Idul Fitri di Tengah Pandemi

320
Photo by nizar kauzar on Unsplash
Photo by nizar kauzar on Unsplash

Oleh: Taufiq Kurohman

(Santri PP. Darul A’mal Metro Lampung)

Indonesia, Negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini mempunya beberapa tradisi keagamaan yang tidak ditemui di Negara lain dan sangat terkenal di manca Negara, misalnya Sekaten Surakarta, tradisi Maulid Nabi yang diselenggarakan setiap tahun secara meriah di Keraton Surakarta, ada pula Tabok atau Tabuik, tradisi keagamaan masarakat melayu sumatera untuk mengenang kisah kepahlawanan dan gugurnya Hasan dan Husain Cucu Rasulullah SAW di Padang Karbala, dan yang terakhir adalah Idul Fitri atau Lebaran atau Halal bi Halal dengan rangkaian kegiatan pendukungnya.

Disini akan kita bahas soal tradisi ke ketiga, yaitu Idul Fitri atau Lebaran atau Halal bi Halal

Idul Fitri secara Bahasa artinya kembali suci, hal ini dimaksudkan karena sebelumnya ummat islam telah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh di mana dalam ramadhan banyak sekali amalan-amalan yang diyakini dapat menghapus dosa-dosa manusia yang telah lalu. Disamping juga terdapat hadits fadhoilul amal yang membagi bulan ramadhan dalam 3 fase, yaitu fase 10 hari pertama sebagai rahmat, sepuluh hari kedua sebagai maghfiroh, dan sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka.

Belum lagi adanya salah satu malam bulan ramadhan sebagai lailatul qadar, malam yang khairun min alfi syahr, lebih bagus dari seribu bulan. Jika dihitung maka ibadah pada malam lailatul qadar lebih bagus dari beribadah selama delapan puluhan tahun, umur yang cukup panjang bagi manusia saat ini pada umumnya.

Jadi wajar jika di ujung ramadhan, ummat islam khususnya di Indonesia merayakannya dan menyebutnya dengan istilah Idul Fitri karena merasa gembira telah kembali suci, suci lahir dan batin.

Istilah lain dari Idul Fitri adalah Lebaran. Kata ini mempunya beberapa makna, ada yang memaknai sebagai Pembebasan yang maksudnya bebas dari dosa baik dosa kepada Allah maupun dosa sesame manusia, ada yang memaknai lebaran sebagai kelapangan dada kita saling memaafkan antar sesama, ada pula yang memaknainya sebagai leburan, meleburnya sifat-sifat kesombongan karena telah berhasil melewati godaan selama ramadhan, dan sebagainya.

hal ini ditandai ketika lebaran masyarakat Indonesia biasanya merayakannya dengan saling bersalam-salaman, saling mengunjungi ssama sanak family, bahkan yang berada di luar kota, yang sedang merantaupun berusaha sekuat tenaga mengumpulkan dana untuk sekedar mudik dan merayakan lebaran di rumah atau di kampung halaman.

Nah.. budaya mudik ini pulalah yang hamper pasti menyebabkan kemacetan  lalu lintas yang luar biasa, arus mudik dan arus balik menjadi perhatian serius pemerintah khususnya aparat kepolisian dan Kementerian Perhubungan agar para pemudik bias lancar selama perjalanan sehingga bias berlebaran di kampung halaman, sungkem dengan orang tua dan handai taulan, dan kemudian bias dengan aman kembali ke perantauan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Istilah lain atau yang merupakan rangkaian dari Idul Fitri adalah Halal bi Halal, yaitu upaya meminta halal atau meminta maaf dan memaafkan Antara anak dan orang tua, sanak family, serta handai taulan dan sanak kerabat.

Namun.. lebaran tahun ini dipastikan akan beda dari tahun-tahun sebelumnya, Yaa kita akan merayakan lebaran di tengah Pandemi Covid 19. Pemerintah dan para tokoh agama sudah mengeluarkan kebijakan dan himbauan larangan mudik, larangan sholat Ied di masjid, dan larangan anjuran untuk silaturrahim secara daring, sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid19 yang masih massif di Indonesia. Hal ini tentu akan menjadi hal yang baru bagi masyarakat Indonesia.

Lantas bagaimana sebaiknya kita merayakan Idul Fitri di tengah Pandemi?

Terdapat sebuah maqolah yang sangat masyhur tentang Idul Fitri yang berbunyi

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن تقواه يزيد

Idul Fitri bukanlah bagi orang yang bisa memakai baju baru, tetapi idul fitri sebenarnya bagi orang-orang yang bertambah ketaqwaannya kepada Allah.

Acapkali momen mudik dan silaturrahim saat idul fitri dijadikan sebagai panggung unjuk kebolehan, orang tua akan merasa bangga jika anaknya mudik dengan membawa jenis kendaraan tertentu, dengan membawa serta anak cucu yang lucu-lucu, anak pun akan merasa bangga jika ketika Idul Fitri tiba bias memarkir kendaraannya berderet di depan rumah orang tuanya di kampung, memakai baju dengan model terbaru ala artis-artis top ibukota tempatnya bekerja, dan seterusnya.

Hal ini yang dikhawatirkan akan menyinggung perasaan orang lain, kaum papa dan dhu’afa, yang jangankan kendaraan, baju pun mereka memakai baju lebaran tahun lalu, kue pun mereka mengolah hasil bumi apa adanya di sekitaran rumahnya seperti keripik singkong dan saudara-saudaranya.

Maka momen Pandemi Covid 19 ini mestinya menjadi sarana kita untuk secara benar memaknai Idul Fitri, lebaran, dan halal bi halal, gembiranya yang kaya tidak menyakiti yang papa, bahagianya keluarga besar dengan puluhan anak cucu tidak menyedihkan mereka yang sebatang kara, kita semua sama, merayakan Idul Fitri di rumah saja, berbagi makanan dengan yang terdekat saja, tidak perlu berkendara dan berbaju baru, dan semoga Covid19 ini segera berlalu, atau paling tidak mari kita siapkan kehidupan kenormalan yang baru.