milenial, tergantung dari penggunaannya.
  2. Penggunaan smartphone dapat memberikan dampak positif apabila digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, yaitu mudahnya akses terhadap informasi, penunjang kegiatan bisnis, mempermudah komunikasi, menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi, dan memperluas jaringan persahabatan.
  3. Penggunaan smartphone dapat memberikan dampak negatif apabila digunakan secara berlebihan, yaitu kurangnya kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar, menjadi anti sosial, menjadi pemalas, mempengaruhi emosi dan psikis seseorang, merusak saraf otak, merusak penglihatan dan pendengaran, kurangnya istirahat dan ketergantungan.

Penulis menyarankan agar generasi milenial dapat bijak dalam menggunakan smartphone. Juga tetap memperhatikan lingkungan sekitar saat menggunakan smartphone agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Penulis: Muhammad Ardian Bagaskara
(Siswa SMAN 1 Karawang)