Iman, Pondasi Belajar Yang Kokoh

142
iman
Photo by Jonathan Borba on Unsplash

Di dalam Al-Qur’an, surat Al ‘Ashr, “Demi masa. Sesungguhnya manusia akan merugi. Kecuali orang yang beriman, beramal soleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. Ayat itu jika dikontekstualisasi era kini, menurut Thoha Faz,” Demi era digital, demi era serba praktis. Sesungguhnya semua manusia akan jadi pecundang (merugi). Kecuali orang yang beriman, yang berinovasi (amal Sholeh), yang saling berkomunikasi tentang kebenaran dan kesabaran”.

Ayat ini akan mendorong optimisme bila kita mampu menangkap makna lebih dalam. Di layar kehidupan serba segera seperti sekarang, orang lebih memilih praktis ketimbang rumit. Bahkan, pada persoalan kehidupan setelah mati, orang kerap mengambil pilihan tegas alih-alih mau direpoti irama lain yang beragam.

Hidup menjadi seolah peluang fifti-fifti. Kalau tak ke surga, ya neraka. Pandangannya acapkali seperti ini, “jelas-jelas homoseksual itu dilarang agama, maka untuk apa memikirkan kemelut kehidupan kaum LGBT yang dipinggirkan”. Contoh lain misalnya, “sudah terang jilbab itu wajib menurut pendapat banyak ulama, lalu membela mereka yang tak mau berhijab hanya menghabiskan waktu”.

Baca juga: Bolehkah Memberikan Zakat Fitrah sebelum Waktunya

Langgam berpikir semacam itu sesungguhnya bahaya, sebab rasa empati absen di sana. Merasa tak perlu menanggapi panggilan empati kepada yang berbeda pendapat. Individu semisal ini barangkali memaknai surat Al ‘Ashr dengan cara pragmatis. Yang dimaksud merugi baginya, justru memikirkan orang lain yang pandangan agamanya dianggap melenceng. Ia tak segan memonopoli kebenaran. Iman dalam ayat itu dipahami sekadar tiket aman masuk surga. Titik.

Padahal, iman boleh kita maknai ketertundukan dan kepasrahan total kepada Tuhan. Dalam kepasrahan total itu kita meyakini bahwa tugas diri hanyalah untuk terus berbuat baik, beramal soleh, berinovasi, membaca, berorganisasi, dan lain-lain untuk kemaslahatan banyak orang, baik yang berpandangan sama maupun berbeda. Tak ada syarat bahwa berbuat baik itu sah, hanya kepada yang seagama atau kepada mereka yang orientasi seksnya sama.

Menurut saya, jika tolok ukurnya waktu (‘Ashr), kita memang rugi merasa nyaman dengan hidup yang monoton, menghamba pada narasi tunggal. Bukankah cara pandang seperti ini gampang menerbitkan egoisme. Hanya peduli pada diri dan kelompoknya saja.

Kerap pula seorang penceramah mendakwahkan surat Al ‘Ashr sebagai ancaman bahwa waktu begitu sempit sehingga memunculkan bias pandang, timbullah rasa takut (pesimis) ketimbang pencerahan (optimis). Wal ‘Ashr tak jarang ditafsiri mandek sebagai waktu Ashar, waktu menjelang penghabisan, waktu yang sudah tiga perempat jalan dan menunggu tutup zaman. Di masa jelang habis itu, bagi diri yang dikuasai egoisme hanya akan mementingkan ritus-ritus ibadah agar timbangan kebaikannya lebih berat. Orang dengan karakter ini cenderung kaku. Ia berperilaku pokoknya syar’i, pasti, saklek, praktis.

Kepastian, kesegeraan, dan kepraktisan dipuja sedemikian rupa sehingga orang mudah jatuh hati pada informasi baru, asal dahaga akan kepastian dan kepraktisan itu langsung terpenuhi. “Jika beraroma surga, saya telan. Sedangkan neraka saya tolak”.

Mabuk Kebaruan

Kebaruan menjadi penguasa yang memacu diri agar secepatnya menyesuaikan. Jika tak beradaptasi, ketinggalan menjadi dampak yang menghantui. Semua itu, penyebabnya adalah gerak zaman yang kian dipercepat oleh keberlimpahan informasi. Media sosial menjadi motor utamanya.

Wal ‘Ashr, demi era mutakhir, demi era digital, demi waktu yang di dalamnya berkejaran segala yang baru. Dan yang baru itu jaraknya sempit, ia akan segera digantikan dengan yang lebih baru lagi. Tanpa kendali diri yang memadai, kebaruan adalah candu yang melenakan perhatian kita. Diri menjadi terlampau fokus pada sesuatu yang sifatnya baru. Padahal, secepatnya sesuatu itu akan usang.

Kebaruan, kepraktisan, cara berpikir algoritmik 0 atau 1, benar-salah, berkelindan dalam gegap gempita perubahan yang digandrungi tapi melupakan sesuatu yang sifatnya tetap. Yaitu prinsip, dalam hal surat Al ‘Ashr ialah iman.

Pendidikan dan Perubahan

Dunia pendidikan kita tak kurang latah. Kebaruan yang bergandeng dengan perubahan digilai begitu rupa, sehingga karakter, spiritualitas, prinsip hidup, kemajemukan, diabaikan. Pendidikan malah menjadi penyokong sifat gumunan. Terpana lalu tenggelam, lupa bahwa intaian kebaruan susul-menyusul saling gilas.

Kebaruan itu terpaut dengan materi atau keterampilan yang justru dangkal. Bahkan, ia hanyalah sebentuk hiasan di permukaan panggung kehidupan. Makanya, kebaruan menjadi kata traumatik. Orang diliputi rasa khawatir kehilangan pekerjaan, dihinggapi amarah karena diacuhkan anaknya, bahkan diserang gejala kehampaan karena mengejar kebaruan demi materi.

Itu bukan omong kosong, dunia pendidikan kita, alih-alih mengawali perubahan justru harus tertatih mengejar kebaruan dan perubahan. Lalu meninggalkan pijakan yang hakiki. Yaitu iman. Ibarat pohon, iman ialah akar tunggang. Betapa pun badai menerpa daun, ranting dan cabang pohon, jika akar menghujam, pohon tetap kokoh dan siap bertunas kembali.

Bagi saya, iman meliputi tiga hal pokok. Pertama, iman sebagai nilai spiritual adalah sebentuk pengabdian keilmuan. Bukan kepasrahan yang bersifat fatalistik. Kita diizinkan oleh Tuhan menembus langit dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Tuhan menyambut kreativitas manusia. Lahirnya karya kreatif bukan untuk menguasai tapi berbagi, bukan untuk berkompetisi melainkan kolaborasi.

Kedua, iman sebagai karakter adalah keyakinan bahwa kebaikan tetaplah kebaikan. Ia tidak mengenal nilai relatif. Jika kebaikan itu bernilai relatif maka kepentingan berkelindan di pusaranya. Kebaikan sejati adalah integritas dan kejujuran.

Dalam ceramahnya Gus Baha misalnya, dikisahkan bahwa Nabi Adam AS melakukan kesalahan bukan sedang melalaikan Tuhan. Sebaliknya, sang kekasih Allah itu dalam keseluruhan sadarnya tunduk pada kebaikan (integritas). Sang penipu lah yang keterlaluan, berani membawa nama Allah dalam muslihatnya.

Dan ketika disebut ‘Wallahi’ (demi Allah) oleh iblis, sang nabi tak perlu mengonfirmasi kebenarannya. Ketundukkan adalah jawabannya. Hingga akhirnya dialektika kehidupan dilanjutkan dalam kolong dunia ini. Integritas, rasa tanggung jawab pada panggilan kebaikan tidak ditentukan oleh dorongan eksternal. Ia lahir dari dalam diri, buah dari olah rasa kepasrahan total kepada Tuhan. Apakah kita masih melawan arus jalan ketika tak ada polisi?

Ketiga, iman dalam kemanusiaan hadir sebagai empati. Tentu tak sekadar rasa kasihan pada kaum papa. Empati melampaui rasa belas kasih itu. Empati merupakan sikap keterbukaan pikiran dan menghargai perbedaan.

Itulah iman, pondasi belajar yang seharusnya terbangun kokoh di benak anak didik kita. Di tengah perubahan yang memburu, iman lah yang tetap. Pijakan dan inspirasi untuk beramal saleh (inovasi), mengabarkan kebenaran, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan kesabaran menginsafi segala bentuk ujian Tuhan (wa’aamilushoolihaati watawaa shoubil haqqi watawaa shoubishobri).

Penulis: Muhammad Dopir
(Guru Matematika SMP Al Fath BSD)