Hikmah Puasa Sebagai Upaya untuk Sadar Diri

176
diri
Foto oleh Hebert Santos dari Pexels

Ramadan, sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan, adalah bulan yang dianggap sebagai bulan penebusan dosa dosa atas masa lalu dan juga bulan yang dilipat-lipatkan pahala atas amal yang seseorang perbuat.

Banyak sekali amal perbuatan yang mempunyai fadhilah atau keutamaan tersendiri di bulan Ramadan, Baik amal secara spiritual ataupun amal sosial,  semua mempunyai keberkahan dan ganjarannya sesuai dengan amal dan niat mereka.

Baca juga: Belajar dari Tokoh Dinda dalam film “Kisah untuk Geri”

Dan tak lupa pula, Bagi mereka yang ingin meringankan dosa dan memberatkan pahalanya, Disinilah momentum yang pas dan cocok.

Dalam kitab Maqoshidus shoum disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda,

“رمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن,  إذا اجتنبت الكبائر”

Yang maksudnya, Puasa di Bulan Ramadan dapat menjadi pelebur dosa kita yang kita lakukan  dari Bulan Ramadan sebelumnya, dengan syarat dimana kita menjauhi dosa Besar. Insyaallah dosa dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt asal kita membawa hati yang bersih dan pikiran yang positif ketika berdoa dan beramal di bulan yang sungguh amat suci ini.

Disisi lain, puasa adalah ibadah yang dimana Allah sendiri lah yang menjadi garantor atas balasan ibadah satu ini,

Yang artinya balasan atas puasa itu tak terbatas, kok bisa?

Karena garantor nya sendiripun adalah DIA yang Maha Dari segala nya. Betapa agungnya ganjaran Puasa,  Masyaallah.

Tapi, jangan lupa juga, kalau puasa pun juga punya hierarki dalam kualitas ibadahnya. Ibarat sekolah, ada puasa siswa kelas Dasar,  kelas menengah  dan kelas mahasiwa perguruan tinggi

Tiga Tingkatan dalam Puasa

Para ulama membagi puasa menjadi 3 tingkatan, tingkatanya sebagai berikut:

Puasa am, adalah mereka yang berpuasa hanya kerana menahan lapar dan haus aja,  sederhananya puasa karena terjebak kondisi kewajiban dan tuntutan agama.

Puasa khos, adalah mereka yang berpuasa lebih dari sekedar menahan haus dan lapar,  Disini mereka sudah bisa untuk menjaga indera indera di tubuh nya untuk tidak melakukan hal hal yang dilarang.

Khowasul khowas, nah kalau ini puasa ala Nabi dan RasulNya yang tak mungkin kita mampu kerjakan.

Mana yang kita pilih?

Atau bahkan dimana letak derajat puasa kita saat ini?
Nyaman di puasa am,  ataukah ada effort untuk naik derajat puasa khos?
Toh, bisa terlihat dari keseharian yang kita jalani selama kita berpuasa.

Cara Menganalisa Diri Sendiri

Untuk menganalisa diri sendiri, setidaknya kita dapat melihat diri kita sendiri dari 3 aspek, yakni:
Pertama, Pikiran dari apa yang kita pikirkan dan bagaimana sudut pandang kita.

Kedua, Hati bagaimana keadaan atau ahwal hati,  luas atau sempit kah? Dan juga dalam berprasangka.

Ketiga, aspek amal atau behaviour,  yakni tingkah laku kita sebagai manifestasi kedua hal sebelumnya.

Ketiga aspek penting ini tersimpul dan terjaga pada satu kata yang menjadi tolak ukur, yakni Niat yang akan membuat kita Sadar diri bahwa Allah lah yang maha kuasa atas diri kita dan dunia yang kita tempati.

Bagaimana kita tidak sadar, ketika berpuasa dalam kondisi haus dan perut yang lapar,  kita mengerti dan menjajaki lapar, sehingga timbullah rasa sadar bagi kita yang berpuasa untuk berbagi makanan bagi mereka yang membutuhkan. Dimana hal inj berasal dari ibadah yang menahan hawa nafsu makan dan fungsi indrawi demi sebuah perintah agama.

Semakin tertata hati dan tujuan amal kita,  semakin kita sadar diri kita. Maka sampailah pesan Ilahiah kepada sanubari jika kita mampu menyadarkan diri yang saat ini sedang pingsan dan mabuk akan hal fana.

Penulis: Muhammad Syaefullah
(Pengurus Pondok Pesantren Darus Sofwah)